Sayang....
Kita adalah sepasang sepatu yang angkuh
Nekat melawan arus waktu namun tumbang tersandung kepedihan
Memang, Kepedihan lah yang mempertemukan kita. Memperkenalkan kita sebagai sepasang sepatu tua yang diayun ayun takdir usang. Hidup kita adalah petualangan setengah airmata setengah dusta dan kita hampir merampungkan separuh perjalanan sambil membayangkan mengapa udara yang kita hirup dan hembuskan, hanya bisa kita rasakan dengan pikiran mengambang?
Sayang ...........
Apakah kita harus berhenti disini? Di mimpi yang membuat hidup kita sangat nyenyak. Langkah sepatu kita kian jauh. Jauh melanglang- melangkahi berjalan- menapaki , menjauh dari kenyamanan yang sukar kita sentuh. Kebahagiaan mungkin hanya pil pahit yang membuat hati kita semakin sakit?
Kita adalah sepasang sepatu....
Bertemu, berkenalan, berjalan berdampingan menempuh perjalanan waktu yang rapuh. Saat tiba diruang tunggu, kita diam mencemaskan nomer tempat duduk dan waktu keberangkatan. Sayang! katamu,” Jangan pernah menyerah! kita hanya perlu memastikan kota tujuan, selama bepergian ke tempat yang sama.................kita berdua adalah sepasang sepatu yang sempurna”
Berlari ke arah waktu, bukan berarti terbuang dan menjauh....
Sebelah sepatuku manalah mungkin bermakna bila langkah kakimu tak menemaninya?
(Bekasi, 09 Januari 2013)