Sunday, January 30, 2011

Kembang Api





Yang menggambar di langit ungu itu
Bukan tangan para dewa
Adalah  pecahan cahaya yang berkejaran, berlompatan dan bersilangan
Bagaikan gelombang  bergulung-gulung di kedalaman malam

Yang menyihir mataku itu
Bukan getar api, bukan sayap bidadari
Adalah senyummu  yang meledakkan angkasa menjadi kepingan  semerah bara, sewarna darah, sehangat jubah, seteguh doa, sebait kata….
Lebih tinggi dari langit, lebih luas dari laut, lebih dalam dari kelam, lebih jauh dari angkuh
Tapi bukan karena kata aku terpesona.
(Kilat percik  api di dinding sepi, telah merembak ke detak nadi adalah hening yang kerap bicara bahwa ribuan senja telah kau curi, agar masa lalu bisa terbeli )

Lalu apakah  yang meledak berkali-kali?
Telah merampas terang ke jalan pulang
Itukah  kembang api? atau sebaris jampi-jampi?
Telah membutakan mataku dan
Menyihirku menjadi putri

Friday, January 28, 2011

Benua Baru



Dalam pikiranku, aku menemukannya. Sebuah benua baru. Warna nya seperti langit yang terbenam. Nyalanya tak ubah lilin yang nyaris padam. Sangat  sederhana. Nyaris tak terpikir telah begitu lama ia terkurung dalam gelap pikiran. Bersembunyi dari sekian juta kerlip bintang.

Disana, aku ingin membangun sebuah rumah sederhana, untuk kita berdua. Dengan pintu dan jendela yang tahan akan bentur   taufan dan dera celaan.  Setiap sore kita akan duduk bersama, menikmati 2 cangkir teh  hangat dan sepiring penuh doa-doa. Tak perlu banyak bicara. Getar  angin dan gelombang  udara, harum gerimis dan wangi tanah…senja yang sempurna!!

Pada pekarangan depan  ku tanam sayuran:  kubis, kangkung, tomat , bayam dan jagung. Kuharap tumbuh subur walau hanya disiram kata-kata, diterangi cahaya surya…aku  bukan petani, hanya perempuan yang kerap menagih  janji…

Di pekarangan belakang, aku akan beternak!…memelihara kodok hijau, jangkrik dan kunang-kunang. Bila hujan datang dan listrik padam, kuning-kuning  akan berpendaran di langit malam, kodok dan jangkrik bernyanyian.  Kerlap kerlip kerlap berkelebat…Bayangkan, ..kita  tak lagi  butuh kafe,pub atau  dunia gemerlap.

Di sini  batas waktu tak lagi bisa terbaca. Antara siang dan malam, sore dan pagi , antara suram dan sunyi. Detik jam berjalan pelan, hingga kau merasa langkahnya nyaris terbang. Musim, hanyalah sekumpulan kenangan dari semisal kejadian  dimana  hujan jatuh di  dadamu yang  telanjang.    
                           
Ah, sayang...Benuaku itu adalah jalan  pulang……menuju sisa usia yang tak lagi panjang.                                  

Wednesday, January 26, 2011

Puncak Menara


                      

Berada di puncak menara, 1500 meter dari permukaan tanah. Ada rasa gamang, tapi sangatlah tenang. Aku bahkan tak mendengar apa-apa selain sedenting jatuh airmata

(disini aku teringat dongeng putri tidur yang menanti pangeran pujaan hati, menyelamatkannya dari si  peri sakti)

Di puncak menara kesunyian adalah lagu paling kelu, tanpa kata-kata tapi mengalun berirama.  Hanya orang yang punya  hati yang sanggup mengerti….

Berada di ketinggian seperti melihat seluruh dunia. Segalanya tampak kecil. Batu-batu bagai kerikil. Manusia seperti kurcaci kerdil. Dan aku sendiri merasa begitu terpencil . Terperangkap dalam jurang waktu . segala yang datang, akan pergi  dengan segera .. tanpa senyum dan kata berpisah. Tanpa  sapaan dan hangat pelukan. Cepat berlalu. Berlarinya buru-buru. Dan kemudian saat tersadar …ternyata aku tak pernah kemana-mana selain diketinggian. Dipeluk kesepian. 

Di puncak menara akulah putri yang susah tidur. Berpanjang malam  kutabung mimpi dalam lembar-lembar puisi. Aku belajar mengucap mantra,  berkawan dengan kata-kata, karena mungkin hanya kata dan mantra yang mengerti  arti mengalah dan juga kalah ..

(Ah, pangeran….jujur saja, aku tak butuh senyummu yang kelu dan ciummu yang palsu. Kau punya 24 jam, 30 menit dan 50 detik, sisa waktu…..agar puisi ini tak  luruh menjadi abu).

Di puncak menara….. hanya bayanganmu mengetuk pintu.