Yang menggambar di langit ungu itu
Bukan tangan para dewa
Adalah pecahan cahaya
yang berkejaran, berlompatan dan bersilangan
Bagaikan gelombang
bergulung-gulung di kedalaman malam
Yang menyihir mataku itu
Bukan getar api, bukan sayap bidadari
Adalah senyummu yang meledakkan
angkasa menjadi kepingan semerah bara,
sewarna darah, sehangat jubah, seteguh doa, sebait kata….
Lebih tinggi dari langit, lebih luas dari laut, lebih dalam
dari kelam, lebih jauh dari angkuh
Tapi bukan karena kata aku terpesona.
(Kilat percik api di
dinding sepi, telah merembak ke detak nadi adalah hening yang kerap bicara
bahwa ribuan senja telah kau curi, agar masa lalu bisa terbeli )
Lalu apakah yang meledak berkali-kali?
Telah merampas terang ke jalan pulang
Itukah kembang api? atau sebaris jampi-jampi?
Telah membutakan mataku dan
Menyihirku menjadi putri
No comments:
Post a Comment