00:30 Selamat pagi, ini dini hari. Waktu yang tepat menjaring kata yang lewat. Atau
sekedar duduk termangu ditemani
lagu-lagu yang syairnya berirama mengeluh entah karena sepi atau menghayati
Aku mengenang dirimu.
30810 21:00 tercatat sebagai waktu yang
bisa kuingat dari sepenggal cerita tentang pengembara yang hanya singgah
sebentar dalam pikiranku yang samar. Mengantar cinta, singgah tak lama, dan
seperti kapal dengan layar lebar-lebar, mengibaskannya berkali-kali, miring dan
tegak lagi, tenggelam dan muncul kembali: Tapi angin mana yang tak dapat membaca isyaratnya? bahwa itulah tanda
luka dari sebuah senja yang berdarah…?
30hari 20jam dan 30menit serta sekian detik…aku tak kan
lupa. Dikau lelaki, dan aku berlari mengejar mimpi. Menabung sekian banyak
rencana, tapi lupa membersihkan embun yang menempel di kaca-kaca jendela. Tentang
hujan, tentang laut, tentang kabut, …hatiku kalut. Mengapa tak jua kau paham
bahwa ukuran cinta adalah percaya dan bukan meyakini yang masih barangkali??
2011-20xx tak ada batas yang sanggup meretas. Waktu hanyalah
bunyi dari detak jantungku yang sunyi. Memendam rahasia yang akan terbawa tua
seperti warna uban di kepala. Ahh..Kekasih, andai aku Savitri
yang sanggup memberi makna pada
kesetiaan, maukah kau menjelma Sri Paduka Rama yang rela mengubah keputusan? Keputusan
untuk melupakan, melupakan untuk menghancurkan kutukan? ….karena cintaku abadi,
cinta yang teruji api.
00:45 ini dini hari.
Tak tau kah kau, aku
purba,karena pandai menyimpan
sejarah. Bila ku habis habisan mencintaimu, jatuh bangun mengejarmu (persis
seperti judul lagu yang di nyanyikan
dengan gaya seronok oleh penyanyi dengan bibir medok), rela memahat kenangan digaris tanganku,…hmmmm,
maukah kau tetap menungguku , di kelokan ke3
simpang jalan, pada sebuah cuaca yang mengharukan, tepat di lorong waktu
yang panjang…..
kala itu kaki hujan
menari di sudut pelangi….temuilah aku disana!
Sebuah pesanan puisi bagi seorang teman
ReplyDelete