Friday, May 27, 2011

Sajak Bingung


Saat mengingat dirimu, aku terkenang. Saat terkenang, aku terbang…. Melayang, meninggi, membumbung, menyentuh ujung cahaya paling ungu, untuk kemudian, tidak ingin mengingat apa-apa lagi.

Pikirku, akulah  pohon yang menjulang melampaui menara dan gedung—gedung tinggi. Melewati katedral dan puncak gunung paling sunyi. Berputar dan melingkar, mengulur dan menjulur menyembunyikan takdir pada hijau tambun daun. Menari dan melenggang, menabur benih kisah pada geletar liat batang

Kira-kira, kemana pergi kenangan yang kerap bergelangtungan di pucuk-pucuk rimbun?

Duh, sayang sekali….perjalanan waktu hanya singgah sesaat. Terhisap getah dahan lalu mengalir ke akar, ke tanah. Dan  hilang. Pastilah karena ia pandai merahasiakan ratusan peristiwa tapi lupa menyimpan, cepat melupakan.

Pikirku, akulah pohon yang merampas laju angin dari lajur tempuh musim. Meledakkan kembang api dan mercon ke udara juga menyalakan lampion, seolah malam bisa dikecoh oleh jutaan cahaya.

Tapi aku salah mengira…
Ternyata aku hanya ngengat, yang menyekap dan memikatmu dengan haru biru sayap. Atau mungkin juga aku kepik, kupu-kupu atau kumbang yang lihai menghisap serbuk sari. Mungkin pula aku hanya gerimis, atau matahari, atau rintik hujan yang menitik??

Atau bisa jadi aku bukan apa-apa….

Aku hanyalah sepotong sajak yang bingung mencari. Pada kalimatku seharusnya tertulis “Telah hilang seorang kekasih, dengan ciri-ciri:  hidung mancung kulit bersih, dia pergi sambil membawa sepotong hati…”


Bekasi, akhir November 2010

Tuesday, May 24, 2011

M a n t r a



Ini perjalanan kata dari sebuah kota bernama Sihanouk Ville di dataran rendah  Cambodia dan berakhir di celah hati 


Menghitung  berapa pagi dan berapa malam dan berapa kali matahari dimatanya sudi  mengaram. Barangkali sehabis sarapan, ia memutuskan beristirahat diruang tunggu sebuah gedung pertunjukan yang baru saja menggelar pentas drama kolosal:Mahabrata. Kemudian, ia  menarik nafas panjang untuk meredakan gelisah hatinya sendiri karena ternyata yang baru saja berlakon diatas panggung ini tak lain adalah jiwanya yang sepi


Betapa kata-kata terlalu panjang  berjejal  dalam kepala. 

(sampai di sini  kayak ga nyambung. ada yang kata yang hilang terputus dari rangkaian kalimat sehingga  terasa diam, kosong.  mungkin karena kata juga bisa berontak memaksa untuk mendirikan negeri dari  kamusnya sendiri-tapi sungguh ia tak peduli ) Terlalu sunyi karena ia pandai sembunyi, terlalu ragu karena ia suka ungu ,terlalu  mantra karena membilang nama-nama,  terlalu putih hingga tubuh kata  mengira ini  sarang laba-laba? Ataukah  daun hijau tua? atau mimpi  yang patah sayapnya? Atau anak  lelaki  yang lupa pada silsilah? walau  akhirnya dirinya menyadari , ia   hanya sekumpulan kata yang mencoba mengelabui mataku yang hanya percaya bahwa dirimu adalah  penyair  buta, yang tak jua mengerti mengapa mantra dan doa berbeda karena harus di lafalkan  dengan terbata?


Lalu aku memberanikan diri bertanya: “ ini kata siapa punya?mengapa malam sekali kau datang?”
Ia menjawabku: “ aku bebas bertualang, karena ayahku bernama mbang”




                                                       

Sunday, May 22, 2011

Catatan Waktu







00:30 Selamat  pagi,  ini dini hari. Waktu  yang tepat menjaring kata yang lewat. Atau sekedar  duduk termangu ditemani lagu-lagu yang syairnya berirama mengeluh entah karena sepi atau menghayati

 Aku mengenang dirimu. 30810 21:00 tercatat sebagai waktu yang  bisa kuingat dari sepenggal cerita tentang pengembara yang hanya singgah sebentar dalam pikiranku yang samar. Mengantar cinta, singgah tak lama, dan seperti kapal dengan layar lebar-lebar, mengibaskannya berkali-kali, miring dan tegak lagi, tenggelam dan muncul kembali: Tapi  angin mana yang tak  dapat membaca isyaratnya? bahwa itulah tanda luka dari sebuah senja yang berdarah…?


30hari 20jam dan 30menit serta sekian detik…aku tak kan lupa. Dikau lelaki, dan aku berlari mengejar mimpi. Menabung sekian banyak rencana, tapi lupa membersihkan embun yang menempel di kaca-kaca jendela. Tentang hujan, tentang laut, tentang kabut, …hatiku kalut. Mengapa tak jua kau paham bahwa ukuran cinta adalah percaya dan bukan meyakini yang masih barangkali??


2011-20xx tak ada batas yang sanggup meretas. Waktu hanyalah bunyi dari detak jantungku yang sunyi. Memendam rahasia yang akan terbawa tua seperti warna uban di kepala. Ahh..Kekasih, andai aku   Savitri yang sanggup  memberi makna pada kesetiaan, maukah kau menjelma Sri Paduka  Rama yang rela mengubah keputusan? Keputusan untuk melupakan, melupakan untuk menghancurkan kutukan? ….karena cintaku abadi, cinta yang teruji api.


00:45 ini dini hari.
Tak tau kah kau, aku  purba,karena  pandai menyimpan sejarah. Bila ku habis habisan mencintaimu, jatuh bangun mengejarmu (persis seperti  judul lagu yang di nyanyikan dengan gaya seronok oleh penyanyi dengan bibir medok), rela  memahat kenangan digaris tanganku,…hmmmm, maukah kau tetap menungguku , di kelokan ke3  simpang jalan, pada sebuah cuaca yang mengharukan, tepat di lorong waktu yang panjang…..


kala itu kaki hujan menari di  sudut   pelangi….temuilah aku disana!