Saat mengingat dirimu, aku terkenang. Saat terkenang, aku
terbang…. Melayang, meninggi, membumbung, menyentuh ujung cahaya paling ungu,
untuk kemudian, tidak ingin mengingat apa-apa lagi.
Pikirku, akulah pohon
yang menjulang melampaui menara dan gedung—gedung tinggi. Melewati katedral dan
puncak gunung paling sunyi. Berputar dan melingkar, mengulur dan menjulur
menyembunyikan takdir pada hijau tambun daun. Menari dan melenggang, menabur
benih kisah pada geletar liat batang
Kira-kira, kemana pergi kenangan yang kerap bergelangtungan
di pucuk-pucuk rimbun?
Duh, sayang sekali….perjalanan waktu hanya singgah sesaat.
Terhisap getah dahan lalu mengalir ke akar, ke tanah. Dan hilang. Pastilah karena ia pandai merahasiakan
ratusan peristiwa tapi lupa menyimpan, cepat melupakan.
Pikirku, akulah pohon yang merampas laju angin dari lajur
tempuh musim. Meledakkan kembang api dan mercon ke udara juga menyalakan
lampion, seolah malam bisa dikecoh oleh jutaan cahaya.
Tapi aku salah mengira…
Ternyata aku hanya ngengat, yang menyekap dan memikatmu
dengan haru biru sayap. Atau mungkin juga aku kepik, kupu-kupu atau kumbang
yang lihai menghisap serbuk sari. Mungkin pula aku hanya gerimis, atau
matahari, atau rintik hujan yang menitik??
Atau bisa jadi aku bukan apa-apa….
Aku hanyalah sepotong sajak yang bingung mencari. Pada
kalimatku seharusnya tertulis “Telah hilang seorang kekasih, dengan ciri-ciri: hidung mancung kulit bersih, dia pergi sambil
membawa sepotong hati…”
Bekasi, akhir November 2010
Bekasi, akhir November 2010