Friday, November 26, 2010

DEBU



 Tuhan, akhirnya aku mengerti. Bagaimana menjadi abu, merupa debu. Hinggap di pohon randu, pagar kayu dan pinggir sepatu. Terkibas lepas, terpiuh jauh, terpental bagai sebutir peluru. Dan saat angin mengambil bagiannya, debu hanya debu…tak terekam kehidupan


Tuhan, debuku luruh di tanganMu. Mencari seribu jalan untuk melayang  namun kulai sebelum sampai. Lantas mataMu menjarahku, merajahku dan menelanjangiku hingga aku, debu harus diam atau mengaram?


Di cakrawala debu tak terbaca. Tersamar dalam kuning cahaya. Mengarungi orbit matahari tapi hampir mati di ujung jemari. Menjauhi dunia dan hidup dalam doa-doa, membuat aku menjelma mantra yang berlompatan dalam kitab dan kidung  agung. Namun debu bukan teluh. Yang sanggup membubuhkan luka di wajahmu. 


Tuhan, dalam waktu yang panjang aku tiba juga. Pada jalanjalan penuh kelokan. Sebelum aku gugur oleh ragu, katakanlah: aku  ini debu….arah mana sebaiknya  menuju?


Bekasi, 2010

Wednesday, November 17, 2010

Pantai Parangtritis




Apa makna Parangtritis bagimu? Jejak kita pernah bertebar serak di pasirnya  Lalu gulungan ombak dengan ringan menghapusnya hilang. Membasahi kaki kita dan menggulung habis  setiap senja yang kita tanam.  Matamu jingga dan senyummu merah ..

”Jangan pernah berhenti”bisikmu terbawa langkah angin

Apa makna Parangtritis bagimu? Sesungguhnya ia telah mengingatkan : arah angin janganlah dilawan, akhiri sebelum perih. Tapi, langkah kita tak jua surut. Berharap kisah tak cuma berujung di riwayat. Berandai-andai, bila mimpi kita tak kan larut oleh karat asin laut, dan cinta kita tak kan runtuh  dirajah tubuh waktu. 

(Tapi dasar!! Waktu memang penghianat nomer satu. Dan ternyata mimpi tercatat sebagai bunga tidur yang kerap bicara dusta)

Pada kenyataannya, kita berhenti sampai disini. Langkah kita  renta. Ragu: antara enggan  atau maju. Meredam segala hasrat agar luka berhenti menganga. Berhenti memerah. Hilang kata. Kering segala. Tak mampu lagi menembus batas cahaya, yang dulu menghadirkan warna. 

Apa makna Parangtritis bagimu? Di pasirnya aku menggali kuburan bagi kata-kata, bagi janji kita. Melarutkan jarak agar bagimu jejakku tak lagi terlacak. Dan untuk yang terakhir kali, menulis sajak di butiran pasir  “aku  tak kan pernah berhenti”


Di pantai Parangtritis, angin membawanya pergi…..


Jogja, 10 September 2010

Friday, November 5, 2010

Cinta Di Mana-Mana



Saat kau melihat wajah cinta…tersenyumlah
Meski  hati berkata  enggan
Karena orang rela menukar segala,  pun harga dirinya
Demi sepotong cinta

Jika kau terluka karena cinta
Bertahanlah….sakitnya tak akan lama
Saat kau pulih nanti
Hatimu belajar menjadi lebih baja
Dari sebelumnya……..

Tenggelam  kau  dalam cinta…
Nikmatilah cinta…
Usia bukan musuh dari cinta,
Bahkan kematian tak sanggup menghentikannya
Cinta itu abadi……….dan
Abadilah cinta………


I
 Reda, Tatas dan Mikael
Mereka bertiga bersaudara.  Lahir dari rahim yang sama. Bukan kembar 3. Reda, wanita, lahir 5 tahun lebih dulu dari Tatas dan 11 tahun lebih tua dari Mikael. Kedua nama terakhir adalah lelaki yang dipanggilnya dengan sebutan adik. Terlahir dari garis keturuanan yang sama tidak otomatis  membuat semua seragam dan seia sekata. Ternyata banyak perbedaan. Terutama saat mereka telah dewasa. Saat mereka masing-masing telah menikah. Dunia tidak lagi sempit dan hanya seputar main petak umpet dan lompat tali. Atau rebutan main sepeda yang hanya satu dan dipaksa  untuk digilir bertiga. Atau siapa yang harus bangun lebih dulu dari siapa dipagi hari, mandi lantas  sarapan pagi dan pergi sekolah, sementara kalau mendapat giliran berikutnya, tentu bisa melanjutkan kegiatan melingkar-lingkar dibawah selimut yang lembut dan  hangat.
Reda, temperamental. Manja dan selalu mau menang sendiri. Diantara mereka bertiga dia selalu merasa, dialah Golda Meir si tangan besi dari Israel. 5 tahun tanpa kehadiran kompetitor membuat Reda selalu berhasil memonopoli perhatian ayah dan ibu. Anak kesayangan, sulung, dan wanita satu-satunya.
Kehadiran  bungsu,Mikael yang tak pernah direncanakan. Wujud kesalahan  perhitungan orangtua yang seharusnya mentaati himbauan pemerintah untuk hanya 2 anak cukup, membuat ketenangan Reda sangat terganggu. Tak dinyana, roti yang tadi cukuplah dibagi 2 sekarang, masing-masing harus puas dengan sepertiga. Lebih banyak lagi mempelajari nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan dan sosial. ‘jangan egois, harus berbagi, jangan bertengkar,banyak mengalah, salinglah kalian tolong menolong, bantu adik, saling sayang, jangan ini jangan itu, saling ini, saling itu’  Aturan dan nilai yang diterapkan dan diajarkan semenjak Mikael lahir membuat, bungsu itu terpelihara layaknya anak raja yang diproteksi habis-habisan. Membuat dia besar kepala dan lebih manja dari si manja Reda.
Dan di jajaran tengahnya ada Tatas, lahir diwaktu yang tanggung, sungguh sangat tidak untung. Tak pernah menang dari kakak perempuannya yang manja, tapi juga cenderung terus mengalah bagi si bungsu yang lahirnya sama sekali tak di prediksikan. Susah mendapat perhatian orang tua. Dari kecil, bila ia menginginkan sesuatu yang kebetulan juga diinginkan Reda, sudah otomatis, dia tak kan  pernah mendapatkannya. Ayah atau ibunya akan memberi pengertian panjang lebar yang intinya sangat singkat, ‘ngalah aja ya sayang, sama kakakmu’. Kalau kebetulan yang jadi saingan bermainnya itu si bungsu, nasibnya tidak akan lebih baik. Sebelas dua belas, sami mawon. Jadi sepanjang hidupnya, dia hanya tahu, kalau kepentok  masalah dengan 2 saudaranya, ujung-ujungnya dialah yang akan mundur teratur. Mengalah sajalah……
Kini dunia sempit dan kecil yang mereka lihat dari perspektif mereka yang sederhana telah berubah. Mengalah bagi Tatas ternyata memiliki batas. Kalau mengalah dulu dianggapnya sebagai sebuah pembatasan  atas hak memiliki sesuatu karena posisinya yang tak menguntungkan, maka kini dia tak ingin menjadi pihak yang terus ditindas dan dianggap tak penting. Harusnya diapun adalah anak yang posisinya  sama penting  dengan ke-2 saudaranya. Kini saatnya perubahan.
Reda dan Mikael belajar banyak hal. Terutama soal mengalah dan saling sayang yang di susupkan di kepala mereka sejak kecil. Asupan kasih sayang yang berlebihan ternyata tak selamanya berakibat deviasi perilaku. Hubungan persaudaraan  keduanya  lebih erat dari simpul. Saling berbagi, saling mengerti, dan saling mengalah. Tapi, keputusan si Tengah untuk berubah  menjadi ‘orang yang layak diperhitungkan’ dalam keluarga menjadi sebuah awal perpecahan. Mungkin perlulah kita belajar dari buku bijak ‘saat kita melepaskan hak, justru kita akan memperolehnya dan sebaliknya bila kita menuntut hak, maka  kita telah kehilangan banyak hal’
Menjauhkan diri dari keluarga. Tak pernah lagi peduli dan tak mau tahu apapun yang terjadi. Saat kemalangan dan juga pertemuan penting, si Tengah itu seperti raib entah kemana. Kalian bukan siapa-siapa lagi, sepertinya, itu yang hendak disuarakannya. Karena sepanjang  masa kecilnya, ia telah lelah dipaksa mengalah terus-terusan. Itulah konsep ‘berubah’ala Tatas.
Reda mulai menyadari itu. adik tengahnya itu telah jauh. Tak mampan lagi dikhotbai, dinasehati, apalagi dipahami. Sementara, si bungsu sadar, saat kecil bermain perang-perangan lalu tertembak, menyerah dan kalah adalah yang sering terjadi di pihak Tatas. Sekarang, perang itu memang belum meletus, tapi aura kemarahan dan sakit hati sudah merebak dan terlihat kasat mata. Hubungan mereka  bertiga semakin kusut dan rumit. Bahkan untuk bersandiwara di depan orang, agar terlihat baik-baik saja,  susahnya bukan main. Gengsi. Harga diri. Nilai ‘mengalah’ yang berusaha dulu  diwariskan orangtua sebagai tambahan budi pekerti ,sekarang telah luntur tercuci keegoisan dan arogansi.
Lalu, Reda sakit. Ada kanker di payudara kirinya. Benjolan yang dipikirnya hanya kelenjar airsusu itu ternyata benih kanker ganas yang telah bercokol berpuluh tahun. Tak ada jalan keluar selain operasi. Itupun tidak menggaransi apa-apa. Artinya, di meja operasi, apapun bisa terjadi. Ini pil pahit bagi seluruh keluarga. Mikael yang memang anak manja, tak malu-malu menangis berurai airmata dihadapan kakak perempuan satu-satunya. Takut ia membayangkan kemungkinan terburuknya. Walaupun juga tak punya nyali untuk berandai-andai  ada mujisat  turun dari surga bagi kesembuhan kakaknya. Kondisi Reda buruk. Mungkin operasi itu jalan satu-satunya untuk membuat Reda tetap hidup atau justru mengakhirinya. Tak ada yang berani bertaruh selain mencoba.  Dan di hari menjelang   operasi, Reda ingat , adiknya tidak hanya satu. Tetapi dua. Masih ada Tatas. Walaupun, tak pernah sekalipun sejak ia di vonis dokter, Tatas datang melihatnya, tapi entah kenapa, ia ingin sekali bertemu.
“Tolong cari dia….aku ingin bertemu”pinta Reda memohon dengan sangat.
Akhirnya mereka bertemu. Di menit terakhir sebelum suster mendorongnya menuju kamar penentuan hidup dan mati, Tatas datang. Wajahnya kaku. Tegang.Berdiri seperti seorang ajudan presiden yang siap menerima perintah.  Tak ada kata keluar dari bibirnya yang beku.
Dan Reda tak punya  waktu untuk banyak menimbang-nimbang. Siapa yang seharusnya memulai atau siapa yang harusnya maju lebih dulu. Diraihnya tangan Tatas. Digenggamnya selama 5 menit, tanpa bicara. Karena memang  keduanya tak tahu harus bicara apa. Diam seolah mewakili berjuta-juta kata yang sempat hilang  bertahun-tahun. Diam yang hanya 5 menit itu bagi keduanya adalah bahasa hati yang artinya“maafkan aku, aku selalu sayang padamu”
Dan memang tepatlah Reda memanggil Tatas  untuk bertemu sebelum operasi itu dilakukan. Karena bila ia tak datang,  bila 5 menit dalam diam itu tak ada, maka berjam-jam sesudahnya, berhari-hari sesudahnya, bertahun-tahun sesudahnya, walaupun Tatas menyadari keangkuhannya dan ingin ‘mengalah’..sungguh, kesadaran itu tak kan banyak berguna. Karena Reda sudah pergi. Ia pergi dalam kedamaian.

II
Rachma dan Radith
Pasangan cinta yang memiliki nama dengan huruf depan yang sama, pastilah pasangan yang kompak dan serasi.  Sepertinya, itu hanya teori diatas kertas. 4 tahun bersama. Menjalin hubungan yang khusus dan dalam. Mereka berdua bukan lagi 2 anak muda yang sedang kasmaran. Cinta mereka dewasa. Tapi sayang, usia tak menjamin apa-apa. 4 tahun !!, Rachma merasa ia sedang mendaki gunung tinggi yang tak pernah ia jumpai puncaknya. Capek, terengah-engah dan sengsara. Manisnya hanya di 4 bulan pertama, selebihnya, ia menjadi tahu pribadi lelaki yang sempat membuat hatinya bergemuruh. Tak lebih dari seorang sakit jiwa yang bersarang dibalik wajah ganteng dan performance rapi jali.
Berjalan disisi Radith, Rachma merasa sebagai Jennifer Aniston yang tengah mengandeng  Brad Pitt . lelaki itu kelewat ganteng. Apalagi dengan kaos putih ketat , celana jeans serta kacamata Rayban super gelap. Ck ck ck …Bahkan nenek-nenek pun akan  iri melihatnya. Tapi kenyamanan suatu hubungan  bagi wanita bukanlah semata karena  penampilan luar. Tapi lebih kepada pancaran hati  yang mampu menciptakan suasana hangat dan damai. Dan Radith tak punya itu.
Lebam pertama, diterima Rachma setelah hubungan menginjak bulan ke 4. Persis melingkar di mata kirinya, hasil jep kanan Radith. Karena ia lupa meminta ijin  untuk tugas luar bersama teman pria kantornya. Hanya karena lupa! Akibatnya sungguh diluar dugaan. Begitulah sifat jelek Radith terungkap. Cemburu buta. Lalu selanjutnya, cakaran, tamparan, tendangan, jambakan, makian….tak henti-hentinya silih berganti , diterima Rachma. Kekerasan fisik dan verbal bak rutinitas wanita yang pergi kesalon. Hampir terjadi setiap minggu. Bahkan, untuk hal sepele plus remeh temeh saja, Gunung Merapi di dada Radith bisa memuntahkan lahar panas.Dan itu membuat Rachma  malu, sakit dan hancur bukan hanya terasa di hati saja tapi  hampir sekujur tubuhnya.
Radithpun tak mengerti, ia sangat mencintai Rachma. Tapi, sejujurnya antara keinginan  dan rasa sakit tertahan, mengapa sulit membedakannya. Ia sadar, dirinya sakit. Jiwanya terganggu. Hatinya miris memperlakukan pasangan cintanya seperti orang kesurupan. Memukul tak berhenti sebelum perempuan itu memohon-mohon ampun dan terhempas tanpa daya di sudut ruangan. Sejujurnya ia tak ingin. Tapi pun tak bisa menahan diri. Ia sakit jiwa.
Semua orang bicara, bahwa betapa tolol Rachma  masih tetap mempertahankan Radith. Masih tetap mencintainya dan berharap lelaki psyco itu kelak menikahinya. Bagi Rachma, statusnya yang janda dan vonis dokter bahwa ia adalah wanita mandul, cukup membuat dirinya sadar bahwa tak ada waktu untuk mencari lagi, bertahan dan menerima adalah bentuk  kesabaran yang diharapnya berbuah manis kelak dikemudian hari.
Dan Radith akan selalu mencintai wanita yang terus disakitinya itu,  karena  Rachmalah satu-satunya wanita yang mengerti bahwa penyakit jiwa yang dideritanya,  hanya bisa disembuhkan dengan kesabaran dan ketabahan. Sebuah simbiosis mutualisma yang mengerikan.

III
Vicky ….DAN
Pergi dan melupakan ..mungkin itu jauh lebih realistis daripada menunggu bagai pungguk merindukan bulan. DAN lelaki pujaan hati dan jiwa itu, memang sejak dulu tak pernah menggubris perasaannya. Sejak pertama bertemu di bangku SMA Vicky telah mengenal DAN, mereka berteman baik. Berlanjut di bangku kuliah dan diteruskan hingga masing-masing sibuk bekerja. DAN tak berubah. Dan  perasaan Vicky  juga tetap sama.
Tak pernah sedikitpun perempuan bermata bulat dengan senyum berhias lesung pipit yang manis itu, berhenti memberikan perhatian. 3x dalam sehari smsnya masuk ke hp DAN: ‘Apakah kau sudah makan?’. 2 hari sekali ia menelpon untuk menanyakan khabar. Seminggu sekali ia bertandang ke rumah lelaki pujaan hatinya itu, membawakan seloyang kue kismis yang dibuatnya sendiri. Sebulan sekali sehabis diterimanya gaji, ia akan berjalan-jalan di mall  menghabiskan malam sendiri, dan bila matanya terantuk pada sesuatu yang menarik perhatiannya entah itu : kaos kaki, sapu tangan, jam dinding, dompet, dasi, minyak wangi, sisir rambut, kemeja, buku…apa saja…yang mengingatnya pada lelaki pujaan hati dan jiwanya itu, ia akan membeli, membungkusnya dengan kertas kado berwarna biru, warna kesayangan DAN, dan kemudian  meletakkannya dengan manis  di depan pintu rumah DAN.  Semua itu bagai sebuah ritual kepercayaan  pada cinta sejati, yang yang tak pernah bosan dan tak sedetikpun lupa dilewatkan. Selalu demikian…selama bertahun-tahun.
Bagi DAN, kedatangan Vicky adalah kunjungan persahabatan sejati yang paling ia nantikan di akhir minggu. Apapun yang dilakukan wanita manis berlesung pipit itu tak sedikitpun mengganggunya. Membaca smsnya sehari 3x, kata-kata yang sama, sepertinya ia hanya me-resend pesan sehingga tidak terlalu merepotkan. Walaupun kadang ia menyempatkan menjawab, tapi lebih sering  terlupakan begitu saja. setiap 2 hari sekali, Rabu dan Kamis jam yang sama 12.30 WIB saat ia tengah makan siang dengan  teman kantornya, Vicky akan menelpon, hanya bertanya sebuah pertanyaan yang sama:’ Apa khabar DAN?kau sehat-sehat saja, bukan?’ dan setelah ia menjawab ‘Ya, aku baik-baik saja’, maka pembicaraan akan berhenti, dan ia melanjutkan kembali makan siangnya yang sempat terhenti. Tapi tak sedikitpun DAN berpikir bahwa itu hanya sebuah perhatian  basa-basi. Belum lagi kunjungan Vicky diakhir minggu dengan senyum penuh dan seloyang kue kismis favorit DAN, lalu hadiah-hadiah kecil yang tergeletak manis di depan pintu rumah  setiap akhir bulan. Begitu rutin. Begitu sama.
Tapi DAN tak pernah bertanya. Atas nama persahabatan yang ia junjung sangat tinggi sejak SMA dulu, ia tak mungkin menyakiti hati sahabat manisnya itu dengan pertanyaan-pertanyaan tak penting hanya untuk mengklarifikasi, adakah  udang yang tersembunyi di bebatuan? Selama Vicky senang melakukannya, DAN berusaha tidak terganggu samasekali.
Dan Vickypun  tak pernah berusaha menjelaskan apa-apa. Baginya, jaman boleh saja maju, tehnologi bisa saja berkembang, emansipasi  telah menyetarakan pria dan wanita pada satu garis yang sejajar, tapi adat ketimuran tetaplah  yang dipegangnya erat-erat. Tabu membuka mulut dan berkata í love u, terlebih dahulu. Itu wewenang pria. Karenanya,  atas nama cinta, bagi Vicky…pengorbanan sebesar apapun, pasti akan dilakukannya. Tak ada kata lelah, jemu, bosan, remuk,pilu bahkan saat DAN akhirnya menemukan ‘seseorang’yang menjadi pilihan hatinya. Dan seseorang itu bukan dirinya. Seseorang itu adalah Ve, sahabat karibnya sendiri.


IV
Ardy dan Nancy


Handphone berdering disaat yang sangat krusial. Jam 3 siang bolong di hari minggu. Saat dan waktu yang nyaman bagi Ardy  untuk tidur siang. Istirahat. Bisa terbayangkan malasnya tangan mengangkat dan mata terbuka untuk sekedar melihat dilayar hape, nama siapa yang tertera disana. Ternyata itu Nancy,istrinya.
“Ada apa…?” katanya malas, setengah mengantuk.
“Aku membangunkanmu? Maaf ya … aku hanya mau bilang, aku sudah sampai, salam sayang buat anak-anak ya..bye”
“Hmmm…”balasnya. Lalu, klik…pembicaraan selesai dan ia  melanjutkan kembali tidurnya.
Percakapan  suami istri yang telah terikat perkawinan 15 tahun itu , bagai teh pucat tanpa gula, tawar! Memberi kesan  bahwa semakin lama usia perkawinan, pembicaraan akan semakin singkat. kebanyakan ga nyambung, lola alias loadingnya lama  dan bikin emosi jiwa.  Isyarat dan bahasa tubuh sepertinya lebih efektif digunakan , seperti : melotot , semua tahu itu artinya tak suka. Menggeleng lebih dari 3x disertai bibir yang agak dimiring-miringkan mirip orang stroke ringan, itu artinya duhh, kelewatan banget sihh. Dan kalau ditambah berkacak pinggang dan gigi geligi saling berantukan,  arti yang lebih dalam lagi adalah sebentar lagi  pasti ada perang dunia ke-3. Kalaupun ada bahasa suara yang terdengar, itu tak lebih dari bunyi sengau hasil kerjasama tenggorokan,  mulut dan lidah yang berusaha menahan bunyi-bunyian yang akan keluar. Terdengar seperti : hmmmmm ( malas berkata : ya)  ihhhhhh (tidak suka) aghhhh (menolak dengan keras, ughhhhh (sedikit jengkel).
Jarang sekali Ardy dan Nancy, 2 manusia dewasa  itu duduk berdua layaknya manusia yang telah terdidik dan dibesarkan dalam peradaban , dapat berbicara dengan  cara yang adab pula, hingga masalah mereka tuntas dan mencapai kata sepakat untuk kemudian diimplementasikan dalam hidup rumahtangga. kebanyakan adalah, bila bicara baik-baik pasti  tak lebih dari beberapa menit saja, selebihnya …nancy akan berlalu cepat sambil membanting pintu kamar dan ardy akan berteriak “Kita belum selesai bicaraaaaa” Tapi terlambat. Bunyi braaaakkkk sudah sampai lebih dahulu di telinga.
Apa yang salah? Atau siapa yang salah? Keduanya  merasa berdiri di tempat yang benar. Emosi dan egois, 2 nama karakter busuk yang adalah musuh utama hubungan antar manusia,   telah menutup jalan menuju pemahaman nurani. Hati yang harusnya banyak bicara bagi pasangan suami istri itu, kini lebih berfungsi sebagai  laci , tempat menyimpan segala kesalahan dan uneg-uneg.
Diam dan acuh, bukan jalan keluar. Jelas itu. Tapi dibutuhkan kerendahan hati untuk memulai membuka diri. Membuka hati. Bicara dan mencari solusi.
Menurut Ardy:
“Aku ga ngerti nancy, semakin didiamkan malah semakin menjadi. Dia pikir aku berdiam artinya setuju. Aku diam dibacanya mendukung. Mana bisa begitu? Kalau aku ga pernah protes, saat dia terlalu banyak menghabiskan waktu untuk pekerjaan, itu karena aku ingin dia mikir sendiri. Sebagai perempuan walaupun punya dwifungsi, tapi tugas utama  dirumah samasekali tak boleh terbengkalai. Apalagi diabaikan. Aku males bicara. Ujung-ujungnya berkelahi. Hal sepele seperti ini harusnya ga perlu aku buang energy untuk ngasih tahu dia. Sadar sendirilah. Malahan akhir-akhir ini bisa 3-4 kali dalam seminggu tugas luar. Kayak lagi ngejar setoran aja. Bisa dia Cuma: titip salam sayang ya buat si kecil……aggggghhhh capek aku”
Saat masalah terasa bertambah tajam, Ardy mengambil inisiatif untuk mencari bantuan pihak ke-3. Seorang psykolog. Dan didepan istrinya ia menumpahkan semua kekesalannya yang menumpuk selama beberapa tahun belakangan. Sebenarnya yang jadi masalah adalah minimnya komunikasi. Itu saja.  Nancy terlihat begitu sibuknya sampai tak jua dapat membaca kegelisahan di sikap Ardy. Dan Ardypun terlalu gengsi untuk sekedar meminta waktu istrinya untuk bicara. karena itu, lebih baik ia memilih pertolongan sang ahli untuk mencari solusi bagi masalah mereka.
Dan diatas itu adalah  suara kejengkelan Ardy yang ditumpahkan di hadapan psykolog yang sudah dikunjunginya beberapa kali belakangan ini.Dan demi mendengar itu, kontan Nancy melotot.  Salah satu bahasa tubuh yang sering digunakanya bila tak suka akan sesuatu.
Menurut Nancy, saat gilirannya tiba untuk bicara : (nafasnya diatur satu-satu agar terkesan ia dapat mengendalikan situasi. Agak kesal juga mendengar bicara Ardy.Tadinya dia ingin langsung membantah tapi dr Rahman Ibrahim, Spsi tersenyum kearahnya dan melakukan isyarat mata dan tangan yang harusnya dipahami seperti ini: ‘sabar, jeung! Ini bukan sidang paripurna yang marak dengan intrupsi.tunggu giliran, ya’. Nancypun  urung membuka mulutnya untuk membalas  serangan Ardy, sebaliknya ia menarik nafas panjang-panjang)
“Mas Ardy plin plan, dok. . Dulu, aku didukung penuh berkarir. Sekarang setelah semuanya settle aku dituntut professional ,dong! Aku kan bukan pegawai biasa lagi. Aku punya jabatan. Tuntutan tanggungjawabnya juga pasti berbeda dari yang dulu. Kalau protesnya sekarang, ya telat itu namanya. Dan satu lagi sifatnya yang aku kurang sreg. Kekanak-kanakan sekali. Minta diperhatikan, manja, ga pernah mau membantu pekerjaan rumah tangga. Semuanya aku. Aku. Pulang dari kantor, rumah berantakan, anak-anak belum mandi, aku juga yang harus turun tangan sendiri. Mau aku tuh, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Kalau semua beban harus aku yang pikul, ya aku juga capekkk. “
Itulah keluhan mereka berdua. Mirip sebuah acara reality show di TV yang diputar menjelang tengah malam.  Masihkah kau Mencintaiku. Itu nama acaranya. Mencari solusi untuk masalah-masalah seputar  rumah tangga. Dimana, Pasangan suami istri berhak menumpahkan isi hati, bicara unek-unek, menangis sepuasnya. Gontok-gontokan sepuasnya. Dan terakhir, diarahkan untuk mencari solusi bagi masalah mereka. Acara yang menarik. Apalagi Mbak Win sang psykolog terkenal dan juga Mbak Rae Sita sebagai konselor yang berpengalaman soal rumah tangga juga turut memberi jalan keluar. Tapi pada akhirnya, tentu saja saran dan jalan yang diberikan tetaplah menjadi sebuah pilihan bagi pasangan. Mau tetap berdiri dan menyelesaikan masalah, atau pergi….ngeloyor, lari dari masalah.
Ardy yakin sepenuhnya, cinta mereka masih utuh. Tidak ada WIL atau PIL. Ini hanya masalah mendengar dan didengar. Mengerti dan dimengerti. Ini hanya perlu  hati yang tulus untuk saling memahami. Tangan yang terbuka menerima pula kasih yang besar untuk memaafkan dan komitmen untuk memulai sesuatu yang baru…benar benar baru.
Mereka berdua, duduk diam dihamparan pasir di tepi pantai. matahari sore mulai surut dan warna langit meneduhkan jiwa. Ardy menggenggam tangan Nancy. Dan wanita itu mempererat genggaman suaminya. Ia menyandarkan kepala di bahu lelaki tercinta itu. Ada perasaan yang luas di hatinya. Plong. Lega. Nyaman. Damai.Saran sang psikolog untuk mengambil waktu dan saling membuka hati untuk bicara, dipraktekkan sore itu. Entah alam yang mendukung, atau karena keteguhan mereka  untuk mencari solusi, tapi cinta sekali lagi menunjukkan kekuatannya. Selama cinta yang menjadi landasannya, sesukar apapun jalan pastilah berujung dengan indah.
 
V
Roma

Wanita, 32 tahun. Cerdas. Memiliki segalanya. Pemegang saham terbesar dari  perusahaan iklan. Apartemen berukuran 150m2 di kawasan elit Jakarta Selatan. Mercy Hitam legam seri E200 keluaran tahun terbaru plus supir yang siap mengantarnya pergi dan pulang kantor juga ke segala tempat yang dia suka. Hanya satu yang kurang: ia adalah anggota IJB. Ikatan Jombl o bahagia. Yang sejujurnya kalau bicara dari hati ke hati ia pasti tak bahagia. Kesepian menggantung di ujung matanya. Kesedihan mengacak-acak hatinya. Terutama saat weekend panjang tiba, atau saat  suasana haru yang ditimbulkan oleh   mendung  di langit dan hujan yang rintik-rintik. Hatinya bertambah biru. Teringat masa kecilnya yang susah  bersama ibu tersayang.
Ah,ibu…baginya dialah pahlawan hidupnya  no satu. Pejuang  paling berani dan tak kenal putus asa. Baginyalah, ibu rela tak menikah lagi, membanting tulang bekerja serabutan asalkan ia bisa mengambil pendidikan yang lebih tinggi dari sekedar  berijazah SMA. Ia ingat, jelas masih tersimpan di memory pikirannya. Malam itu, ia  mendengar pembicaraan yang seharusnya tak boleh ditangkap telinga seorang anak berusia 8 tahun. Ayahnya ingin menikah lagi. Tapi ibu tak mengijinkan. Ayah  ngotot, karena ternyata perempuan calon ibu tirinya itu sudah hamil. Ibupun tetap ngotot untuk tidak memberikan ijin. Peristiwa dramatis itu, mencapai puncak dengan kepergian ayah. Bukan untuk sehari dua. Tapi selamanya. Ia tidak pernah lagi melihat ayahnya. Bahkan hingga usianya mencapai 32 tahun.
Dan bisa dibayangkan. Hidup tanpa tulang punggung keluarga. Walaupun Roma adalah anak tunggal, tapi bagi ibunya yang hanya sanggup membaca dan menulis, pekerjaan apa yang bisa dilakukannya selain menjadi buruh cuci dan pembantu rumah tangga? Tak sedikitpun Roma melupakan masa-masa sulit itu. Dari subuh hingga ia pulang sekolah pukul 13.00 WIB,  Ibunya masuk keluar pintu tetangga untuk mencuci dan menyetrika. Sore hari, masih sempat ibu menggoreng pisang, tahu dan bakwan untuk dijual didepan rumah mereka. Saat ia tak tahan, ia pernah menangis.
“Bu, aku berhenti sekolah saja….aku ga mau ibu kerja dari pagi sampai malam sementara aku ga ngapa-ngapain, ijinkan aku juga membantu, bu…”
Tapi apa jawab ibunya?
“belajar saja yang tekun, itu adalah bantuan yang sangat menolong ibu. Ini semua sudah takdir kita. Ibu tak mengapa bekerja beginian, karena kerja kantoran ibu ga bisa…..eh, Rom…kalau suatu saat kamu pake hak tinggi, baju keren, terus kerja kantoran seperti tetangga-tetangga kita, ibu pasti akan sangat bangga.”
 Jawaban ibulah yang membuat Roma melecut semangat belajarnya sedemikian kencang. Ia tak mengenal hari libur. Tak memperdulikan waktu bermain, ataupun hangout  bersama teman-temannya. Bila teman-temannya nongkrong di kafe sepulang sekolah, atau cuci mata di lorong-lorong mal, Roma justru asyik menjejali otaknya dengan buku-buku yang dipinjamnya dariperpusatakaan sekolah. Atau mencari tambahan uang jajan dengan mengajar anak-anak SD , adik teman-temannya. Sedapat mungkin ia tak mau menambah susah ibunya. Sedapat mungkin ia ingin membantu mengambil sedikit beban dipundak ibunya.
Bertahun-tahun kemudian,  Roma bukan sekedar kerja kantoran. Bukan sekedar, wanita karir yang seperti khayalan sederhana ibunya, memakai sepatu berhak tinggi, stocking hitam, blazer hitam plus rok mini. Bukan sekedar bekerja dibelakang meja menghadap computer  dan menunggu perintah dari atasannya. Bertahun-tahun kemudian, Roma adalah pemilik perusahaan ternama, wanita karir dalam arti yang sebenar-benarnya, bekerja di belakang meja, menghadap computer dan memberi perintah.  ia  adalah bosnya.
Tapi itu tak membuat kebahagiaannya sempurna. Cintanya yang besar pada ibunyalah yang membuat dia menggapai setinggi langit cita-citanya,mengorbankan masa bermain, mengorbankan masa remajanya . belajar, belajar dan bekerja.  Dan akhirnya mempersembahkan mimpi ibunya menjadi realita luarbiasa. Tapi, hidup bukan milik kita. Rencana tak selamanya berjalan prima sesuai harapan. Ibunya di panggil Sang Khalik. 3 tahun sebelum ulang tahunnya yang ke-32. 2 tahun sebelum ia membeli sebuah perusahaan advertising yang hampir bangkrut dan membangunnya kembali.
“Kita hampir di puncak, bu. Sedikit waktu lagi. Mengapa tak kau biarkan aku mewujudkan mimpimu..” sesalnya selalu.
Kanker serviks. Stadium lanjut. Kuman  Human Papilloma Virus yang 'dibawa' ayahnya berpuluh-puluh tahun yang lalu itu, akibat kegemarannya berganti-ganti pasangan, telah membunuh ibunya. Semua ini karena ayahnya. Ibunya telah pergi. Tanpa pernah tahu, bahwa mimpi dan harapannya telah terwujud. Kerja banting tulangnya demi Roma sekian puluh tahun lampau telah terbayar. 
Roma membenci dalam-dalam ayahnya. Sampai mati. Bahkan kelak bila bertemu di alam mautpun tak juga rela ia memaafkan ayahnya. Dan bentuk kebencian itu terejawantahkan secara nyata dalam kehidupan cintanya. Ia menjauhi laki-laki dan menganggap semua pria adalah jahanam seperti ayahnya. Katakan Tidak Kepada Pria….tulisan itu tertempel jelas di atas meja kerjanya. Dan juga terukir di relung paling dalam hatinya...entah sampai kapan...
                                                ***

Pada akhirnya,  harus bilang apa tentang cinta?  Ia  ada dimana-mana. Terlihat dan teraba juga bercita rasa. Pada senyum, sentuhan, kata-kata , airmata,dan juga  pahit luka.bagaimana kita bisa lari dan sembunyi dari cinta? Bahkan alampun tak  pernah usai menceritakannya. Kau melihatnya turun bagai hujan yang tertumpah. Nyata pada sinar matahari pagi, tercium di udara dan bergelantungan bagai embun di pucuk daun. Semakin ingin kau berpaling dari cinta, semakin  kau terkejar olehnya.  Memang ia buta, tapi kakinya tahu persis kea rah mana melangkah.
 Jangan pernah takut memulai cinta. Ia dihadirkan bukan untuk menyakiti. Kalaupun kau terluka, darinya kau mengenal rasa bahagia. Dan  cinta tak pernah memaksa. Tak pernah memenjara. Ia membebaskan. Ia melepaskan. Bagi cinta, kebahagiaan adalah tujuan, tak perduli apakah ia ikut luka….karena sejatinya cinta adalah hanya memberi…memberi...dan memberi.