Tuhan, akhirnya aku mengerti. Bagaimana menjadi abu, merupa
debu. Hinggap di pohon randu, pagar kayu dan pinggir sepatu. Terkibas lepas,
terpiuh jauh, terpental bagai sebutir peluru. Dan saat angin mengambil
bagiannya, debu hanya debu…tak terekam kehidupan
Tuhan, debuku luruh di tanganMu. Mencari seribu jalan untuk
melayang namun kulai sebelum sampai.
Lantas mataMu menjarahku, merajahku dan menelanjangiku hingga aku, debu harus
diam atau mengaram?
Di cakrawala debu tak terbaca. Tersamar dalam kuning cahaya.
Mengarungi orbit matahari tapi hampir mati di ujung jemari. Menjauhi dunia dan
hidup dalam doa-doa, membuat aku menjelma mantra yang berlompatan dalam kitab
dan kidung agung. Namun debu bukan
teluh. Yang sanggup membubuhkan luka di wajahmu.
Tuhan, dalam waktu yang panjang aku tiba juga. Pada
jalanjalan penuh kelokan. Sebelum aku gugur oleh ragu, katakanlah: aku ini debu….arah mana sebaiknya menuju?
Bekasi, 2010
No comments:
Post a Comment