Friday, November 26, 2010

DEBU



 Tuhan, akhirnya aku mengerti. Bagaimana menjadi abu, merupa debu. Hinggap di pohon randu, pagar kayu dan pinggir sepatu. Terkibas lepas, terpiuh jauh, terpental bagai sebutir peluru. Dan saat angin mengambil bagiannya, debu hanya debu…tak terekam kehidupan


Tuhan, debuku luruh di tanganMu. Mencari seribu jalan untuk melayang  namun kulai sebelum sampai. Lantas mataMu menjarahku, merajahku dan menelanjangiku hingga aku, debu harus diam atau mengaram?


Di cakrawala debu tak terbaca. Tersamar dalam kuning cahaya. Mengarungi orbit matahari tapi hampir mati di ujung jemari. Menjauhi dunia dan hidup dalam doa-doa, membuat aku menjelma mantra yang berlompatan dalam kitab dan kidung  agung. Namun debu bukan teluh. Yang sanggup membubuhkan luka di wajahmu. 


Tuhan, dalam waktu yang panjang aku tiba juga. Pada jalanjalan penuh kelokan. Sebelum aku gugur oleh ragu, katakanlah: aku  ini debu….arah mana sebaiknya  menuju?


Bekasi, 2010

No comments:

Post a Comment