Wednesday, January 26, 2011

Puncak Menara


                      

Berada di puncak menara, 1500 meter dari permukaan tanah. Ada rasa gamang, tapi sangatlah tenang. Aku bahkan tak mendengar apa-apa selain sedenting jatuh airmata

(disini aku teringat dongeng putri tidur yang menanti pangeran pujaan hati, menyelamatkannya dari si  peri sakti)

Di puncak menara kesunyian adalah lagu paling kelu, tanpa kata-kata tapi mengalun berirama.  Hanya orang yang punya  hati yang sanggup mengerti….

Berada di ketinggian seperti melihat seluruh dunia. Segalanya tampak kecil. Batu-batu bagai kerikil. Manusia seperti kurcaci kerdil. Dan aku sendiri merasa begitu terpencil . Terperangkap dalam jurang waktu . segala yang datang, akan pergi  dengan segera .. tanpa senyum dan kata berpisah. Tanpa  sapaan dan hangat pelukan. Cepat berlalu. Berlarinya buru-buru. Dan kemudian saat tersadar …ternyata aku tak pernah kemana-mana selain diketinggian. Dipeluk kesepian. 

Di puncak menara akulah putri yang susah tidur. Berpanjang malam  kutabung mimpi dalam lembar-lembar puisi. Aku belajar mengucap mantra,  berkawan dengan kata-kata, karena mungkin hanya kata dan mantra yang mengerti  arti mengalah dan juga kalah ..

(Ah, pangeran….jujur saja, aku tak butuh senyummu yang kelu dan ciummu yang palsu. Kau punya 24 jam, 30 menit dan 50 detik, sisa waktu…..agar puisi ini tak  luruh menjadi abu).

Di puncak menara….. hanya bayanganmu mengetuk pintu.
                                      


No comments:

Post a Comment