Berada di puncak menara, 1500 meter dari permukaan tanah. Ada
rasa gamang, tapi sangatlah tenang. Aku bahkan tak mendengar apa-apa selain
sedenting jatuh airmata
(disini aku teringat dongeng putri tidur yang menanti
pangeran pujaan hati, menyelamatkannya dari si
peri sakti)
Di puncak menara kesunyian adalah lagu paling kelu, tanpa
kata-kata tapi mengalun berirama. Hanya
orang yang punya hati yang sanggup
mengerti….
Berada di ketinggian seperti melihat seluruh dunia.
Segalanya tampak kecil. Batu-batu bagai kerikil. Manusia seperti kurcaci kerdil. Dan
aku sendiri merasa begitu terpencil . Terperangkap dalam jurang waktu . segala
yang datang, akan pergi dengan segera ..
tanpa senyum dan kata berpisah. Tanpa sapaan dan hangat pelukan. Cepat berlalu. Berlarinya
buru-buru. Dan kemudian saat tersadar …ternyata aku tak pernah kemana-mana
selain diketinggian. Dipeluk kesepian.
Di puncak menara akulah putri yang susah tidur. Berpanjang
malam kutabung mimpi dalam lembar-lembar
puisi. Aku belajar mengucap mantra, berkawan
dengan kata-kata, karena mungkin hanya kata dan mantra yang mengerti arti mengalah dan juga kalah ..
(Ah, pangeran….jujur saja, aku tak butuh senyummu yang kelu
dan ciummu yang palsu. Kau punya 24 jam, 30 menit dan 50 detik, sisa waktu…..agar
puisi ini tak luruh menjadi abu).
Di puncak menara….. hanya bayanganmu mengetuk pintu.
No comments:
Post a Comment