Dalam pikiranku, aku menemukannya. Sebuah benua baru. Warna
nya seperti langit yang terbenam. Nyalanya tak ubah lilin yang nyaris padam.
Sangat sederhana. Nyaris tak terpikir
telah begitu lama ia terkurung dalam gelap pikiran. Bersembunyi dari sekian juta
kerlip bintang.
Disana, aku ingin membangun sebuah rumah sederhana, untuk
kita berdua. Dengan pintu dan jendela yang tahan akan bentur taufan
dan dera celaan. Setiap sore kita akan
duduk bersama, menikmati 2 cangkir teh hangat dan sepiring penuh doa-doa. Tak perlu
banyak bicara. Getar angin dan gelombang udara, harum gerimis dan wangi tanah…senja yang sempurna!!
Pada pekarangan depan
ku tanam sayuran: kubis,
kangkung, tomat , bayam dan jagung. Kuharap tumbuh subur walau hanya disiram
kata-kata, diterangi cahaya surya…aku bukan petani, hanya perempuan yang kerap
menagih janji…
Di pekarangan belakang, aku akan beternak!…memelihara kodok
hijau, jangkrik dan kunang-kunang. Bila hujan datang dan listrik padam,
kuning-kuning akan berpendaran di langit
malam, kodok dan jangkrik bernyanyian. Kerlap
kerlip kerlap berkelebat…Bayangkan, ..kita
tak lagi butuh kafe,pub atau dunia gemerlap.
Di sini batas waktu
tak lagi bisa terbaca. Antara siang dan malam, sore dan pagi , antara suram dan
sunyi. Detik jam berjalan pelan, hingga kau merasa langkahnya nyaris terbang. Musim,
hanyalah sekumpulan kenangan dari semisal kejadian dimana
hujan jatuh di dadamu yang telanjang.
Ah, sayang...Benuaku itu adalah jalan
pulang……menuju sisa usia yang tak lagi panjang.
No comments:
Post a Comment