Friday, January 28, 2011

Benua Baru



Dalam pikiranku, aku menemukannya. Sebuah benua baru. Warna nya seperti langit yang terbenam. Nyalanya tak ubah lilin yang nyaris padam. Sangat  sederhana. Nyaris tak terpikir telah begitu lama ia terkurung dalam gelap pikiran. Bersembunyi dari sekian juta kerlip bintang.

Disana, aku ingin membangun sebuah rumah sederhana, untuk kita berdua. Dengan pintu dan jendela yang tahan akan bentur   taufan dan dera celaan.  Setiap sore kita akan duduk bersama, menikmati 2 cangkir teh  hangat dan sepiring penuh doa-doa. Tak perlu banyak bicara. Getar  angin dan gelombang  udara, harum gerimis dan wangi tanah…senja yang sempurna!!

Pada pekarangan depan  ku tanam sayuran:  kubis, kangkung, tomat , bayam dan jagung. Kuharap tumbuh subur walau hanya disiram kata-kata, diterangi cahaya surya…aku  bukan petani, hanya perempuan yang kerap menagih  janji…

Di pekarangan belakang, aku akan beternak!…memelihara kodok hijau, jangkrik dan kunang-kunang. Bila hujan datang dan listrik padam, kuning-kuning  akan berpendaran di langit malam, kodok dan jangkrik bernyanyian.  Kerlap kerlip kerlap berkelebat…Bayangkan, ..kita  tak lagi  butuh kafe,pub atau  dunia gemerlap.

Di sini  batas waktu tak lagi bisa terbaca. Antara siang dan malam, sore dan pagi , antara suram dan sunyi. Detik jam berjalan pelan, hingga kau merasa langkahnya nyaris terbang. Musim, hanyalah sekumpulan kenangan dari semisal kejadian  dimana  hujan jatuh di  dadamu yang  telanjang.    
                           
Ah, sayang...Benuaku itu adalah jalan  pulang……menuju sisa usia yang tak lagi panjang.                                  

No comments:

Post a Comment