Bagiku, waktu itu ajaib banget. Dia sanggup menjadi obat yang mujarab bagi luka hati. Sanggup sebagai alat canggih yang menghapuskan peristiwa penting dan ga penting, sakit dan gembira, penderitaan dan sukacita. Dan bisa juga seperti alat transformator canggih yang siap mengubah siapa saja menjadi apa saja sesuai dengan jamannya, sesuai dengan keinginannya.
Contohnya ga usah jauh-jauh deh. Diriku lah sebagai volunteernya. Saat aku terdepak cinta. Sakitnya ga usah diceritain. Hampir semua wanita mengalaminya. Ampuuunnn, makan males, tidur susah, ngomong ogah, maunya tidurrrrr. Atau ngelamun, atau yang paling bisa melegakan: nangis, mengasihani diri sendiri. Kok tega banget cowok itu. Gila apa dia, seenaknya aja memutuskan hubungan? Apa dia pikir aku ga susah untuk mendapatkan dia? Kok segampang itu dia bilang, good bye? Tapi itu sebulan lalu. Sekarang? Perasaanku sudah jauh lebih iklas. Bisa menerima (mungkin tepatnya belajar menerima) bahwa dia ternyata lebih memilih perempuan yang jauh lebih seksi, cantik, kaya dan tentu saja lebih royal.. sakit hati? Tinggal separuh. Ku yakin tambah sedikit waktu lagi, aku akan bener-bener bisa melupakan dia.
Soal kecanggihannya menghapus banyak peristiwa? Ingat ga kasus Pansus bank Century? Waduh di awal tahun 2010 itu jadi topic hangat disemua stasiun televisi. Semua orang bicara tentang sidang berkepanjangan yang menghadirkan Ibu mantan mentri keuangan Sri mulyani, Bpk Susno Duaji, Bpk Budiono…banyak orang menyudutkan, tak sedikit juga yang berpihak. Tapi toh sampai sekarang, kasusnya ga selesai.Nyatanya Ibu Gayatri yang menari-nari seperti orang putus asa karena uang 60Mnya amblas tak terusut, sudah tidak lagi tersorot kamera. Pansus seperti pintu bioskop yang tertutup saat pertunjukan usai. Diganti dengan adegan lain yang lebih seru. Ariel dan Luna Maya. Tapi tenang aja mas Ariel…kasusmu juga akan hilang seiring waktu berjalan.
Ok …begitulah waktu. Berjalan, berlari, merangkak…apalah bentuk mobilisasinya, dia akan meninggalkan semua dibelakang. Ga akan pernah berhenti untuk sekedar mengambil nafas panjang karena terlalu cepat bergerak. Dan seiring iramanya, ada juga manusia yang diubah. Entah itu menjadi baik atau menjadi buruk, waktu tak pernah ambil pusing untuk bertanggung jawab.
Ini ceritanya seru. Aku kenal dia, saat SMP belasan tahun lalu. Sederhana.Dengan kulit kecoklatan dan rambut keriting khas orang Indonesia Timur. Kami bersahabat. Iva namanya. Kalau berjalan menunduk, kalau bicara malu-malu. Tidak pernah terlihat dalam kelompok. Selalu ingin menghindari keramain. Tapi aku senang berteman dengannya.
Saat diterima di SMA yang sama, Iva tidak menunjukkan perubahan berarti. Tetap dengan performance dan karakter yang sama. Hingga kamipun berpisah ketika ia diterima di perguruan tinggi negri di daerah. Sementara aku memilih untuk mengadu peruntungan di kota yang bernama Jakarta.
Berpisah. Tak sewaktupun kami bertemu. Entah kenapa. Aku jarang sekali pulang kampung. Tamat kuliah, mendapat pekerjaan, meniti karier, mencari jodoh, berinvestasi sederhana….yah begitulah aktivitas biasa bagi wanita yang tinggal di ibukota.
Sampai kemudian, aku tak sengaja bertemu dengan teman lamaku ini. Entah angin surga dari mana tiba-tiba di suatu siang yang padat merayap oleh kendaraan, tiba-tiba hp ku berbunyi, kulirik sekilas, no tak dikenal. Buru-buru kupasang handsfree agar tak mengganggu acara mengemudi kendaraan. Semoga bukan dari klien yang tiba-tiba membatalkan perjanjian.”hallo ..”begitu kusapa seorang diseberang sana”Hai…”balas suara wanita itu riang dan ringan.aku terdiam sejenak…mengira-ngira siapa ini. Jangan sampai aku salah menebak dan hilanglah sebuah kesempatan baik untuk bertransaksi. Tapi sungguh…aku hilang ide. Siapa ya?
“Vicky…ini Iva…apa khabar?”…..””Iva…??kutilang?” itu istilah untuknya karena kurus tinggi dan langsung. Dan sebuah tawa renyah berderai…”hahahahah…masih ingat istilah itu ya, Vic” Ëh aku lagi di Jakarta nih…kita ketemuan yuk” ajaknya. Tentu saja aku tidak mungkin melewatkan undangan seorang sahabat lama untuk bertemu”Ok..ok…kebetulan nanti sore aku ga banyak kerjaan, gimana kalau jam 7…sekalian makan malam ya””ok …ok “sahutnya sambil menyebut sebuah nama hotel berbintang lima di kawasan Sudirman. “kalau dah sampai di lobi, kontak ya….”begitu katanya sambil menutup pembicaraan.
Aku tersenyum-senyum. Iva….hmmm aku sungguh antusias ingin bertemu. Bekerja di sebuah perusahaan operator seluler no wahid di Indonesia, sungguh beruntung. Kalau dideskripsikan secara sederhana, (dari cerita yang sempat dia katakan di telp, tentu saja) pekerjaannya adalah pergi dari satu tempat ke tempat yang lain, tinggal di hotel yang satu pindah ke hotel yang lain, dan bicara! itu saja. Menarik sekali dan gampang!
Aku sudah menunggu kira-kira 20 mnt di lobi hotel. Seandainya lobi itu tidak mewah dengan ornament wajah-wajah ganteng dan cantik yang berseliweran sehingga aku bisa cuci mata, mungkin aku sudah super bête. Luarbiasa ..di hotel ini tidak ada orang jelek. Aku terbayang temanku itu. Seperti apa dia, kira-kira.??
Tiba-tiba, seorang wanita langsing, tinggi, putih, dengan rok mini di balut stocking hitam transparant, bajunya ungu terung dengan hiasan rufles yang elegant, berjalan kearahku. Di tangannya tersandang sebuah tas Gucci model mutakhir ( taruhan yang ini bukan KW-1…kalau gak kwalitas super duper pastilah asli punya). Rambutnya bergelombang dengan layer menarik bak artis papan atas. Aku melirik ke bawah, sepatu dengan hak 7 cm berwarna hitam suede…hmmm…cantik dan elegant.begitulah kesanku.
Dia berjalan ke arahku dan tersenyum, aku membalas senyumnya tak kalah hangat. Semoga dia ambil tempat duduk di depanku supaya aku bisa mencopas gaya dandannya . Tapi, kemudian aku benar-benar melongo karena: wanita cantik itu langsung memelukku dan berkata Äpakabar Vicky…..maaf aku terlambat 25 menti…..tidak ada yang berubah padamu, masih manis seperti dulu”…ternyata dia…”.Ïva???....luar biasa”kupikir wanita tadi itu …ahhh sudahlah…lupakan!!!”aku tak bisa menyembunyikan rasa kagumku atas perubahannya yang benar-benar …( aku masih mencari kata yang pantas..) unbelievable.
Kami bicara banyak …tentang masa lalu. Tentang pekerjaan. Tentang pasangan …untuk yang ini kami berdua terbahak-bahak …menertawai nasib kami yang masih jojoba alias jomblo-jomblo bahagia (aneh…secantik dia, bagaimana mungkin masih susah mencari pasangan hidup?).... juga tentang perubahan.
Iva benar-benar telah bermetamorfosa menjadi sosok wanita masa kini. Kulit coklat sudah diganti dengan putih bersih dan mulus, rambut kriting ala wanita Timor sudah terlindas alat smooting yang kemudian di upgrade menjadi sedikit bergelombang seksi . Dari sudut fashion pun, terlihat jelas perubahan tastenya. Up to date, fashionista, benar-benar selera yang baik.
Satu lagi yang tidak boleh tertinggal. Karena ini penting. Hampir 2 jam kami berbincang. Tidak ada kesan malu-malu atau Wajah tertunduk. Cara makan, cara berbicara, cara menyela percakapan, gesture, bahkan cara memanggil pelayanpun sudah seperti kalangan kelas elit. Ck ck ck….iva yang dulu telah benar-benar vanished!
Aku pamit pada pukul 23.00. sepanjang perjalanan pulang kubayangkan sahabatku itu. Waktu sangat shopisticate menyulapnya. Tak habis pikir ada manusia yang secara performance sangat berbeda tapi ternyata adalah pribadi yang sama. Untunglah ada satu hal yang tak ikut berubah. Hatinya. Jauh dikedalamannya…aku tau dia masih Iva yang dulu. Konyol dan hangat.
Kira-kira….10 tahun mendatang, surprise apalagi yang dilakukan si waktu???hmmmm…..aku tak ingin membayangkannya.