Friday, September 17, 2010

MetamorIva


Bagiku, waktu itu ajaib banget. Dia sanggup menjadi obat yang mujarab bagi luka hati. Sanggup sebagai alat canggih yang menghapuskan peristiwa penting dan ga penting, sakit dan gembira, penderitaan dan sukacita. Dan bisa juga seperti alat transformator canggih yang siap mengubah siapa saja menjadi apa saja sesuai dengan jamannya, sesuai dengan keinginannya.
Contohnya ga usah jauh-jauh deh. Diriku lah sebagai volunteernya. Saat aku terdepak cinta. Sakitnya ga usah diceritain. Hampir semua wanita mengalaminya. Ampuuunnn, makan males, tidur susah, ngomong ogah, maunya tidurrrrr. Atau ngelamun, atau yang paling bisa melegakan: nangis, mengasihani diri sendiri. Kok tega banget cowok itu. Gila apa dia, seenaknya aja memutuskan hubungan? Apa dia pikir aku ga susah untuk mendapatkan dia? Kok segampang itu dia bilang,  good bye? Tapi itu sebulan lalu. Sekarang? Perasaanku sudah jauh lebih iklas. Bisa menerima (mungkin tepatnya belajar menerima) bahwa dia ternyata lebih memilih perempuan yang jauh lebih seksi, cantik, kaya dan tentu saja lebih royal.. sakit hati? Tinggal separuh. Ku yakin tambah sedikit waktu lagi, aku akan bener-bener bisa melupakan dia.
Soal kecanggihannya menghapus banyak peristiwa? Ingat ga kasus Pansus bank Century? Waduh di awal tahun 2010  itu jadi topic hangat  disemua stasiun televisi. Semua orang bicara tentang sidang berkepanjangan yang menghadirkan Ibu mantan mentri keuangan Sri mulyani, Bpk Susno Duaji, Bpk Budiono…banyak orang menyudutkan, tak sedikit juga yang berpihak. Tapi toh sampai sekarang, kasusnya ga selesai.Nyatanya Ibu Gayatri yang menari-nari seperti orang putus asa karena uang 60Mnya amblas tak terusut, sudah tidak lagi tersorot kamera.  Pansus seperti pintu bioskop yang tertutup saat pertunjukan usai. Diganti dengan adegan lain yang lebih seru. Ariel dan Luna Maya. Tapi tenang aja mas Ariel…kasusmu juga akan hilang seiring waktu berjalan.
Ok …begitulah waktu. Berjalan, berlari, merangkak…apalah bentuk mobilisasinya, dia akan meninggalkan semua dibelakang. Ga akan pernah berhenti untuk sekedar mengambil nafas panjang karena terlalu cepat bergerak. Dan seiring iramanya, ada juga manusia yang diubah. Entah itu menjadi baik atau menjadi buruk, waktu tak pernah ambil pusing untuk bertanggung jawab.
Ini ceritanya seru. Aku kenal dia, saat SMP belasan tahun lalu. Sederhana.Dengan kulit kecoklatan dan rambut keriting khas orang Indonesia Timur. Kami bersahabat. Iva namanya. Kalau berjalan menunduk, kalau bicara malu-malu. Tidak pernah terlihat dalam kelompok. Selalu ingin menghindari keramain. Tapi aku senang berteman dengannya.
Saat diterima di SMA yang sama, Iva tidak menunjukkan perubahan berarti. Tetap dengan performance dan karakter yang sama. Hingga kamipun berpisah ketika ia diterima di perguruan tinggi negri di daerah. Sementara aku memilih untuk mengadu peruntungan di kota yang bernama Jakarta.
Berpisah. Tak sewaktupun kami bertemu. Entah kenapa. Aku jarang sekali pulang kampung. Tamat kuliah, mendapat pekerjaan, meniti karier, mencari jodoh, berinvestasi sederhana….yah begitulah aktivitas biasa bagi wanita yang tinggal di ibukota.
Sampai kemudian,  aku tak sengaja bertemu dengan teman lamaku ini. Entah angin surga dari mana tiba-tiba di suatu siang yang padat merayap oleh kendaraan, tiba-tiba hp ku berbunyi, kulirik sekilas, no tak dikenal. Buru-buru kupasang handsfree agar tak mengganggu acara mengemudi kendaraan. Semoga bukan dari klien yang tiba-tiba membatalkan perjanjian.”hallo ..”begitu kusapa seorang diseberang sana”Hai…”balas suara wanita itu riang dan ringan.aku terdiam sejenak…mengira-ngira siapa ini. Jangan sampai aku salah menebak dan hilanglah sebuah kesempatan baik untuk bertransaksi. Tapi sungguh…aku hilang ide. Siapa ya?
“Vicky…ini Iva…apa khabar?”…..””Iva…??kutilang?” itu istilah untuknya karena kurus tinggi dan langsung. Dan  sebuah tawa renyah berderai…”hahahahah…masih ingat istilah itu ya, Vic” Ëh aku lagi di Jakarta nih…kita ketemuan yuk” ajaknya. Tentu saja aku tidak mungkin melewatkan undangan seorang sahabat lama untuk bertemu”Ok..ok…kebetulan nanti sore aku ga banyak kerjaan, gimana kalau jam 7…sekalian makan malam ya””ok …ok “sahutnya sambil menyebut sebuah nama hotel berbintang lima di kawasan Sudirman. “kalau dah sampai di lobi, kontak ya….”begitu katanya sambil menutup pembicaraan.
Aku tersenyum-senyum. Iva….hmmm aku sungguh antusias ingin bertemu. Bekerja di sebuah perusahaan operator seluler no wahid di Indonesia, sungguh beruntung. Kalau dideskripsikan secara sederhana, (dari cerita yang sempat dia katakan di telp, tentu saja) pekerjaannya adalah pergi dari satu tempat ke tempat yang lain, tinggal di hotel yang satu pindah ke hotel yang lain, dan bicara! itu saja. Menarik sekali dan gampang!
Aku sudah menunggu kira-kira 20 mnt di lobi hotel. Seandainya lobi itu tidak mewah dengan ornament wajah-wajah ganteng dan cantik yang berseliweran sehingga aku bisa cuci mata, mungkin aku sudah super bête. Luarbiasa ..di hotel ini tidak ada orang jelek. Aku terbayang temanku itu. Seperti apa dia, kira-kira.??
Tiba-tiba, seorang wanita langsing, tinggi, putih, dengan rok mini di balut stocking hitam transparant, bajunya ungu terung dengan hiasan rufles yang elegant, berjalan kearahku. Di tangannya tersandang sebuah tas Gucci model mutakhir ( taruhan yang ini bukan KW-1…kalau gak kwalitas super duper pastilah asli punya). Rambutnya bergelombang dengan layer menarik bak artis papan atas. Aku melirik ke bawah, sepatu dengan hak 7 cm berwarna hitam suede…hmmm…cantik dan elegant.begitulah kesanku.
Dia berjalan ke arahku dan tersenyum,  aku membalas senyumnya tak kalah hangat. Semoga dia ambil tempat duduk di depanku supaya aku bisa mencopas gaya dandannya . Tapi, kemudian aku benar-benar melongo karena: wanita cantik itu langsung memelukku dan berkata Äpakabar Vicky…..maaf aku terlambat 25 menti…..tidak ada yang berubah padamu, masih manis seperti dulu”…ternyata dia…”.Ïva???....luar biasa”kupikir wanita tadi itu …ahhh sudahlah…lupakan!!!”aku tak bisa menyembunyikan rasa kagumku atas perubahannya yang benar-benar  …( aku masih mencari kata yang pantas..) unbelievable.
 Kami bicara banyak …tentang masa lalu. Tentang pekerjaan. Tentang pasangan …untuk yang ini kami berdua terbahak-bahak …menertawai nasib kami   yang masih jojoba alias jomblo-jomblo bahagia (aneh…secantik dia, bagaimana mungkin masih susah mencari pasangan hidup?).... juga tentang perubahan.
Iva benar-benar telah bermetamorfosa menjadi sosok wanita masa kini. Kulit coklat sudah diganti dengan putih bersih dan mulus, rambut kriting ala wanita Timor sudah terlindas alat smooting  yang kemudian di upgrade menjadi sedikit bergelombang seksi . Dari sudut  fashion pun, terlihat jelas perubahan tastenya. Up to date, fashionista, benar-benar selera yang baik.
Satu lagi yang tidak boleh tertinggal. Karena ini penting. Hampir 2 jam kami berbincang. Tidak ada kesan malu-malu atau Wajah tertunduk. Cara makan, cara berbicara, cara menyela percakapan, gesture, bahkan  cara memanggil pelayanpun sudah seperti kalangan kelas elit. Ck ck ck….iva yang dulu telah benar-benar vanished!
Aku pamit pada pukul 23.00. sepanjang perjalanan pulang kubayangkan sahabatku itu. Waktu sangat shopisticate menyulapnya. Tak habis pikir ada manusia yang secara performance sangat berbeda tapi ternyata adalah pribadi yang sama. Untunglah ada satu hal yang tak ikut berubah. Hatinya. Jauh dikedalamannya…aku tau dia masih Iva yang dulu. Konyol dan hangat.
Kira-kira….10 tahun mendatang, surprise  apalagi yang dilakukan si waktu???hmmmm…..aku tak ingin membayangkannya.

Monday, September 13, 2010

Pencarian

 : Ike



Bertahun-tahun aku mencarimu, menyusur setiap sudut tempat yang akupun belum pernah menuju. Menapaki kota-kota sunyi yang mirip senandung hatiku. Aku menghitung langkah waktu. Apakah hitungannya masih tetap: 24 jam sehari, 30 hari sebulan dan 31.104.000 detik dalam 1 putaran tahun? Betapa sulit aku menangkapmu, bahkan bayangmu enggan pun kucumbu di mimpiku?!


Pernah aku tiba di sebuah gunung tinggi...kawahnya yang terbuka tak beda dengan lukaku yang menganga. Magmanya yang merah menyala, hanya beda tipis dengan gemuruh rindu yang juga siap termuntahkan dari jiwaku yang juga merah. Diantara bayang-bayang senja yang jatuh persis di kakiku, aku melihat sosok perempuan...
rambutnya ikal dengan mata biru sayu...lalu tanpa sadar kucium dia! Hanya untuk merasa apakah bibirnya sama dengan lembut bibirmu!???

Aku mulai gila. Disebuah kuburan tua renta aku berhenti, beristirahat dari rasa sakit....memanjatkan sebait doa sederhana, semoga tak ada namamu yang terbaca tanpa sengaja di batu nisan yang bertebaran. Duhhhh!!!apakah mayat-mayat ini punya rasa? Atau malah aku rasa sudah sama seperti mereka? Meradang Aku. berteriak marah...entah pada apa atau siapa...mungkin juga pada diri sendiri yang terlalu cengeng memaknai setia. Aroma dupa campur kamboja menamparku, aku ini masih daging berjiwa dan berdarah...sayang!teganya dirimu...membiarkanku hilang arah, tanpa kompas, tanpa peta.

Detik ini, kusudahi pencarian...mungkin memang kau tak perlu kutemukan. Pergilah kau semakin jauh...sampai tak mampu kuingat lagi siapa namamu, sampai tak terbaca lagi jejakmu...sampai aku bisa temukan penawar bagi bisa batinku.

Bekasi, Mei 2009

Tuesday, September 7, 2010

Cinta Coklat

Apakah cinta punya rasa? aku yakin begitu...rasanya manis seperti coklat.teksturnya lembut saat hancur dilidah, ada sensasi lain seperti karamel, mint, nuts dll..tapi tetaplah rasanya manis, legit, bikin ketagihan.

aku ingat saat pertama kali bertemu dirimu. aku minder dan penyendiri. temanku hanya  buku dan tempatku adalah dibawah  pohon yang tumbuh sendiri  berdekatan dengan perpustakaan sekolah. setiap hari aku disana. setiap siang saat jam istirahat sekolah.duduk dan membaca. Kadang membaca buku yang itu itu juga. sama sekali tak bosan.  bukan tak punya teman. tapi aku tak suka mereka (dan kemungkinan besar  mereka juga tak suka aku).mereka  terlalu banyak bicara, terlalu banyak tertawa. bagiku mereka hanyalah sekumpulan tukang gosip yang berteriak histeris saat ada seseorang yang dianggap idola lewat (padahal, ihhh ga cakep-cakep amat).

tapi  akupun  mengganggap diriku sendiri aneh. 14 tahun.remaja. penyendiri. tertutup.tak seorangpun di sekolah itu merelakan diri menjadi temanku kupikir.tapi apa peduliku? aku punya banyak buku. dan pohon kesayangan, tempat aku duduk membaca, sudah seperti pelindung setia.sempurna bukan? aku sudah tidak butuh siapa-siapa lagi. 

sampai kau datang. siang itu ...tak mungkin aku lupa.kau tak bicara. dua batang coklat kau ambil dari saku rokmu."nih..buatmu!" aku pikir nih orang pastilah lebih aneh dariku. melihat mukanya saja baru kali ini. siapa dia? sok akrab menawariku dua batang coklat (yang lumayan menggiurkan) tapi wajahnya serius sekali. aku hanya diam memandangnya. lalu memandang 2 batang coklat ditangannya.aku berpikir.menimbang, belum memutuskan, hatiku curiga, apa maksudnya?
lalu tanpa ragu dia meraih tanganku dan menyerahkan 2 batang coklat itu." äku loni, adik kelasmu...kamu vicDA, kan?"...tanpa permisi duduk disampingku, dibawah pohon pelindungku, wilayah kedaulatanku...(kau pikir siapa dirimu, nona!)

"aku mau kita berteman. aku mau kau jadi sahabatku" (super aneh...ini pemaksaan!! dia kira aku bisa disogok 2 batang coklat?)..hmm itu bukan aku. ''tunggu....kau pikir, dengan datang kemari membawa ini (aku menunjuk 2 batang coklat ditanganku), lalu aku bersedia berbagi tempat ini denganmu?'' eh ehm aku menggeleng. ''aku ga kenal kamu, maksud kamu juga aku ga ngerti". hehehehe... dia tertawa ringan."'kamu memang tidak kenal siapa-siapa selain dirimu, karena itu kalau aku jadi sahabatmu, paling tidak selama bersekolah disini kamu punya 1 orang yang kamu kenal"'...''sudahlah, aku ga bermaksud  jahat kok.duduk sini...kita makan coklat bareng-bareng...!''  

sesimpel itu.sesederhana itu. pertemuanku dengan mu. persahabatan kita. coklat itu memang menjadi simbol sebuah hubungan yang indah, agung, tulus. kau tak pernah sekalipun datang menemuiku tanpa 2 batang coklat. kenapa harus coklat? kenapa harus 2? aku tidak tau. mungkin karena coklat itu manis, saat dikulum terasa lembut, efeknya menenangkan lalu membuat ketagihan....saat kita menikmati, kita tak perlu banyak bicara, karena mulut kita sedang penuh.  kemanisan yang terasa sampai gigitan terakhir....

18 tahun kita bersama....cinta coklat tak pernah aku lupa.aku mengenal persahabatan karenamu.mengenal cara berbagi, tau bagaimana berempati.berdua denganmu aku merasa bukan aku satu-satunya orang aneh (salahmu mau berteman denganku, sehingga sekarang tampak ada 2 orang aneh.dibawah pohon rindang itu...hhheheheh)

saat ini sahabatku tentu saja bukan hanya kau. tapi Loni tetaplah yang paling istimewa. bagiku cinta yang lahir dari 2 batang coklat telah mengubah hampir seluruh hidupku. caraku memandang kehidupan dan lantas bagaimana menikmatinya.  

seperti coklat, bila kau kunyah terlalu tergesa, kau akan kehilangan sensasi nikmatnya walaupun tak hilang rasa manisnya. kelembutan teksturnya belum lah singgah diujung lidahmu saat kau buru-buru menelannya. dan...klik!!!perutmu langsung terasa penuh.kau tak akan mau lagi!

Menurut Loni, begini coklat harusnya dinikmati: jangan pernah memakan coklatmu sendirian, kau harus membaginya bersama seseorang yang kau anggap special (dengan demikian citarasanya akan lebih terasa-dan mungkin karena itu  dia selalu memberiku 2). jangan pula kau makan ditempat sembarangan (aku ga ngerti kalau yang  ini. pastilah karangan bebasnya, ) tapi ada benarnya juga. saat aku menatap pohon yang tumbuh sendiri disamping perpustakaan sekolah itu, pastilah aku ingat ritual kami berdua. baca buku dan makan coklat. tertawa sampai sakit perut...terus terakhir bertanya: rasa apa coklatmu? 

dan yang terakhir: kau harus mengulumnya. jangan mengunyah buru-buru. nikmati setiap gigitannya,kecap perlahan manisnya...apakah ada rasa lain yang tercampur": rum, mint, kacang....terus kau kulum diantara gigi dan lidah ...sampai kelembutan tekstur bisa mengirim sinyal ke otak...ini bagian penting yang nikmatnya luar biasa.percayalah sobat, sampai gigitan terakhir kau takkan menyerah...kau akan ketagihan.

persahabatan tak jauh jauh dari itu. kebahagiaan dan  ketulusan jangan pernah jadi milik pribadi...berbagilah...niklmatilah perlahan. jangan tergesa mengambil kesimpulan saat hubungan memburuk, kau belum sampai pada  gigitan yang terakhir....teruskanlah, jangan kau berhenti. walau tak selamanya indah tapi pasti rasanya tetap manis. sehingga saat kau benar-benar menelannya kau akan menemukan esensi sebuah persahabatan adalah selalu percaya pada apa yang kau yakini, memberi saat kau mungkin tak punya apa-apa, dan terakhir ...bertanyalah dengan gigi yang masih bersisa coklat disana sini:apa rasamu, kawan?...'punyaku...kacang mede...nikmat luar biasa. kita memang pasangan beda yang sempurna. tak kan pernah ada rasa kenyang, tak ada kata  cukup bagi persahabatan.selalu kurang...bahkan ketagihan. ketagihan untuk menjalin persahabatan baru. ketagihan untuk menabur benih manis yang lain.

Friday, September 3, 2010

Coba Kau....

Coba kau gambarkan rasa sakit :
Seperti tangan belati meremas bibir luka
Seperti inti hati yang menyerap memar barah


Coba kau gambarkan rasa sepi:
Seperti hujan pagi mengoyak pori tanah
Seperti kelu lidah di ujung kata