: Ike
Bertahun-tahun aku mencarimu, menyusur setiap sudut tempat yang akupun belum pernah menuju. Menapaki kota-kota sunyi yang mirip senandung hatiku. Aku menghitung langkah waktu. Apakah hitungannya masih tetap: 24 jam sehari, 30 hari sebulan dan 31.104.000 detik dalam 1 putaran tahun? Betapa sulit aku menangkapmu, bahkan bayangmu enggan pun kucumbu di mimpiku?!
Pernah aku tiba di sebuah gunung tinggi...kawahnya yang terbuka tak beda dengan lukaku yang menganga. Magmanya yang merah menyala, hanya beda tipis dengan gemuruh rindu yang juga siap termuntahkan dari jiwaku yang juga merah. Diantara bayang-bayang senja yang jatuh persis di kakiku, aku melihat sosok perempuan...
rambutnya ikal dengan mata biru sayu...lalu tanpa sadar kucium dia! Hanya untuk merasa apakah bibirnya sama dengan lembut bibirmu!???
Aku mulai gila. Disebuah kuburan tua renta aku berhenti, beristirahat dari rasa sakit....memanjatkan sebait doa sederhana, semoga tak ada namamu yang terbaca tanpa sengaja di batu nisan yang bertebaran. Duhhhh!!!apakah mayat-mayat ini punya rasa? Atau malah aku rasa sudah sama seperti mereka? Meradang Aku. berteriak marah...entah pada apa atau siapa...mungkin juga pada diri sendiri yang terlalu cengeng memaknai setia. Aroma dupa campur kamboja menamparku, aku ini masih daging berjiwa dan berdarah...sayang!teganya dirimu...membiarkanku hilang arah, tanpa kompas, tanpa peta.
Detik ini, kusudahi pencarian...mungkin memang kau tak perlu kutemukan. Pergilah kau semakin jauh...sampai tak mampu kuingat lagi siapa namamu, sampai tak terbaca lagi jejakmu...sampai aku bisa temukan penawar bagi bisa batinku.
Bekasi, Mei 2009
No comments:
New comments are not allowed.