Sunday, August 29, 2010

Mencintaimu....

Mencintaimu, adalah mencintai waktu. Sejarah yang  mengukir minggu, bulan dan tahun dengan sempurna. Sejarah yang tak lupa mencantumkan dengan teliti setiap detail kejadian kita sehingga tak ada peristiwa yang terlewat dengan sengaja. Tiap waktu punya cerita. Tiap cerita menebar aroma.Seperti wangi sup ayam ibu yang saat tercium dari radius 5 meter  sudah membuat perut terasa kosong. Setiap mengingat dirimu...aku  terbius.


Katamu: aku akan mengembara.Berbulan-bulan.Menjelajahi banyak tempat...selat, tanjung, pulau, benua, kota, gunung,  bahkan semua titik yang sanggup tercatat mata peta. Tak pasti  kapan  akan kembali.Gelap langit, awan comulus,pasang laut,serpih ombak  atau bulan yang sebelah...adalah pertanda  bahwa dalam diriku tak kan kau temukan pendar cahaya...

Katamu: jangan menungguku! dengan mantel,payung biru,syal ungu dan wajah merah dadu.Kau harus pandai sembunyikan isyarat agar  hati tak jatuh merindu. 

Namun, waktu telah berhasil memenjarakan aku. mengurung pada lembar-lembar malam. Mengajari ku untuk memintal benang menjadi tembang. Lalu dengan nada sedikit sumbang akupun bernyanyi, mengiris dingin malam dengan lagu kesepian.
Bukankah aku tak pernah meminta lebih dari sekedar senyummu yang ngambang? Bahkan aku rela hanya merupa bayangan, terpanggang terik siang lalu  terhisap hilang.... 


Mencintaimu adalah mengerti waktu.Bahwa yang hilang jangan pernah kaucari. Tapi yang tergenggam haruslah tetap kaupegang.Airmata, arah angan, sunyi mimpi dan harapan bukanlah teka-teki bagi waktu. Temukan kuncinya dan pahami: bahagia adalah bahasa sederhana dari luka...nikmati saat kau bisa.

Sadarku:

Waktu adalah engkau, yang mencintaiku  dengan rasa biru
Yang menderaku dengan memar cemburu

Waktu adalah dirimu, yang menyekapku  ditubuh malam
Dan  menjadikanku kunang-kunang



Tuesday, August 24, 2010

Unfaithfull

23.00
Selagi kau lelap…aku memandangi wajahmu. Matamu yang tertutup rapat, hidungmu, rambutmu yang mulai ditumbuhi uban. Dan cara Tidurmu yang selalu terlentang. Aku tak pernah melihatmu tidur miring kekiri atau ke kanan. Selalu kearah yang sama.Tidurmu tenang, tanpa dengkur. Dulu .. aku suka sekali, meringkuk manja masuk ke dalam lenganmu, sesekali aku ciumi ketiakmu yang selalu wangi…dan kita berdua terlelap hingga pagi.

23.30
Masih memandangimu. Sadarkah kau aku sedang memperhatikan dengan detail lekuk-lekuk di wajahmu? Ternyata kita sudah tua. Kau tak beda denganku. Ada garis-garis halus disekitar mata, pertanda bahwa banyak hal telah kita lalui bersama. Aku tertegun sejenak. Bersama..benarkah?

23.45
Kau tak juga bergerak. Dengkurmu semakin halus, tanda tidurmu semakin dalam. Kira-kira apa yang sedang ada di alam bawah sadarmu? Apakah kau bermimpi? Mimpi tentang apa? Tentang siapa? Pernahkah kau mimpi tentang kita? Jujur saja…aku jarang sekali memimpikan dirimu. Aku bermimpi tentang banyak hal yang indah, aneh, seram, kacau, tapi itu bukan dirimu. Bukan tentangmu. Bukan tentang kita. Kalaupun mungkin aku bermimpi tentangmu, saat terjaga aku segera lupa. mungkin itu bukan mimpi yang berarti, itu biasa saja….biasa saja. Aku juga merasa aneh.
Tahukah kau 15 thn kita sudah bersama. Apakah ada lambang yang mewakilinya?seperti perak untuk 25 thn, emas untuk 50 thn, apakah kita tembaga? Atau perunggu?Besi mungkin ?ahh, aku tidak tahu. Apa pentingnya lambang-lambang seperti itu. Apakah kwalitas hubungan ditentukan dari waktu? Apakah emas akan selalu berarti emas bagi pasangan yang telah mencapai tahun ke 50? Aku pikir, tidak selalu demikian.
aku merasa perjalanan kita sudah sangat lama. Waktu bagiku merangkak begitu lamban. Mungkin kakinya yang hanya 2 itu letih menempuh. Karena jalan-jalan dalam kehidupan kita berdua terjal, berbatu, mendaki dan melelahkan. Banyak hal yang tertinggal dibelakang, dan entah kenapa kubiarkan saja. Enggan kutata kembali. Aku capek. Kehidupan terlihat sama dari hari kehari. Tanpa kejutan tak ada sesuatu yang baru. Semuanya biru atau mungkin semua putih..

Tunggu sebentar! Aku ingat… dulu tidak begini. diawal pernikahan aku sempat merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Memilikimu, memiliki semuanya. Aku tak butuh apa-apa lagi. Hidupku lengkap, kau penyempurnanya. Fantastic man..!!!itulah dirimu bagiku. Bagaimana tidak? Kamu pintar, lembut, penuh perhatian, penuh kejutan, sangat ekspresif, selalu penuh kehangatan. Aku tak perlu bicara banyak, kau seolah tahu apa yang ada dikepalaku. Aku seperti anak kecil yang selalu ingin dekat dengan ibunya. Bergantung padamu. Aku tak bisa jauh, tak mau jauh. Aku bingung kalau 1 jam saja kau terlambat pulang dari kantor. Aku menunggu dengan penuh hasrat waktu untuk kita berdua di akhir pekan. Tak perlu pergi kemana, atau melakukan apa…selama ada kau, hanya duduk menemanimu sambil nonton bola di tv sudah seperti menikmati acara terpenting di dunia. Kaupun tak pernah marah, bila kuganggu saat sedang serius dengan setumpuk tugas-tugas kantor yang sengaja kau bawa pulang karena dikejar dateline.hahahhaha…aku memelukmu dari belakang (kau ingat?) menciumimu….menggeser beberapa senti semua kertas-kertas bertumpuk itu dan….mencuri seluruh perhatianmu…hanya untuk aku.

00.01
Akulah matahari. Akulah permaisuri. Ratu bagimu. Wanita no satu. Itulah aku…hingga…aku tak ingat lagi kapan tepatnya perubahan itu. Tidak drastis. Perlahan-lahan … sampai aku sendiripun tak menyadari. sampai saat kubuka mataku …aku tidak lagi mencari dirimu. Pergi atau ada ..kau tak ada bedanya.
Saat anak-anak kita hadir. Saat hidup mulai terasa sulit. Kau dituntut. Di tekan dihadapkan pada situasi yang sulit. Kau mulai berjalan sendiri. Kau mulai berpikir sendiri. Bekerja sendiri. Memutuskan sendiri. Aku seperti berlari-lari di belakangmu. Berusaha mengejar tapi kau sudah sangat jauh.

Kita jarang bicara. Kau sibuk . pekerjaan baru itu mulai menuntut seluruh waktumu. Mencuri hampir semua Perhatianmu. Pergi saat pagi anak-anak kita masih tertidur. Dan saat kau pulang akupun sudah tertidur. Berbulan bulan. Hingga masuk ke hitungan tahun. Situasi yang sama. Jenuh aku. aku mulai merajuk. Berdiam diri. Tak peduli. Berharap kau tahu dan mengerti. Berharap kaupun sama denganku. Bosan dengan keadaan ini. Tapi kulihat kau terlalu menikmati. Menikmati pekerjaanmu. “kau sudah tak sayang padaku” itu jeritku suatu pagi. Kau sudah rapi dengan kemeja dan dasi. Kau hanya menatapku “hari ini ada presentasi penting…bisa kita bicara nanti saja?” lalu segera mengambil tas kantor, tas laptop dan berlalu pergi. Aku termangu. Aku sendiri lagi. Tapi waktu yang kau janjikan tidak pernah ada. Kau hanya pernah bilang entah serius entah sambil lalu, karena caramu menyampaikan juga sambil mengerjakan sesuatu dan tidak focus pada pembicaraan kita. “kau harusnya mengerti. Kita bukan pengantin baru. Semua sudah berbeda. Ada ana-anak yang harus dipikirkan masa depannya. Hidup juga semakin sulit. Dan semua itu butuh prioritas. Pekerjaanku sekarang adalah sebuah kesempatan. Itu tidak datang 2 kali dalam hidup. Jadi kalau kau berpikir dengan pikiranmu yang sempit itu, kita akan susah. Percayalah…semua masih sama seperti yang dulu. Kau tak perlu meragukan aku”

00.30
Aku masih duduk menatapmu. Sesekali kulihat kau bergerak. Tanganmu berpindah posisi. Huuufttt…aku hampir tak bernafas. Aku sungguh tak ingin mengganggumu. Aku tidak tau harus percaya atau tidak pada kata-katamu.Benarkah kau tidak berubah? Berapa kali kita bercinta dalam sebulan? Dalam setahun? Aku tersenyum getir. Hampir tiap malam kau memilih tidur bersama anak-anak. Kenapa? Kau bilang karena rasa bersalahmu yang besar, karena tak punya cukup waktu bermain dengan mereka. Kau memang seorang bapak yang baik. Aku percaya itu. Tapi apakah aku harus selalu dituntut untuk memahami kondisimu?itu kah istri yang baik menurutmu?atau aku memang seorang penuntut yang menyebalkan?

Malam mulai merangkak pergi…kudengar tiang listrik disebelah rumahku dipukul 1 kali. Tanda waktu sudah lebih maju ke pukul 1 dini hari. Mataku mulai berat. Tapi aku enggan memejam. Banyak hal masih menari di kepalaku. Aku rebah. Mengambil posisi tak jauh darimu. Telentang. Apa sebenarnya yang sedang terjadi di antara kita? Atau mungkin lebih tepatnya apa yang sedang terjadi pada ku? Aku sedang tidak mengarang atau mengada-ada. Perasaan jenuh dan sendiri dan kesepian dan ditinggalkan dan diabaikan…..sungguh tidaklah nyaman. Sakit..sedih ..hancur…apakah itu berlebihan?mengapa kau bersikap biasa saja?

Aku semakin susah tidur….Benarlah orang bilang, bila ada yang kau sembunyikan, hatimu tak akan tenang. Pikiran gelisah.

Ini tentang dia. Aku bertemu dia. Tak sengaja. Hanya dari sebuah pesan singkat di handphone aku. Tak ada yang istimewa diawal. Bagiku itu hanya sebuah kebetulan. Kawan lama bersay hello..wajar bukan? Tapi terasa lain kemudian karena intensitas berhubungan yang tak dibatasi dengan waktu. Pagi, siang, sore, malam. Sms, bbm, telephone. Benang merahnya semakin jelas. Arah pembicaraan juga bukan lagi sekedar menanyakan äpa kabar?””berapa anakmu sekarang?”atau “apa kerjamu? Tinggal dimana?” ditambah lagi nostalgia masa lalu. Saling mengingat-ngingat hal-hal yang sempat terkubur puluhan tahun. Gila!! Kejadian itu 20 tahun lalu.

Peristiwa sederhana itu telah benar-benar menyihirku. Sinting! Ujarku pada diri sendiri. Mengapa aku hanya bisa diam? Mengapa aku seolah memaklumi perasaanku?apakah setia mulai berubah maknanya?tapi hatiku tak bisa diajak kompromi. Aku mematut wajahku dicermin…..tak terbayangkan aku masih bisa menikmati cinta diusia seperti ini. Geloranya tak berbeda seperti ketika masa sma dulu. Aku tersenyum sendiri. Membayangkan seperti apa dirimu kini? Tambah gemuk?dulu kau ganteng sekali. Apakah tak berubah?

Akhirnya kita bertemu.
Bertemu! Ada tanda seru(!) dan kalau perlu menggunakan under line dan huruf bold.entah kebranian dari ujung dunia mana yang akhirnya terkumpul di hatiku dan kemudian memutuskan untuk jumpa.Makan malam itu. Ngobrol sambil senyum senyum dan saling melempar pandangan. Aku gemetar. Lebih dari itu ada sesuatu di dadaku ini yang tak bisa kupaksa untuk diam. Sepertinya ia mau tumpah keluar. Sesak kalau ditahan. Apa itu namanya, Tuhan? Cintakah? Aku sudah tua!

Tak ada yang terjadi. Kami hanya makan malam.Syukurnya begitu.Tapi aku tak hendak berbohong pada diri sendiri. Cinta memang tak kenal usia. Saat panah cupid itu diarahkan dan hatikulah sasarannya, aku tak mampu menolak.bahkan menghindari saja rasanya sulit…(atau mungkin aku yang tak mau?) yah…anggap saja begitu. Pesonanya terlalu menarikku. Sampai akal sehat saja tak bisa kugunakan untuk bekerja. Terlalu terbuai.

Kau tau? Sejujurnya aku dilema. Kadang aku menangis, kadang aku tersenyum. Tertawa, lalu menangis lagi. Kewarasan dan kegilaan tak jauh batasnya dariku. Kau memberiku semuanya, kebahagiaan, kasih sayang, keluarga, anaka-anak…tapi tak pernah berpikir untuk selalu kau jaga. Aku merasa kita sedang mengayuh masing-masing kearah yang mungkin sama, tapi bisa juga berlainan. Dan saat aku sedang berjalan sendirian, aku menemukan dia. Sekeping puzzle yang ternyata begitu pas kulekatkan di hati. Kekosonganku terisi. Kesepianku terobati.

Aku salah? Ya aku tahu. Salahkan saja aku. Aku tak kan membela diri. Harusnya aku punya tameng terbuat dari baja yang siap menahan segala benturan. Segala godaan.Atau kacamata khusus berwarna hitam, yang membuat ku hanya mampu melihat dirimu dan hanya dirimu. Siapapun yang kulihat akan berubah wujud menjadi engkau. Duniaku adalah rumah mungil berukuran 150m2, dengan kamar 3, ruang tamu, ruang makan, dapur dan 2 kamar mandi, yang penghuninya adalah 3 putri cantik, aku dan kau sebagai pangerannya.kau pergi, kau datang…kau pergi jauhhhh dan aku ditinggalkan. Aku sendirian. Ahhhh..sudahlah ini bukan caraku mencari pembenaran diri. Jujur aku : aku sedang jatuh cinta. Mungkin ini penyakit untuk orang seusia kita. Tapi aku tak mau menolak perasaan itu. Aku ingin menikmati saat sepiku berganti keceriaan yang tak kubayangkan sebelumnya. Hati sakitku terhibur dengan suaranya. Aku seperti diberi sebuah kehidupan baru yang lebih punya warna….bukan melulu biru atau putih semata. Aku seperti bangkit dari dunia orang mati dan tersadar ternyata hidup begitu indah. Apakah aku harus melepaskan ini begitu saja?

Maafkan aku. Atau mungkin, aku tak kan termaafkan?

Ini sudah sangat pagi. Hansip di pos kamling itu mungkin lupa untuk membunyikan tanda pada tiang listrik di sebelah rumah. Tapi aku tahu benar sudah berjam-jam aku berpikir. Termenung. Ada hal-hal tertentu yang seharusnya tidak kau tahu. Akupun bukan ingin menipumu. 14 tahun, 9 bln, 76 hari bukan tak ada arti apa-apa bagiku. Kau tetap dia. Ayah anak-anakku. Cinta mula-mulaku. Saat ini, kalau hidup memberiku kebahagian baru, …maafkan kalau itu tak bisa kuhindari.

Di kehidupan ini, aku adalah sebatang pohon, berdiri sendiri ditengah luasnya padang rumput. Sejauh mata memandang hanyalah kehijauan yang luas. Hamparan rumput yang dibatasi garis langit. Biru langit di atasku. Hijau rumput di hadapanku. Aku tak mungkin berpisah dari keduanya. Aku tak mungkin memisahkan diri dari keduanya…..

Friday, August 20, 2010

Nenek ooh Nenek......

Entah beruntung, atau lebih cocok dibilang musibah ...tergantung dari sisi mana aku menilainya. Tunggu saja sampai aku selesai bercerita.Wanita paruh baya itu datang kerumah mencari pekerjaan sekitar hampir setahun yang lalu. Aku agak bingung, karena baru kali itu ada orang datang ke rumah dan menawarkan diri untuk menjadi pembantu. Wajahnya keriput, kulitnya coklat menua, rambutnya juga telah banyak dihiasi uban disana-sini. Tapi senyumnya itu lho, bikin aku ga berpikir dua kali lagi untuk memberikan kesempatan kepada orangtua didepanku ini sebuah pekerjaan yang ia butuhkan. kesimpulan awal: nenek yang ngakunya bernama Emmi itu adalah orang baik. OK, aku memang ga boleh menilai orang dari bungkus luarnya tanpa menyelidiki asal-usulnya secara jelas.(karena maraknya penipuan belakangan ini) Tapi sekali lagi senyum itu, menggambarkan hati yang tulus dan jujur. Tanpa KTP, dan ga jelas ia tinggal dimana, aku terima dia, jadi pembantu dirumahku.

Namanya Emmi. Titik. Ga ada terusannya. Ga ada nama keluarga atau nama belakang suami yang mencirikan dia pernah menikah. Pokoknya dia bilang, itu aja.Umurnya? Karena ga punya KTP, nenek Emmi sendiri bingung.Jadi sesuai dengan ciri-ciri fisik dia pun menyimpulkan bahwa usianya 50 thn...lewat dikit. Anggap aja bonus, karena sudah melewati separuh abad masa hidup. Menurutku seumur itu belumlah bisa dibilanng nenek-nenek, tapi mungkin  karena keadaan dan kesulitan hidup sehingga seorang bisa tampak sebegitu rentanya.

Anaknya 4, meninggal 1. Hebatnya 4 anak itu berasal dari 3 orang suami...(alamaaaakk!!).
Kalau sudah bercerita tentang suami-suaminya, nenek ga bisa direm. terussss nyerocos kayak kereta api cepat yang lupa singgah di stasiun manapun. Bersemangat....sambil diselingi tawa renyah khas seorang nenek tua. Sambil memijatku, dia terus berkisah, bahwa dulu dia adalah remaja yang cantik (percaya deh, nek) sehingga banyak pemuda di kampungnya yang jatuh hati. Pada usia 12 thn nenek Emi menikah. Tapi ga punya anak, karena pernikahan itu hanya sebuah syarat untuk menyatukan 2 keluarga.3 tahun kemudian nenek berpisah dengan suaminya. Dari Subang tempat asalnya, nenek merantau ke Jakarta, bekerja pertama kali di kawasan elite Kelapa Gading. Menawarkan jasa cuci dan setrika dari rumah ke rumah. Dan karena itulah, nenek bertemu suami keduanya, satpam perumahan...hmmm (senyum-senyum mode-on). dari si dia no 2 itu nenek dikaruniai 1 putra. Tapi nasib rumah tangganya tak beda dengan yang pertama. Cerai (kayak seleb aja, nek). Terus juga suami yang ke 3 (yang ini aku mulai ngantuk dengernya, sayup-sayup ga jelas, karena pijitan di punggung ku semakin bikin aku ingin tidur. Tapi busyet volume suara nenek masih stabil dengan semangat yang ga berkurang sedikitpun...).lahir 3 anak, 2  perempuan dan si bungsu laki-laki (syukurlah akhirnya ada bungsunya juga...kalau masih punya adik lagi...walaahhh ga kebayang deh).Tapi sedihnya saat remaja si bungsu meninggal. Kecelakaan! dan nenek sendiri tak tau dimana kuburannya karena semua anaknya ikut para suaminya.

Kasian juga nenek ya....

Nah sekarang mari kita bicarakan hal yang paling inti....Sehari setelah diterima bekerja, aku merasa sangat beruntung. Bagaimana tidak? Rumah aku dalam sekejap jadi rapi. Barang-barang kembali ke asal masing-masing. Lantai rumah tak lagi berdebu (maklum sebelumnya, aku ga punya pembantu untuk waktu yang cukup lama). Halaman tak lagi dipenuhi rumput, kertas, sampah dan  daun-daun yang berserakan (kesannya aku kok ibu yang jorok ya? hehehehe tapi begitulah kenyataannya....debu sampah dan kotoran akan selalu ada kan?) Sopannya, minta ampun. Kalau dipanggil, "'Neeeeekkkkkkk.....""langsung nyaut, ""Iya ..bu.....""....

3 hari, 4 hari, 5 hari...seminggu....mulai deh. Nenek mungkin sudah merasa terbiasa. Tidak perlu lagi harus berlaku baik untuk sekedar good performence atau dapat penilaian. Atau mungkin inilah si nenek yang sebenarnya. Pekerjaannya mulai asal."Nek...kok dapurnya belum dipel sih?" ...ohhhh iya lupa......nanti deh!. Lah...diingetin katanya lupa, bukannya langsung dikerjakan tapi nunggu lagi.
"Nek, kalau baju seragam yang udah disetrika, digantung dilemari, jangan dilipat, supaya ga kusut"...dengan santai nenek menjawab" gampangan dilipat aja bu, ahh. repot mesti gantung-gantung cari henger lagi..(hanger-red)"' waalllah keras kepala juga ni nenek.
Kalau dipanggil, udah harus berkali-kali padahal jaraknya ga terlalu jauh. Belum lagi cara menjawabnya ""hmmmm""....""apaan?.....""...""entarrrrr bu lagi nyetrikaaaaa"" seolah ga mau kalah dengan suara teriakanku.ckckckckc....

Suatu pagi, aku menyuruhnya untuk ke pasar. ''Nek, beli telur sekilo, kangkung, cabe dan pisang. '' ''Ditulis aja deh,Nek biar ga lupa....''...''Ga usah, bu" sahutnya enteng...''dikit kok ini....aku inget" akhirnya beliau pergi ke pasar, tapi itulah,  sudah nenek-nenek tapi masih mengingkari kodrat. apa lacur? Saat kembali yang dibeli adalah, kacang panjang, bawang merah, pisang dan tomat...lho? mana telur dan cabenya? alasannya: ""lupa, bu...pantesan uang sisanya masih banyak"". Uggghhhhhhh geregetan.

Itu baru beberapa contoh. Tiap hari ada aja ulahnya. Kemarin, aku dah pesan kalau tukang ac datang suruh masuk aja karena 2 ac di kamar sudah harus dibersihkan. Tapi ternyata saat tukang ac datang, nenek malah menyuruhnya  pulang saja karena anak-anak sedang tidur dan tidak mau diganggu. Aduhhh nenek, over inisiatif!!

oh ya satu lagi, masalah pendengaran: Ambil handuk biru, diambil handuk ungu. Obat Paramex, bilangnya Permeks (sampai jenggotan juga ga akan ada diwarung Permeks). disuruh jemur sandal eh malah yang dijemur bantal. Ambil karung yang dicari sarung...(cape deh...)....

Belum lagi sok taunya, tukang ngatur, kelewat rajin sampai tanaman aku yang baru jadi tunas dicabut karena dikira rumput...(uhhgghghgg.....geregetan lagi).kadang kelakuannya terkesan suka-suka. dateng jam berapa, pulang terserah. pusing deh ama nenek Emmi.

Tapi dari kekurangannya yang banyak itu....ternyata terselip juga kebaikan yang ga sedikit. Hanya nenek yang ga pernah marah saat meladeni bungsu aku, untuk makan. Lari sana-sini. Alasan ini itu. Tapi tetap si nenek sabar menyuapi. Sampai suapan terakhir. Bahkan, mereka berdua, anak bungsuku dan nenek adalah tim yang kompak. Biarpun ngantuk, nenek selalu bersedia  meladeni . Disuruh ini, itu...manut aja. ""ayo ..nek, aku pura-pura jadi guru ya...nenek ikutin aku olahraga...""..Mulailah si bungsu memperagakan gerakan-gerakan dari pemanasan, inti sampai pendinginan (kalau yang ini dia nyontek mamanya kalau lagi senam). Dari berdiri, melompat sampai tidur telentang dilantai sambil angkat kepala dan kaki (gerakan apaan lagi sih ini, yael??)Tapi bagi nenek itu tidaklah aneh. Seperti seorang murid yang patuh dia ikuti saja semua contoh gerakan anakku. "'satu...dua...tiga...satu...dua...tiga...""..hmmmm, taruhan deh...10 menit lagi pasti nenek dah ngerengek padaku minta dibeliin obat encok!

 Selain itu, kejujurannya membuat aku tenang saat meninggalkan rumah tanpa membawa kunci lemari. Atau ketika harus bepergian sekeluarga dalam waktu yang cukup lama. Juga yang ga boleh dilewatkan adalah skillnya dalam memijat....wahhh yang ini...beneran asyikkk. Aku tinggal merayunya dengan semangkuk bakso pastilah nenek Emmi dengan senang hati memainkan jurus-jurus jitu dalam melemaskan otot-otot tubuh.

Ya..itulah si nenek. Anggap saja aku beruntung memiliki dia. Jarang kan tenaga kerja yang masih exist di usia segitu.Untuk kekurangannya, hal ini kuanggap sebuah terapi untuk melatih kesabaranku. walaupun kadang-kadang ga tahan juga dengan sikap sok taunya itu. Aku berdoa  semoga nenek Emmi selalu sehat. Panjang Usia dan tetap menjadi bagian dalam keluarga kami.

Thursday, August 19, 2010

KEHILANGAN

Kaukah itu 
yang dicari jiwa yang sedang lelah
Mata malam tak lagi sanggup membaca
Karena hasrat telah lari entah pada siapa?!

Sadar aku, telah kehilangan
Gelisah dan penasaran seperti genderam yang tak mau diam
Muncul dan lenyap...mendera di kepala
Aku bertanya: kira-kira ditikungan mana?kelokan keberapa?dan persimpangan mana?
Jejakmu mulai tak nyata....

Harusnya tak kubangunkan kenangan. Ditubuhnya banyak rahasia terperam.
Apakah aku siap luka? Apakah kau siap luka?
Aku ingin sembunyi dari waktu, yang terus menerus menggodaku
Untuk menikmati surga lewat dua bola matamu
Yang menawarkanku cinta
Tapi sekaligus airmata......

Monday, August 16, 2010

Surat Kepada Martha Goddard

Martha, kalau malam ini kita bisa tergelak
Itu mungkin karena sisa minuman yang kutenggak
Sudah habis dibajak, masa tenggangnya

Aku jadi mabuk kepayang
Mengulang angan-angan yang sempat jadi usang

Martha, apakah aku pernah bilang, hidup adalah lagu
Yang coba kau dendangkan sambil makan malam
Diantara 2 lilin yang remang-remang???
(btw, jangan kau lupa syairnya...’biru’ dari Vina Panduwinata)

Martha, katamu : nikmati saja hidup

Namun kalau gelisah hanya bisa diperam
Dalam diam
Lalu bening apa yang disudut matamu itu??

Bagiku, rahasia hidup hanya mampu
Dipahami saat kita mengalir merupa sungai yang berujung muara
Tempat paling bahagia untuk bisa memberi dan menerima


(semoga waktu sanggup memaknai sebuah pertemanan)

Saturday, August 14, 2010

Dee.....

: DAN

Dee...ceritakan tentang duniamu, yang warnanya biru, bergelombang dan tak berdasar itu. mengapa kau betah menghirup wanginya yang asin dan tak bosan berlama-lama memandang tanpa  tau sudah berapa jauh kau dariku


Dee.....kupikir setelah pertemuan hari itu, akan ada yang berubah. aku mengira-ngira, apakah ada yang salah?. mungkin kau tidak suka pada caraku berbicara, tertawa, atau pada warna lipstik yang kupakai, bentuk alis dan juga hitam maskara?. apakah aku terlalu menor dan bajuku terlalu minim? apakah tanganku yang sengaja kukibas-kibas terlihat genit dimatamu?Ah Dee...aku hanya ingin terlihat sempurna. Aku teringat iklan sebuah parfum  di tv: 'kesan pertama begitu menggoda...selanjutanya terserah anda"...seandainya kau tau itu, tentu kau akan tertawa. aku juga ingin mentertawai diriku sekeras-kerasnya.....betapa aku terlihat seperti seorang idiot di depanmu. tapi kau tenang,Dee...bahkan kelewat tenang untuk sebuah pertemuan awal. tak ada kesan grogi...senyummu terus mengembang, matamu tajam menatap. aku rasa kau menyadari,  betapa aku sedang terpesona.



Dee...semalam kita bicara banyak. Mendengarmu seperti me-recharge energi baru untuk hidup. Ah, Dee..kalau tertawa adalah terapi terbaik bagi luka, maka malam itu aku bisa tertawa lepas dan begitu bebas. Tidakkah kau merasa kita aneh, Dee? ditengah malam buta kita sibuk mecari signal telepon genggam yang kadang susah diajak mengerti hati. berlari kesana kemari mencari titik koordinat yang tepat agar garis bar di hp tetap pada posisi pas untuk bicara...ga putus nyambung, karena dikerjain lokasi daerah  yang belum tersentuh tower-tower provider....
"ugh...ga kedengeran....." ..."jauh banget suaramu..."....."kok putus-putus sih?" begitulah...dijaman yang serba canggih ini, komunikasi kita masih seperti dua kaleng susu yang ditarik seutas benang panjang.....


Dee...aku selalu ingin kau ganggu. dengan telepon, bunyi bbm , atau sekedar sms sederhana : Apakah kamu sudah makan?Tak peduli pagi subuh, siang bolong atau tengah malam sekalipun. aku akan dengan senang hati meladeni bicaramu yang ngalor ngidul ga ada judul itu. kadang hanya mendengarmu berdehem karena serak ditenggorokan saja, itu sudah sangat menghiburku. membayangkan saat kau bicara wajah kita berhadapan. memandangmu dari jarak 5cm, menyentuh hidungmu yang bangir dan mengelus kulit mukamu yang halus mulus tanpa jerawat. Dee.....hatiku sakit sekali....karena ternyata kau berada  ribuan mil dari ku.


Apakah kau sadar Dee, Jarak telah menjebak kita, menggoda untuk terus berprasangka, menjauhkan kita dari ketenangan sebuah hubungan yang harusnya dibangun atas dasar saling percaya?. Andai  kau tak menutup pintu terlalu rapat, agar dalam diampun  kusanggup mendengar  harapan dan keluh kesahmu.


Ahhh...Dee, mengapa sulit bagimu untuk mengartikan isyarat mata hati yang kulempar berkali-kali?!!



 

Friday, August 13, 2010

Puisi 2


Aku lukis tertawa
Sperti juga menggambar tangis
Menggurat senyum
lalu menerawang duka
Menuang cinta
Keatas kue dadar
Lalu kusantap dengan
Asap malboro yang terus mengepul

Aku suka puisi
Sekali......

Puisi

 
Menari
Diantara irama kata-kata
Melekuk indah
Bagai tungkai balerina
Tak perlu kau mengerti
Puisiku...sangat sederhana
Jadi nikmati saja...

Bekasi, Maret 2009

Sajak buat Emma

Sudah...jangan kau cari rindu
Tak kan kau temukan diujung lembayung
Atau diselipan gelagah payau
Bagai bersayap
Dia sudah terbang...hilang dibalik gerombolan awan-awan

Buang kenangan dalam tubir tak bertepi
Agar kisah tak beranak petaka
Mungkin
Di terminal hidup ini
Kelak bisa kau nikmati
Punggung lelaki tuk tempatmu bersandar
Sekali lagi...

February 27, 2009 at 9:00pm

Mencintaimu secara sederhana

mencintaimu secara sederhana
adalah kisahku yang dillukis dewi malam
di wajah bulan

selalu merasa, cinta adalah
mengikhlaskan hari mencari degupnya
sendiri untuk lalu
dihabisi oleh waktu

tapi kemudian aku mengerti, mengapa
tak pernah pagi terburu-buru menyapa
embun dipucuk daun basah
karena akan ada selalu
sinar hangat yang setia menghapusnya

April 2009

Untuk Teman

Pujian manis yang kau tebar
Di hutan ilalang
Semoga tak segera
Hilang jadi santapan srigala
Saat berhala keluar mencari
Mangsa,

Aku sisakan ruang kosong
Dibathinku
Untuk waktu senandungkan
Kisah…
Agar cerita bagi kita
Tak kan usai hanya karena
Usia……



Bekasi, maret 2009

Kasmaran


Jangan panggil aku pujangga
Bunga perdu liar hanya sampai matahari bersinar
Daunnya bergegas merapat
Entah malu pada siapa

Semusim ini banyak kisah
Yang tergantung pada ranting-ranting rapuh
Pohon ara yang buahnya angan
Jika tak cukup tanah meresap hara
Bisakah angan merupa?

Kucari di dinding langit
Sekeping kata untuk digubah
Menjadi rangkaian mantera
Mengejar mantera yang berlompatan entah
Karena apa…
Hidupku sunyi bila kau tak kusua
mari…ragamu kucumbui
genderam hasrat bertabuh tak henti
Sadarlah!
Kasmaran aku padamu…ooh puisi.


Bekasi,  Maret 2009

Perjalanan Bandung Jakarta

Ada yang hilang antara perjalanan Bandung – Jakarta
Sekeping puzzle yang menjadi gambaran sempurna sebuah rangkuman perjalanan
Tercecer dimana kira-kira?
Dago kah? Yang hiruknya terbaca hingga pagi datang
Tugu Bandung Lautan Api kah? Tempat cinta dijaja paksa para waria?
Atau…
132 km Cipularang? yang mengunyah sunyi mimpi hingga basi?
Tiap kilat yang kau lempar dari isyarat ujung matamu kutangkap tawar
Please….Aku belum ingin kembali
Langit masih rembang, kita belum ke Lembang
Disana mata lembah dan bibir gunung bersentuhan

Aku ingin berdiri disana
Menyaksikan kabut dirajut dihadapan wajahmu yang larut

Mari kutunjukan tempat dimana kita lalai menandai jalan pulang
Di sini kita pernah sembunyi
Di sini kita pernah pura-pura mati

Aku ingin di sini
Sampai cahaya bulan terusir kepongahan matahari



Bekasi, Mei 2009

Kenangan

Mengingatmu, hatiku memerah darah.
Pada rumput, pada awan juga rintik gerimis, aku pernah menitipkan sajak rindu. Dan kini saat aku tak lagi dapat membaca tanda cuaca, dimana perginya rinduku itu?.hujankah yang membawanya hilang?atau darahku sudah tak lagi merah?

Mengenangmu, adalah mencium kepulan asap rokok yang surut diujung-ujung gaunku.
Tak ada senyum dimatamu yang muram.atau mungkin juga warna hujan senja itu membuat suasana semakin suram? Aku mengerti…api dihatimu sudah kau biarkan padam. Tinggal kepingan- kepingan kayu arang yang membawa aku dan kau pada kesunyian.

Sayangnya, aku tak paham membaca garis tangan.Kisah perjalanan atau juga suratan. Tak terbayang suatu pagi aku akan terbangun karena bingung.”Beri aku lautmu” pintaku kalut. “Jangan mangkir dari takdir, apakah luka sudah membuat kau lupa…?”Lautku hanya gelombang liar ..sungguh, aku tak mau kau mabuk sampai hilang rasa” katamu parau..

Pada rumput, pada awan juga rintik gerimis, aku pernah menitipkan sajak rindu. Dan kini setelah lama terlupakan, Aku mengerti apa itu kesendirian …aku mengerti apa arti kehilangan angan.




Bekasi, Juni 2009

Langit dan Bumi

Dia Langit. Berjalan dalam gerimis tipis-tipis sore itu.tidak ada yang berubah. Hanya rambutnya mulai bersinar perak digerus usia. Berjanji bertemu Bumi, wanita yang selalu dicintai dalam bayang-bayang. Bumi terlihat kurus dan pasi. Penuh beban yang disimpan dalam sepasang mata yang muram. “apa khabar?” langit membuka suara. “baik” balas bumi pelan. Lalu mereka diam. Sibuk dengan angan-angan? atau sedang berusaha menyembuyikan perasaan?
”sudah makan?” “tidak lapar”bumi menggeleng. Hatinya gusar.pikiranya mulai berputar-putar. Terus terang, pertemuan ini bukan untuk makan siang, bukan untuk bincang-bincang sambil tukar pikiran. Ini lebih penting dari itu.

Bumi :
Aku terkecoh cinta. Mengharap sesuatu yang tak berharga. Ingin lari dari takdir, tapi mimpimu membuat aku mabuk. Di hasratmu aku takluk. Ah !seandainya aku sigap, tak mudah terjebak pada dongengmu yang belakangan menjelma kepedihan, hingga larut pada waktu yang kutempuh sendirian.

Langit:
Maaf, kalau itu yang kau rasa. Tapi aku nggak gombal. Pula bukan pria begundal. Kita hanya sepasang pecinta yang salah menafsir, hidup tenang dipesisir atau nekat menerobos padang pasir. Cinta tak pernah salah diberi arti. Sudahlah jangan kau sesali jejak matahari. Pula waktu yang mengiringi langkah kita, .....semoga Tuhan memberi ampun dan tak menutup jalan pulang saat kita hendak kembali.


Langit mulai gelap. Gerimis berhenti. Lampu-lampu taman mulai menyala. Sudah berapa jam mereka duduk? Duhh! Kalau mengingat dulu, menit- menit yang berlalu adalah ancaman. Mengapa waktu merangkak cepat? Masih ingin berdua, masih ingin bersama.suara jangkrik seperti nyanyian merdu pavaroti. menari di telinga. Setiap sudut tempat seolah memberi warna kenangan. Sebut saja: tempat parkir, pasar swalayan, bangsal rumah sakit, sisi bukit, restorant atau terminal bus kumuh sekalipun....wahai ...dimana benih cinta luput disemai?

Langit:
Aku tak bisa menjanjikan apa-apa. Sebutan apa yang pantas bagi mu: kesalahan terindah atau cinta yang tak boleh kuhidupkan kembali, atau apalah, ...bagiku kau tetaplah keindahan............

Bumi :
Masa bodo! Aku tak mau sekarat di gempur keraguan. Jangan sesumbar soal kekekalan. setiamu mulai dipertanyakan. Aku merasa, ada yang berubah. Sepanjang percakapan sorot matamu tak pernah menatapku.apa yang kau sembunyikan, kekasih? Tangan langitmu tak lagi menggenggam. Inikah waktunya? Saat kau akan bilang : lebih baik kita kembali pada tempat kita berjejak? Aku adalah Bumi dan kau adalah Langit? jangan melangkahi suratan.!!!Begitukah!?

Bumi:
“Kau ingat menara Babel? Jalan yang ditempuh Bumi agar selalu dekat kepada Langit? Bukankah kita juga punya mimpi serupa? Yang dibangun hasrat selama bertahun-tahun? Sanggupkah kau menghapusnya seolah itu adalah parasit yang akan hilang saat air hujan menggenang?”

Bulan meratap. Mata malam senyap.Hati Bumi semakin dingin...meski ingin, tapi dilihatnya Langit mulai menyerah. Sadar betul Bumi, cinta tak boleh dipaksa. Suaranya pelan meminta pada Langit: “ Jangan kau pergi sebelum kau beri aku sebait sajak”

Langitmenggeleng :
Tau kah kau sayang? Dalam diam justru banyak cerita. Sajakku adalah bentangan cakrawala. Mengapa kau terus meragu? Cinta kita tak butuh kata, berapa harga kata?
Pejamkam matamu , nikmati sunyinya, dan biarkan angin mengubah kita menjadi apa saja. saat aku menjelma hujan yang jatuh ke tanahmu, membasahi wajahmu, membasahi hatimu....kau bahkan lebih indah dari puisi....


Bumi mendesah:
Dari dulu memang aku tahu, yang ada padamu hanya kegelapan. Yang kita punya hanya kegelapan. Meski kadang sempat berharap, dalam gelap kita masih bisa menatap.
Tapi sudahlah! Waktu kita sudah habis. Pergilah yang jauh....pergilah kepada awanmu, pergilah kepada bintang atau bulan yang ada di Langitmu.. Jangan kau pedulikan, apakah aku sanggup bangkit atau malah sakit. Biarkan aku tetap disini, menikmati luka dalam sendiri. Tetap mencintaimu...juga mencintai waktu!

Bekasi, Maret 2010

Sajak Ulang Tahun

Jangan pernah berkaca, hanya untuk menerka usia.Bukankah guratan wajah adalah tanda
sempurnanya perjalanan?Atau kau senang mengingkari keberadaan?Dan tergoda untuk menjadi pencundang?

Tanyakan!!Di dunia ini adakah ruang hampa untuk sekedar singgah? Melepas semua dongeng dan kenangan masa kecil yang didapat dari rumah daun diatas pohon, yang dibangun agar senantiasa tak ada hari untuk menjadi tua??

Kini, setelah lama menggelandang, menahan diri dari serbuan kenyataan .. akhirnya kau sadar. Takdir tak pernah salah menafsir...lihat! sudah sangat jauh kau dari kenangan...cerita dan kata-kata tak bisa lagi membuat wajahmu basah...walau seringkali kau bertanya : kapan ini berakhir?

Hai! Kau tak boleh berhenti!Biarkan anganmu terus merantau. Sampai kau temukan benua baru, dengan mataharimu sendiri dan bulan yang kau susun atas keinginan yang tak sanggup dibunuh oleh waktu.....yang berkali-kali membenamkan tubuhmu!!