Friday, August 20, 2010

Nenek ooh Nenek......

Entah beruntung, atau lebih cocok dibilang musibah ...tergantung dari sisi mana aku menilainya. Tunggu saja sampai aku selesai bercerita.Wanita paruh baya itu datang kerumah mencari pekerjaan sekitar hampir setahun yang lalu. Aku agak bingung, karena baru kali itu ada orang datang ke rumah dan menawarkan diri untuk menjadi pembantu. Wajahnya keriput, kulitnya coklat menua, rambutnya juga telah banyak dihiasi uban disana-sini. Tapi senyumnya itu lho, bikin aku ga berpikir dua kali lagi untuk memberikan kesempatan kepada orangtua didepanku ini sebuah pekerjaan yang ia butuhkan. kesimpulan awal: nenek yang ngakunya bernama Emmi itu adalah orang baik. OK, aku memang ga boleh menilai orang dari bungkus luarnya tanpa menyelidiki asal-usulnya secara jelas.(karena maraknya penipuan belakangan ini) Tapi sekali lagi senyum itu, menggambarkan hati yang tulus dan jujur. Tanpa KTP, dan ga jelas ia tinggal dimana, aku terima dia, jadi pembantu dirumahku.

Namanya Emmi. Titik. Ga ada terusannya. Ga ada nama keluarga atau nama belakang suami yang mencirikan dia pernah menikah. Pokoknya dia bilang, itu aja.Umurnya? Karena ga punya KTP, nenek Emmi sendiri bingung.Jadi sesuai dengan ciri-ciri fisik dia pun menyimpulkan bahwa usianya 50 thn...lewat dikit. Anggap aja bonus, karena sudah melewati separuh abad masa hidup. Menurutku seumur itu belumlah bisa dibilanng nenek-nenek, tapi mungkin  karena keadaan dan kesulitan hidup sehingga seorang bisa tampak sebegitu rentanya.

Anaknya 4, meninggal 1. Hebatnya 4 anak itu berasal dari 3 orang suami...(alamaaaakk!!).
Kalau sudah bercerita tentang suami-suaminya, nenek ga bisa direm. terussss nyerocos kayak kereta api cepat yang lupa singgah di stasiun manapun. Bersemangat....sambil diselingi tawa renyah khas seorang nenek tua. Sambil memijatku, dia terus berkisah, bahwa dulu dia adalah remaja yang cantik (percaya deh, nek) sehingga banyak pemuda di kampungnya yang jatuh hati. Pada usia 12 thn nenek Emi menikah. Tapi ga punya anak, karena pernikahan itu hanya sebuah syarat untuk menyatukan 2 keluarga.3 tahun kemudian nenek berpisah dengan suaminya. Dari Subang tempat asalnya, nenek merantau ke Jakarta, bekerja pertama kali di kawasan elite Kelapa Gading. Menawarkan jasa cuci dan setrika dari rumah ke rumah. Dan karena itulah, nenek bertemu suami keduanya, satpam perumahan...hmmm (senyum-senyum mode-on). dari si dia no 2 itu nenek dikaruniai 1 putra. Tapi nasib rumah tangganya tak beda dengan yang pertama. Cerai (kayak seleb aja, nek). Terus juga suami yang ke 3 (yang ini aku mulai ngantuk dengernya, sayup-sayup ga jelas, karena pijitan di punggung ku semakin bikin aku ingin tidur. Tapi busyet volume suara nenek masih stabil dengan semangat yang ga berkurang sedikitpun...).lahir 3 anak, 2  perempuan dan si bungsu laki-laki (syukurlah akhirnya ada bungsunya juga...kalau masih punya adik lagi...walaahhh ga kebayang deh).Tapi sedihnya saat remaja si bungsu meninggal. Kecelakaan! dan nenek sendiri tak tau dimana kuburannya karena semua anaknya ikut para suaminya.

Kasian juga nenek ya....

Nah sekarang mari kita bicarakan hal yang paling inti....Sehari setelah diterima bekerja, aku merasa sangat beruntung. Bagaimana tidak? Rumah aku dalam sekejap jadi rapi. Barang-barang kembali ke asal masing-masing. Lantai rumah tak lagi berdebu (maklum sebelumnya, aku ga punya pembantu untuk waktu yang cukup lama). Halaman tak lagi dipenuhi rumput, kertas, sampah dan  daun-daun yang berserakan (kesannya aku kok ibu yang jorok ya? hehehehe tapi begitulah kenyataannya....debu sampah dan kotoran akan selalu ada kan?) Sopannya, minta ampun. Kalau dipanggil, "'Neeeeekkkkkkk.....""langsung nyaut, ""Iya ..bu.....""....

3 hari, 4 hari, 5 hari...seminggu....mulai deh. Nenek mungkin sudah merasa terbiasa. Tidak perlu lagi harus berlaku baik untuk sekedar good performence atau dapat penilaian. Atau mungkin inilah si nenek yang sebenarnya. Pekerjaannya mulai asal."Nek...kok dapurnya belum dipel sih?" ...ohhhh iya lupa......nanti deh!. Lah...diingetin katanya lupa, bukannya langsung dikerjakan tapi nunggu lagi.
"Nek, kalau baju seragam yang udah disetrika, digantung dilemari, jangan dilipat, supaya ga kusut"...dengan santai nenek menjawab" gampangan dilipat aja bu, ahh. repot mesti gantung-gantung cari henger lagi..(hanger-red)"' waalllah keras kepala juga ni nenek.
Kalau dipanggil, udah harus berkali-kali padahal jaraknya ga terlalu jauh. Belum lagi cara menjawabnya ""hmmmm""....""apaan?.....""...""entarrrrr bu lagi nyetrikaaaaa"" seolah ga mau kalah dengan suara teriakanku.ckckckckc....

Suatu pagi, aku menyuruhnya untuk ke pasar. ''Nek, beli telur sekilo, kangkung, cabe dan pisang. '' ''Ditulis aja deh,Nek biar ga lupa....''...''Ga usah, bu" sahutnya enteng...''dikit kok ini....aku inget" akhirnya beliau pergi ke pasar, tapi itulah,  sudah nenek-nenek tapi masih mengingkari kodrat. apa lacur? Saat kembali yang dibeli adalah, kacang panjang, bawang merah, pisang dan tomat...lho? mana telur dan cabenya? alasannya: ""lupa, bu...pantesan uang sisanya masih banyak"". Uggghhhhhhh geregetan.

Itu baru beberapa contoh. Tiap hari ada aja ulahnya. Kemarin, aku dah pesan kalau tukang ac datang suruh masuk aja karena 2 ac di kamar sudah harus dibersihkan. Tapi ternyata saat tukang ac datang, nenek malah menyuruhnya  pulang saja karena anak-anak sedang tidur dan tidak mau diganggu. Aduhhh nenek, over inisiatif!!

oh ya satu lagi, masalah pendengaran: Ambil handuk biru, diambil handuk ungu. Obat Paramex, bilangnya Permeks (sampai jenggotan juga ga akan ada diwarung Permeks). disuruh jemur sandal eh malah yang dijemur bantal. Ambil karung yang dicari sarung...(cape deh...)....

Belum lagi sok taunya, tukang ngatur, kelewat rajin sampai tanaman aku yang baru jadi tunas dicabut karena dikira rumput...(uhhgghghgg.....geregetan lagi).kadang kelakuannya terkesan suka-suka. dateng jam berapa, pulang terserah. pusing deh ama nenek Emmi.

Tapi dari kekurangannya yang banyak itu....ternyata terselip juga kebaikan yang ga sedikit. Hanya nenek yang ga pernah marah saat meladeni bungsu aku, untuk makan. Lari sana-sini. Alasan ini itu. Tapi tetap si nenek sabar menyuapi. Sampai suapan terakhir. Bahkan, mereka berdua, anak bungsuku dan nenek adalah tim yang kompak. Biarpun ngantuk, nenek selalu bersedia  meladeni . Disuruh ini, itu...manut aja. ""ayo ..nek, aku pura-pura jadi guru ya...nenek ikutin aku olahraga...""..Mulailah si bungsu memperagakan gerakan-gerakan dari pemanasan, inti sampai pendinginan (kalau yang ini dia nyontek mamanya kalau lagi senam). Dari berdiri, melompat sampai tidur telentang dilantai sambil angkat kepala dan kaki (gerakan apaan lagi sih ini, yael??)Tapi bagi nenek itu tidaklah aneh. Seperti seorang murid yang patuh dia ikuti saja semua contoh gerakan anakku. "'satu...dua...tiga...satu...dua...tiga...""..hmmmm, taruhan deh...10 menit lagi pasti nenek dah ngerengek padaku minta dibeliin obat encok!

 Selain itu, kejujurannya membuat aku tenang saat meninggalkan rumah tanpa membawa kunci lemari. Atau ketika harus bepergian sekeluarga dalam waktu yang cukup lama. Juga yang ga boleh dilewatkan adalah skillnya dalam memijat....wahhh yang ini...beneran asyikkk. Aku tinggal merayunya dengan semangkuk bakso pastilah nenek Emmi dengan senang hati memainkan jurus-jurus jitu dalam melemaskan otot-otot tubuh.

Ya..itulah si nenek. Anggap saja aku beruntung memiliki dia. Jarang kan tenaga kerja yang masih exist di usia segitu.Untuk kekurangannya, hal ini kuanggap sebuah terapi untuk melatih kesabaranku. walaupun kadang-kadang ga tahan juga dengan sikap sok taunya itu. Aku berdoa  semoga nenek Emmi selalu sehat. Panjang Usia dan tetap menjadi bagian dalam keluarga kami.

No comments:

Post a Comment