23.00
Selagi kau lelap…aku memandangi wajahmu. Matamu yang tertutup rapat, hidungmu, rambutmu yang mulai ditumbuhi uban. Dan cara Tidurmu yang selalu terlentang. Aku tak pernah melihatmu tidur miring kekiri atau ke kanan. Selalu kearah yang sama.Tidurmu tenang, tanpa dengkur. Dulu .. aku suka sekali, meringkuk manja masuk ke dalam lenganmu, sesekali aku ciumi ketiakmu yang selalu wangi…dan kita berdua terlelap hingga pagi.
23.30
Masih memandangimu. Sadarkah kau aku sedang memperhatikan dengan detail lekuk-lekuk di wajahmu? Ternyata kita sudah tua. Kau tak beda denganku. Ada garis-garis halus disekitar mata, pertanda bahwa banyak hal telah kita lalui bersama. Aku tertegun sejenak. Bersama..benarkah?
23.45
Kau tak juga bergerak. Dengkurmu semakin halus, tanda tidurmu semakin dalam. Kira-kira apa yang sedang ada di alam bawah sadarmu? Apakah kau bermimpi? Mimpi tentang apa? Tentang siapa? Pernahkah kau mimpi tentang kita? Jujur saja…aku jarang sekali memimpikan dirimu. Aku bermimpi tentang banyak hal yang indah, aneh, seram, kacau, tapi itu bukan dirimu. Bukan tentangmu. Bukan tentang kita. Kalaupun mungkin aku bermimpi tentangmu, saat terjaga aku segera lupa. mungkin itu bukan mimpi yang berarti, itu biasa saja….biasa saja. Aku juga merasa aneh.
Tahukah kau 15 thn kita sudah bersama. Apakah ada lambang yang mewakilinya?seperti perak untuk 25 thn, emas untuk 50 thn, apakah kita tembaga? Atau perunggu?Besi mungkin ?ahh, aku tidak tahu. Apa pentingnya lambang-lambang seperti itu. Apakah kwalitas hubungan ditentukan dari waktu? Apakah emas akan selalu berarti emas bagi pasangan yang telah mencapai tahun ke 50? Aku pikir, tidak selalu demikian.
aku merasa perjalanan kita sudah sangat lama. Waktu bagiku merangkak begitu lamban. Mungkin kakinya yang hanya 2 itu letih menempuh. Karena jalan-jalan dalam kehidupan kita berdua terjal, berbatu, mendaki dan melelahkan. Banyak hal yang tertinggal dibelakang, dan entah kenapa kubiarkan saja. Enggan kutata kembali. Aku capek. Kehidupan terlihat sama dari hari kehari. Tanpa kejutan tak ada sesuatu yang baru. Semuanya biru atau mungkin semua putih..
Tunggu sebentar! Aku ingat… dulu tidak begini. diawal pernikahan aku sempat merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. Memilikimu, memiliki semuanya. Aku tak butuh apa-apa lagi. Hidupku lengkap, kau penyempurnanya. Fantastic man..!!!itulah dirimu bagiku. Bagaimana tidak? Kamu pintar, lembut, penuh perhatian, penuh kejutan, sangat ekspresif, selalu penuh kehangatan. Aku tak perlu bicara banyak, kau seolah tahu apa yang ada dikepalaku. Aku seperti anak kecil yang selalu ingin dekat dengan ibunya. Bergantung padamu. Aku tak bisa jauh, tak mau jauh. Aku bingung kalau 1 jam saja kau terlambat pulang dari kantor. Aku menunggu dengan penuh hasrat waktu untuk kita berdua di akhir pekan. Tak perlu pergi kemana, atau melakukan apa…selama ada kau, hanya duduk menemanimu sambil nonton bola di tv sudah seperti menikmati acara terpenting di dunia. Kaupun tak pernah marah, bila kuganggu saat sedang serius dengan setumpuk tugas-tugas kantor yang sengaja kau bawa pulang karena dikejar dateline.hahahhaha…aku memelukmu dari belakang (kau ingat?) menciumimu….menggeser beberapa senti semua kertas-kertas bertumpuk itu dan….mencuri seluruh perhatianmu…hanya untuk aku.
00.01
Akulah matahari. Akulah permaisuri. Ratu bagimu. Wanita no satu. Itulah aku…hingga…aku tak ingat lagi kapan tepatnya perubahan itu. Tidak drastis. Perlahan-lahan … sampai aku sendiripun tak menyadari. sampai saat kubuka mataku …aku tidak lagi mencari dirimu. Pergi atau ada ..kau tak ada bedanya.
Saat anak-anak kita hadir. Saat hidup mulai terasa sulit. Kau dituntut. Di tekan dihadapkan pada situasi yang sulit. Kau mulai berjalan sendiri. Kau mulai berpikir sendiri. Bekerja sendiri. Memutuskan sendiri. Aku seperti berlari-lari di belakangmu. Berusaha mengejar tapi kau sudah sangat jauh.
Kita jarang bicara. Kau sibuk . pekerjaan baru itu mulai menuntut seluruh waktumu. Mencuri hampir semua Perhatianmu. Pergi saat pagi anak-anak kita masih tertidur. Dan saat kau pulang akupun sudah tertidur. Berbulan bulan. Hingga masuk ke hitungan tahun. Situasi yang sama. Jenuh aku. aku mulai merajuk. Berdiam diri. Tak peduli. Berharap kau tahu dan mengerti. Berharap kaupun sama denganku. Bosan dengan keadaan ini. Tapi kulihat kau terlalu menikmati. Menikmati pekerjaanmu. “kau sudah tak sayang padaku” itu jeritku suatu pagi. Kau sudah rapi dengan kemeja dan dasi. Kau hanya menatapku “hari ini ada presentasi penting…bisa kita bicara nanti saja?” lalu segera mengambil tas kantor, tas laptop dan berlalu pergi. Aku termangu. Aku sendiri lagi. Tapi waktu yang kau janjikan tidak pernah ada. Kau hanya pernah bilang entah serius entah sambil lalu, karena caramu menyampaikan juga sambil mengerjakan sesuatu dan tidak focus pada pembicaraan kita. “kau harusnya mengerti. Kita bukan pengantin baru. Semua sudah berbeda. Ada ana-anak yang harus dipikirkan masa depannya. Hidup juga semakin sulit. Dan semua itu butuh prioritas. Pekerjaanku sekarang adalah sebuah kesempatan. Itu tidak datang 2 kali dalam hidup. Jadi kalau kau berpikir dengan pikiranmu yang sempit itu, kita akan susah. Percayalah…semua masih sama seperti yang dulu. Kau tak perlu meragukan aku”
00.30
Aku masih duduk menatapmu. Sesekali kulihat kau bergerak. Tanganmu berpindah posisi. Huuufttt…aku hampir tak bernafas. Aku sungguh tak ingin mengganggumu. Aku tidak tau harus percaya atau tidak pada kata-katamu.Benarkah kau tidak berubah? Berapa kali kita bercinta dalam sebulan? Dalam setahun? Aku tersenyum getir. Hampir tiap malam kau memilih tidur bersama anak-anak. Kenapa? Kau bilang karena rasa bersalahmu yang besar, karena tak punya cukup waktu bermain dengan mereka. Kau memang seorang bapak yang baik. Aku percaya itu. Tapi apakah aku harus selalu dituntut untuk memahami kondisimu?itu kah istri yang baik menurutmu?atau aku memang seorang penuntut yang menyebalkan?
Malam mulai merangkak pergi…kudengar tiang listrik disebelah rumahku dipukul 1 kali. Tanda waktu sudah lebih maju ke pukul 1 dini hari. Mataku mulai berat. Tapi aku enggan memejam. Banyak hal masih menari di kepalaku. Aku rebah. Mengambil posisi tak jauh darimu. Telentang. Apa sebenarnya yang sedang terjadi di antara kita? Atau mungkin lebih tepatnya apa yang sedang terjadi pada ku? Aku sedang tidak mengarang atau mengada-ada. Perasaan jenuh dan sendiri dan kesepian dan ditinggalkan dan diabaikan…..sungguh tidaklah nyaman. Sakit..sedih ..hancur…apakah itu berlebihan?mengapa kau bersikap biasa saja?
Aku semakin susah tidur….Benarlah orang bilang, bila ada yang kau sembunyikan, hatimu tak akan tenang. Pikiran gelisah.
Ini tentang dia. Aku bertemu dia. Tak sengaja. Hanya dari sebuah pesan singkat di handphone aku. Tak ada yang istimewa diawal. Bagiku itu hanya sebuah kebetulan. Kawan lama bersay hello..wajar bukan? Tapi terasa lain kemudian karena intensitas berhubungan yang tak dibatasi dengan waktu. Pagi, siang, sore, malam. Sms, bbm, telephone. Benang merahnya semakin jelas. Arah pembicaraan juga bukan lagi sekedar menanyakan äpa kabar?””berapa anakmu sekarang?”atau “apa kerjamu? Tinggal dimana?” ditambah lagi nostalgia masa lalu. Saling mengingat-ngingat hal-hal yang sempat terkubur puluhan tahun. Gila!! Kejadian itu 20 tahun lalu.
Peristiwa sederhana itu telah benar-benar menyihirku. Sinting! Ujarku pada diri sendiri. Mengapa aku hanya bisa diam? Mengapa aku seolah memaklumi perasaanku?apakah setia mulai berubah maknanya?tapi hatiku tak bisa diajak kompromi. Aku mematut wajahku dicermin…..tak terbayangkan aku masih bisa menikmati cinta diusia seperti ini. Geloranya tak berbeda seperti ketika masa sma dulu. Aku tersenyum sendiri. Membayangkan seperti apa dirimu kini? Tambah gemuk?dulu kau ganteng sekali. Apakah tak berubah?
Akhirnya kita bertemu.
Bertemu! Ada tanda seru(!) dan kalau perlu menggunakan under line dan huruf bold.entah kebranian dari ujung dunia mana yang akhirnya terkumpul di hatiku dan kemudian memutuskan untuk jumpa.Makan malam itu. Ngobrol sambil senyum senyum dan saling melempar pandangan. Aku gemetar. Lebih dari itu ada sesuatu di dadaku ini yang tak bisa kupaksa untuk diam. Sepertinya ia mau tumpah keluar. Sesak kalau ditahan. Apa itu namanya, Tuhan? Cintakah? Aku sudah tua!
Tak ada yang terjadi. Kami hanya makan malam.Syukurnya begitu.Tapi aku tak hendak berbohong pada diri sendiri. Cinta memang tak kenal usia. Saat panah cupid itu diarahkan dan hatikulah sasarannya, aku tak mampu menolak.bahkan menghindari saja rasanya sulit…(atau mungkin aku yang tak mau?) yah…anggap saja begitu. Pesonanya terlalu menarikku. Sampai akal sehat saja tak bisa kugunakan untuk bekerja. Terlalu terbuai.
Kau tau? Sejujurnya aku dilema. Kadang aku menangis, kadang aku tersenyum. Tertawa, lalu menangis lagi. Kewarasan dan kegilaan tak jauh batasnya dariku. Kau memberiku semuanya, kebahagiaan, kasih sayang, keluarga, anaka-anak…tapi tak pernah berpikir untuk selalu kau jaga. Aku merasa kita sedang mengayuh masing-masing kearah yang mungkin sama, tapi bisa juga berlainan. Dan saat aku sedang berjalan sendirian, aku menemukan dia. Sekeping puzzle yang ternyata begitu pas kulekatkan di hati. Kekosonganku terisi. Kesepianku terobati.
Aku salah? Ya aku tahu. Salahkan saja aku. Aku tak kan membela diri. Harusnya aku punya tameng terbuat dari baja yang siap menahan segala benturan. Segala godaan.Atau kacamata khusus berwarna hitam, yang membuat ku hanya mampu melihat dirimu dan hanya dirimu. Siapapun yang kulihat akan berubah wujud menjadi engkau. Duniaku adalah rumah mungil berukuran 150m2, dengan kamar 3, ruang tamu, ruang makan, dapur dan 2 kamar mandi, yang penghuninya adalah 3 putri cantik, aku dan kau sebagai pangerannya.kau pergi, kau datang…kau pergi jauhhhh dan aku ditinggalkan. Aku sendirian. Ahhhh..sudahlah ini bukan caraku mencari pembenaran diri. Jujur aku : aku sedang jatuh cinta. Mungkin ini penyakit untuk orang seusia kita. Tapi aku tak mau menolak perasaan itu. Aku ingin menikmati saat sepiku berganti keceriaan yang tak kubayangkan sebelumnya. Hati sakitku terhibur dengan suaranya. Aku seperti diberi sebuah kehidupan baru yang lebih punya warna….bukan melulu biru atau putih semata. Aku seperti bangkit dari dunia orang mati dan tersadar ternyata hidup begitu indah. Apakah aku harus melepaskan ini begitu saja?
Maafkan aku. Atau mungkin, aku tak kan termaafkan?
Ini sudah sangat pagi. Hansip di pos kamling itu mungkin lupa untuk membunyikan tanda pada tiang listrik di sebelah rumah. Tapi aku tahu benar sudah berjam-jam aku berpikir. Termenung. Ada hal-hal tertentu yang seharusnya tidak kau tahu. Akupun bukan ingin menipumu. 14 tahun, 9 bln, 76 hari bukan tak ada arti apa-apa bagiku. Kau tetap dia. Ayah anak-anakku. Cinta mula-mulaku. Saat ini, kalau hidup memberiku kebahagian baru, …maafkan kalau itu tak bisa kuhindari.
Di kehidupan ini, aku adalah sebatang pohon, berdiri sendiri ditengah luasnya padang rumput. Sejauh mata memandang hanyalah kehijauan yang luas. Hamparan rumput yang dibatasi garis langit. Biru langit di atasku. Hijau rumput di hadapanku. Aku tak mungkin berpisah dari keduanya. Aku tak mungkin memisahkan diri dari keduanya…..
halo....wakh keren buanget nih blognya...salam kenal yah
ReplyDeleteMakasih Harry....salam kenal juga
ReplyDelete