Mencintaimu, adalah mencintai waktu. Sejarah yang mengukir minggu, bulan dan tahun dengan sempurna. Sejarah yang tak lupa mencantumkan dengan teliti setiap detail kejadian kita sehingga tak ada peristiwa yang terlewat dengan sengaja. Tiap waktu punya cerita. Tiap cerita menebar aroma.Seperti wangi sup ayam ibu yang saat tercium dari radius 5 meter sudah membuat perut terasa kosong. Setiap mengingat dirimu...aku terbius.
Katamu: aku akan mengembara.Berbulan-bulan.Menjelajahi banyak tempat...selat, tanjung, pulau, benua, kota, gunung, bahkan semua titik yang sanggup tercatat mata peta. Tak pasti kapan akan kembali.Gelap langit, awan comulus,pasang laut,serpih ombak atau bulan yang sebelah...adalah pertanda bahwa dalam diriku tak kan kau temukan pendar cahaya...
Katamu: jangan menungguku! dengan mantel,payung biru,syal ungu dan wajah merah dadu.Kau harus pandai sembunyikan isyarat agar hati tak jatuh merindu.
Namun, waktu telah berhasil memenjarakan aku. mengurung pada lembar-lembar malam. Mengajari ku untuk memintal benang menjadi tembang. Lalu dengan nada sedikit sumbang akupun bernyanyi, mengiris dingin malam dengan lagu kesepian.
Bukankah aku tak pernah meminta lebih dari sekedar senyummu yang ngambang? Bahkan aku rela hanya merupa bayangan, terpanggang terik siang lalu terhisap hilang....
Mencintaimu adalah mengerti waktu.Bahwa yang hilang jangan pernah kaucari. Tapi yang tergenggam haruslah tetap kaupegang.Airmata, arah angan, sunyi mimpi dan harapan bukanlah teka-teki bagi waktu. Temukan kuncinya dan pahami: bahagia adalah bahasa sederhana dari luka...nikmati saat kau bisa.
Sadarku:
Waktu adalah engkau, yang mencintaiku dengan rasa biru
Sadarku:
Waktu adalah engkau, yang mencintaiku dengan rasa biru
Yang menderaku dengan memar cemburu
Waktu adalah dirimu, yang menyekapku ditubuh malam
Dan menjadikanku kunang-kunang
Waktu adalah dirimu, yang menyekapku ditubuh malam
Dan menjadikanku kunang-kunang
No comments:
Post a Comment