Entah mengapa aku suka sekali nama pria yang berakhir dengan suku kata ‘dee’
(baca: di). Dedi, Shandy, Baldi, Wandee, Dandy,
Di…Di…Di… Bersyukurnya, aku selalu dikelilingi oleh nama-nama itu. Guru
Bahasa Inggrisku saat SMA Pak Suhardi. Teman
dekat semasa kuliah, Lourdy. Dan saat
ini kepala bagianku yang gantengnya
bikin setiap wanita di kantor meneteskan liurnya, Jourdy!
Apa sih istimewanya sebuah nama
yang berakhir dengan suku kata ‘di’ itu? Aku tak menemukan jawaban pasti. Tapi bagiku,
saat seseorang memperkenalkan diri, menyebutkan namanya dan artikulasi ‘di’ itu
terdengar ditelingaku, hatiku langsung bergetar. Wajahku sumringah. Bling..bling bintang-bintang bertaburan
dikepalaku….hmmm kuanggap bunyi ‘di’itu laksana
nyanyian merdu yang mampu memesona hatiku. Bukan…lebih dari itu,
menyihirku.
Kesukaanku pada pemilik nama
berakhiran ‘di’, layaknya sudah harus dilampu merahi, melampaui batas
kewajaran, masuk penilaian: memprihatinkan. Bayangkan, aku pernah berlari
sekencang-kencangnya mengejar seseorang yang sempat kudengar beberapa menit
lalu memperkenalkan dirinya kepada orang
disampingku yang juga sama-sama tidak kukenal, telingaku berdiri bagai radar
saat menangkap bunyi ‘di’ diucapkan…..aku mendengarnya sebagai “Waldy……”.
Benar, aku mengejarnya….untuk memastikan pendengaranku dalam kondisi yang prima
saat kuserap bunyi itu dan ingin sekali aku juga berkenalan. Menambah koleksi
teman, kolega, sahabat, relasi atau entah apa sajalah, predikatnya asalkan dia
lelaki yang memiliki nama dengan suku kata istimewa ‘di’.
“Hei…Dy…..tunggu….tunggu….”teriakku
pada orang yang kuyakin namanya adalah Waldy. Orang itu berhenti berjalan.
Menoleh ke arahku. Dan tentu saja berdiri bingung. Aku terengah-engah…berhenti
persis di hadapannya. Tersenyum lebar. Sangat senang.
“Hallo Dy..kamu Waldy, bukan? Aku
mendengarmu bersalaman dengan seseorang di lorong dekat lift…”kataku antusias sambil
menyorongkan tangan hendak menjabat tangannya. Tapi sepemilik nama yang kuklaim
sebagai Waldy itu, memandangku masih dengan pandangan bingungnya.
“Kamu salah dengar, namaku
Tobbie……” katanya tanpa basa-basi, lalu
berbalik pergi. Bi…bukannya Di seperti yang tertangkap radar intai telingaku. Tapi Aku tak menyesalkan peristiwa itu. Bagiku ‘di’
tetaplah tujuanku berlari-lari, dan kalau pun ternyata bukan, ya sudahlah…walaupun, tak kusangkal, wajahnya ganteng bukan main.
Suatu kali, telepon
bordering-dering. Dengan sigap kuangkat, karena ternyata semua staff juga
sedang dalam kondisi on line.
“Swaradika Advertising, selamat
siang”sapa ku ramah kepada siapapun di
seberang sana.
“Selamat siang, tolong pak Jourdy Setiadi….”katanya
buru-buru.
“Dari siapa pak?”
“Katakan saja Suhardi ingin bicara”
suaranya tegas dan berwibawa. Pasti bukan hendak menawarkan
makan siang. Atau hanya sekedar
menanyakan khabar baik dan bagaimana keadaan keluarga. Tapi tunggu dulu…dia
menyebutkan namanya tadi. Suhardi! Tak asing di telinga dan hatiku, bunyi ‘di’
. benar-benar ‘di’..bukan bi, ti, atau si, atau li.
“Tunggu sebentar pak! Bisakah bapak
mengulangi nama bapak tadi?”
“Suhardi” ia mengulanginya agak
keras.
“Su Har Di….pakai ‘di’ kan, Pak? D
I ..’di’, wah nama bapak bagus sekali. Saya paling senang mendengar seseorang
menyebutkan ‘di’ sebagai suku kata terakhir namanya. Dan nama itu……...”
Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku karena,
braaaaakkk! Gagang telepon diseberang sana dibanting dengan sangat
kasar. Aku melongo. 15 menit kemudian, aku dipanggil Pak Jourdy. Tak perlu
detail nya kuceritakan, karena 30 menit
sesudah itu, aku keluar dari ruangannya dengan muka merah padam. Surat
peringatan pertama. Pak Suhardi, lelaki yang nama ‘di’nya kukagumi itu,
ternyata Vice President Swaradika
Advertising, dan kurang lebih sejam yang lalu ia sedang dalam kondisi sangat sangat serius, tidak mau diganggu,
tidak ingin basa-basi dan sangat tidak ingin bercanda. Ck ck ck…matilah aku.
***
“Mungkin ini karma, nak”begitu kata
ibu. Ia bercerita saat dulu masih muda, ia pernah menolak sesorang lelaki yang
mati-matian jatuh bangun mencintainya. Laki-laki itu botak, pendek hitam dan
satu lagi, saat ia tersenyum, kumisnya yang lebat itu tertarik keatas hingga
memperlihatkan barisan gigi geligi yang…..rasanya kurang pantas bila aku
menuliskannya. Sudahlah! Intinya ibuku menolaknya mentah-mentah. Mungkin jiwa
muda ibu merasa sedikit terusik…karena si bapak gemuk pendek dan hitam itu
berani-beraninya tanpa sedikitpun pertimbangan malu dan minder, mencintai ibuku,
si kembang desa yang saat itu sedang mekar berkembang. Dan disinilah
letak karmanya, lelaki yang ditolaknya itu bernama : Ruhadi. Sekali lagi….terdengar
ibuku melafalkan ‘di’dengan cukup terang
dan jelas.
Tapi itu masih sebuah kemungkinan. Perekaan,
yang belum teruji pasti kebenarannya. Yang jelas, aku tergila-gila pada akhiran
‘di’yang melekat pada sebuah nama lelaki. Aku bukan seperti ibu. Mungkin bila
saat itu aku jadi ibu, aku pasti akan senang sekali menyadari ada seorang ‘di’yang
mencintaiku, walaupun fisik dan penampilannya pastilah akan membuatku
mengejang, mirip orang hendak bersalin. Sengsara…itu maksudku.
Jadi , fisik bukanlah hal utama aku
menerima seorang lelaki untuk berada
disekitar kehidupanku. Menjadi teman dekatku, teman ngobrolku, teman curhatku,
teman belanjaku, teman cafeku, kakak angkatku, paman angkatku, atau kekasih dan
bisa jadi suamiku. Yang penting bagiku adalah dia, si lelaki itu harus memiliki
‘di’sebagai suku kata terakhir dalam namanya. Hanya itu syaratnya. Hanya sesimpel
itu.
***
Dia, lelaki itu, mengejarku. Persis seperti aku mengejar
seorang yang kukira bernama Waldy. Dia, berlari kencang, sekencang-kencangnya. Jatuh
tersungkur, bangun dan berlari kembali. Jatuh bangun ..tapi tak pernah berhenti
berlari. Sementara aku, hanya beku.Acuh. bukan sama sekali tak menarik. Justru sama
sekali tak jelek. Beberapa temanku malah menyetarakannya dengan salah satu
bintang film korea. So Ji Seob, ufhht…susah betul mengejanya. Wajahnya yang
oriental, penampilannya yang menarik, kehadirannya terasa sekali karena wangi
tubuhnya yang semerbak saat dia datang , aku menduga setiap hari dia berendam
di bathtub yang penuh dengan segala
macam bunga dan rempah. Juga yang semakin membuat teman-temanku hampir pingsan adalah, 2009 Alfa Romeo 8C .Merah membelalak! persis
mata teman-temanku, adalah ‘tumpangannya’yang sengaja diparkir tepat didepan
pintu masuk ruang tunggu kantorku. Lelaki ini sungguh serius pamer kesuksesan.
Pertanyaannya , adakah yang kurang
dari si So Ji Seob ini? Tentu saja hampir tidak ada. Hanya, …yaaaa itu dia, ibu
dan ayahku, teman-teman dekatku tahu betul, dia tidak punya nama belakang
berakhiran ‘di’. Namanya sangat amerika. Berbau merk sepatu ternama. Keith Charles
Aryawinata. Dia bukan ‘di’ku. Bahkan seujung bunyipun tak ada unsur ‘di’. Dan itu
yang membuatnya sangat kurang dimataku. Ditelingaku.
***
Akhirnya aku bersanding juga.Menikah.
Dengan seseorang. Bukan dengan Keith. Si
tampan bintang Korea itu, lama-lama kecapean dengan sikapku yang tak
lumer-lumer. Akhirnya dia mundur dan memilih salah seorang temanku yang memang
sudah lama mengincarnya. Cintaku akhirnya meleleh di hati seorang lelaki matang
segala. Umurnya matang, demikian juga dengan karir dan wajahnya. Kalau So Ji
ehh Keith maksudku, mengejarku jatuh bangun hanya 3 bulan, si pria matang
segala ini mengejarku 3 tahun 3 bulan lebih 3 hari, tanpa lelah dan sangat tekun. Aku
benar-benar meleleh dan melebur dibuatnya. Akhirnya aku menyerah, pada prinsip
yang hampir seumur hidupku kupegang erat. Aku melepaskannya demi sebuah
ketekunan dan perjuangan cinta yang tak kenal putus asa. Aku berdamai dengan
hati dan telingaku terhadap sebuah kenyataan bahwa pria yang kupilih menjadi
orang nomer satu di hidupku ini ternyata bukanlah lelaki yang memiliki nama
dengan akhiran kesayanganku ‘di’. Itu artinya aku harus sudah siap untuk tidak
lagi mengagungkan pria bersuku kata akhir ‘di’lagi. Dan memang itulah
keputusanku. Semua itu karena dia. Namanya Amaluddin. Memang agak sedikit
bernuansa pedesaan. Tapi tak apalah, mengingat usahanya yang tak pantang
menyerah untuk mendapatkanku, lagipula…seandainya huruf ‘N’tak ada, pastilah
dia masuk kualifikasi.
Malam itu, dibawah terang purnama,
kami duduk berpelukan. Angin bertiup
semilir, sayup sekali. Langit bagaikan kanvas maha luas yang dilukisi jutaan
cahaya bintang. Suasana puitis yang menghanyutkan aku untuk bertanya satu
pertanyaan penting yang selama ini mengganjal di hatiku.
“Mas….”bisikku manja.
“Ya sayang?”…tangannya semakin erat
dirangkulkan ke pinggangku.
“Katakan jujur padaku, apa yang
membuatmu tak pernah menyerah untuk mendapatkan cintaku, aku menghitungnya. 3 tahun, 3 bulan
dan 3 hari, bukanlah waktu yang singkat untuk terus bertahan, tanpa sedikitpun
respon baik dariku…”
Suamiku tersenyum. Lama sekali dia
memandangku.
“Aku sudah jatuh cinta padamu sejak
pertama kali kita berkenalan. Sejak kita bertemu 3 tahun yang lalu. Dan sejak
itu aku bertekad sungguh untuk mendapatkanmu. Berjuang dengan segala cara untuk
menaklukkan hatimu. Aku tak pusing dan tak ambil peduli dengan sikapmu yang
dingin, cuek, berlagak tidak membutuhkan cinta.”
“Ia mas…itulah yang aku kagum
darimu…tapi boleh kah aku tahu mengapa
bisa demikian? Apakah itu yang namanya kekuatan cinta?” Tanya ku terus
mendesaknya.
“Sayang….dari kecil, entah kenapa
aku suka wanita yang memiliki nama berakhir dengan suku kata ‘ti’. Luar biasa
indah di telingaku. “ Ia terus berbicara dengan antusias.
“ Dan tahukah kau sayang, saat kau
jabat tanganku, aku mendengar bunyi ‘ti’di akhir kata engkau mengucapkan namamu…hatiku
bergetar…aku tersihir…terpana…aku berpikir, engkau wanita ‘ti’yang kucari
selama ini….”
“Kau tahu…”katanya memegang wajahku
dengan kedua belah tangannya..matanya berbinar-binar.
”Namamu, Astuti Arty Widiarti….bayangkan,
sayang…diusiaku yang matang ini, dan setelah pencarian yang begitu panjang dan
melelahkan jiwa, cinta tak saja memberiku 1 kebahagiaan, bukan juga double,
tapi sekaligus triple…ini luar biasa…kalau kau memperpanjang waktu
ketidakpedulianmu padaku pun, aku dengan rela akan terus menanti…berjuang hingga
titik darah penghabisan”
Haaaaaahhhh?????? Mendengar itu aku
terbelalak. Diam, melongo....hanya melongo.....