Tuesday, October 26, 2010

Nama 'Dee'


Entah mengapa aku suka sekali nama  pria yang berakhir dengan suku kata ‘dee’ (baca: di). Dedi, Shandy, Baldi, Wandee, Dandy,  Di…Di…Di… Bersyukurnya, aku selalu dikelilingi oleh nama-nama itu. Guru Bahasa Inggrisku  saat SMA Pak Suhardi. Teman dekat  semasa kuliah, Lourdy. Dan saat ini kepala bagianku yang  gantengnya bikin setiap wanita di kantor meneteskan liurnya, Jourdy!
Apa sih istimewanya sebuah nama yang berakhir dengan suku kata ‘di’ itu?  Aku tak menemukan jawaban pasti. Tapi bagiku, saat seseorang memperkenalkan diri, menyebutkan namanya dan artikulasi ‘di’ itu terdengar ditelingaku, hatiku langsung bergetar. Wajahku sumringah.  Bling..bling bintang-bintang bertaburan dikepalaku….hmmm kuanggap bunyi ‘di’itu laksana  nyanyian merdu yang mampu memesona hatiku. Bukan…lebih dari itu, menyihirku.
Kesukaanku pada pemilik nama berakhiran ‘di’, layaknya sudah harus dilampu merahi, melampaui batas kewajaran, masuk penilaian: memprihatinkan. Bayangkan, aku pernah berlari sekencang-kencangnya mengejar seseorang yang sempat kudengar beberapa menit lalu  memperkenalkan dirinya kepada orang disampingku yang juga sama-sama tidak kukenal, telingaku berdiri bagai radar saat menangkap bunyi ‘di’ diucapkan…..aku mendengarnya sebagai “Waldy……”. Benar, aku mengejarnya….untuk memastikan pendengaranku dalam kondisi yang prima saat kuserap bunyi itu dan ingin sekali aku juga berkenalan. Menambah koleksi teman, kolega, sahabat, relasi atau entah apa sajalah, predikatnya asalkan dia lelaki yang memiliki nama dengan suku kata istimewa ‘di’.
“Hei…Dy…..tunggu….tunggu….”teriakku pada orang yang kuyakin namanya adalah Waldy. Orang itu berhenti berjalan. Menoleh ke arahku. Dan tentu saja berdiri bingung. Aku terengah-engah…berhenti persis di hadapannya. Tersenyum lebar. Sangat senang.
“Hallo Dy..kamu Waldy, bukan? Aku mendengarmu bersalaman dengan seseorang di lorong  dekat lift…”kataku antusias sambil menyorongkan tangan hendak menjabat tangannya. Tapi sepemilik nama yang kuklaim sebagai Waldy itu, memandangku masih dengan pandangan bingungnya.
“Kamu salah dengar, namaku Tobbie……”  katanya tanpa basa-basi, lalu berbalik pergi. Bi…bukannya Di seperti yang tertangkap radar intai telingaku.  Tapi Aku  tak menyesalkan peristiwa itu. Bagiku ‘di’ tetaplah tujuanku berlari-lari, dan kalau pun ternyata bukan, ya sudahlah…walaupun,  tak kusangkal,  wajahnya ganteng bukan main.
Suatu kali, telepon bordering-dering. Dengan sigap kuangkat, karena ternyata semua staff juga sedang dalam kondisi on line.
“Swaradika Advertising, selamat siang”sapa ku ramah kepada siapapun  di seberang sana.
“Selamat siang, tolong pak Jourdy Setiadi….”katanya buru-buru.
“Dari siapa pak?”
“Katakan saja Suhardi ingin bicara” suaranya tegas dan berwibawa. Pasti bukan hendak   menawarkan makan siang. Atau hanya  sekedar menanyakan khabar baik dan bagaimana keadaan keluarga. Tapi tunggu dulu…dia menyebutkan namanya tadi. Suhardi! Tak asing di telinga dan hatiku, bunyi ‘di’ . benar-benar ‘di’..bukan bi, ti, atau si, atau li.
“Tunggu sebentar pak! Bisakah bapak mengulangi nama bapak tadi?”
“Suhardi” ia mengulanginya agak keras.
“Su Har Di….pakai ‘di’ kan, Pak? D I ..’di’, wah nama bapak bagus sekali. Saya paling senang mendengar seseorang menyebutkan ‘di’ sebagai suku kata terakhir namanya. Dan nama itu……...”
Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku  karena,    braaaaakkk! Gagang telepon diseberang sana dibanting dengan sangat kasar. Aku melongo. 15 menit kemudian, aku dipanggil Pak Jourdy. Tak perlu detail nya kuceritakan,  karena 30 menit sesudah itu, aku keluar dari ruangannya dengan muka merah padam. Surat peringatan pertama. Pak Suhardi, lelaki yang nama ‘di’nya kukagumi itu, ternyata Vice President  Swaradika Advertising, dan kurang lebih sejam yang lalu ia sedang dalam kondisi  sangat sangat serius, tidak mau diganggu, tidak ingin basa-basi dan sangat tidak ingin bercanda. Ck ck ck…matilah aku.
                                                  ***

“Mungkin ini karma, nak”begitu kata ibu. Ia bercerita saat dulu masih muda, ia pernah menolak sesorang lelaki yang mati-matian jatuh bangun mencintainya. Laki-laki itu botak, pendek hitam dan satu lagi, saat ia tersenyum, kumisnya yang lebat itu tertarik keatas hingga memperlihatkan barisan gigi geligi yang…..rasanya kurang pantas bila aku menuliskannya. Sudahlah! Intinya ibuku menolaknya mentah-mentah. Mungkin jiwa muda ibu merasa sedikit terusik…karena si bapak gemuk pendek dan hitam itu berani-beraninya tanpa sedikitpun pertimbangan malu dan minder, mencintai ibuku, si kembang desa yang saat itu sedang mekar berkembang.  Dan disinilah  letak karmanya, lelaki yang ditolaknya itu bernama : Ruhadi. Sekali lagi….terdengar ibuku melafalkan ‘di’dengan cukup  terang dan jelas.
Tapi itu masih sebuah kemungkinan. Perekaan, yang belum teruji pasti kebenarannya. Yang jelas, aku tergila-gila pada akhiran ‘di’yang melekat pada sebuah nama lelaki. Aku bukan seperti ibu. Mungkin bila saat itu aku jadi ibu, aku pasti akan senang sekali menyadari ada seorang ‘di’yang mencintaiku, walaupun fisik dan penampilannya pastilah akan membuatku mengejang, mirip orang hendak bersalin. Sengsara…itu maksudku.
Jadi , fisik bukanlah hal utama aku menerima seorang  lelaki untuk berada disekitar kehidupanku. Menjadi teman dekatku, teman ngobrolku, teman curhatku, teman belanjaku, teman cafeku, kakak angkatku, paman angkatku, atau kekasih dan bisa jadi suamiku. Yang penting bagiku adalah dia, si lelaki itu harus memiliki ‘di’sebagai suku kata terakhir dalam namanya. Hanya itu syaratnya. Hanya sesimpel itu.
                                                  ***

Dia, lelaki itu,  mengejarku. Persis seperti aku mengejar seorang yang kukira bernama Waldy. Dia, berlari kencang, sekencang-kencangnya. Jatuh tersungkur, bangun dan berlari kembali. Jatuh bangun ..tapi tak pernah berhenti berlari. Sementara aku, hanya beku.Acuh. bukan sama sekali tak menarik. Justru sama sekali tak jelek. Beberapa temanku malah menyetarakannya dengan salah satu bintang film korea. So Ji Seob, ufhht…susah betul mengejanya. Wajahnya yang oriental, penampilannya yang menarik, kehadirannya terasa sekali karena wangi tubuhnya yang semerbak saat dia datang , aku menduga setiap hari dia berendam di bathtub yang penuh dengan segala macam bunga dan rempah. Juga yang semakin membuat teman-temanku hampir pingsan  adalah, 2009 Alfa Romeo 8C .Merah membelalak! persis mata teman-temanku, adalah ‘tumpangannya’yang sengaja diparkir tepat didepan pintu masuk ruang tunggu kantorku. Lelaki ini sungguh serius pamer kesuksesan.
Pertanyaannya , adakah yang kurang dari si So Ji Seob ini? Tentu saja hampir tidak ada. Hanya, …yaaaa itu dia, ibu dan ayahku, teman-teman dekatku tahu betul, dia tidak punya nama belakang berakhiran ‘di’. Namanya sangat amerika. Berbau merk sepatu ternama. Keith Charles Aryawinata. Dia bukan ‘di’ku. Bahkan seujung bunyipun tak ada unsur ‘di’. Dan itu yang membuatnya sangat kurang dimataku. Ditelingaku.
                                                                              
                                                    ***

Akhirnya aku bersanding juga.Menikah.  Dengan seseorang. Bukan dengan Keith. Si tampan bintang Korea itu, lama-lama kecapean dengan sikapku yang tak lumer-lumer. Akhirnya dia mundur dan memilih salah seorang temanku yang memang sudah lama mengincarnya. Cintaku akhirnya meleleh di hati seorang lelaki matang segala. Umurnya matang, demikian juga dengan karir dan wajahnya. Kalau So Ji ehh Keith maksudku, mengejarku jatuh bangun hanya 3 bulan, si pria matang segala ini mengejarku 3 tahun 3 bulan  lebih 3 hari, tanpa lelah dan sangat tekun. Aku benar-benar meleleh dan melebur dibuatnya. Akhirnya aku menyerah, pada prinsip yang hampir seumur hidupku kupegang erat. Aku melepaskannya demi sebuah ketekunan dan perjuangan cinta yang tak kenal putus asa. Aku berdamai dengan hati dan telingaku terhadap sebuah kenyataan bahwa pria yang kupilih menjadi orang nomer satu di hidupku ini ternyata bukanlah lelaki yang memiliki nama dengan akhiran kesayanganku ‘di’. Itu artinya aku harus sudah siap untuk tidak lagi mengagungkan pria bersuku kata akhir ‘di’lagi. Dan memang itulah keputusanku. Semua itu karena dia. Namanya Amaluddin. Memang agak sedikit bernuansa pedesaan. Tapi tak apalah, mengingat usahanya yang tak pantang menyerah untuk mendapatkanku, lagipula…seandainya huruf ‘N’tak ada, pastilah dia masuk kualifikasi.
Malam itu, dibawah terang purnama, kami duduk berpelukan.   Angin bertiup semilir, sayup sekali. Langit bagaikan kanvas maha luas yang dilukisi jutaan cahaya bintang. Suasana puitis yang menghanyutkan aku untuk bertanya satu pertanyaan penting yang selama ini mengganjal di hatiku.
“Mas….”bisikku manja.
“Ya sayang?”…tangannya semakin erat dirangkulkan ke pinggangku.
“Katakan jujur padaku, apa yang membuatmu tak pernah menyerah untuk mendapatkan  cintaku, aku menghitungnya. 3 tahun, 3 bulan dan 3 hari, bukanlah waktu yang singkat untuk terus bertahan, tanpa sedikitpun respon baik dariku…”
Suamiku tersenyum. Lama sekali dia memandangku.
“Aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita berkenalan. Sejak kita bertemu 3 tahun yang lalu. Dan sejak itu aku bertekad sungguh untuk mendapatkanmu. Berjuang dengan segala cara untuk menaklukkan hatimu. Aku tak pusing dan tak ambil peduli dengan sikapmu yang dingin, cuek, berlagak tidak membutuhkan cinta.”
“Ia mas…itulah yang aku kagum darimu…tapi boleh kah aku tahu mengapa  bisa demikian? Apakah itu yang namanya kekuatan cinta?” Tanya ku terus mendesaknya.
“Sayang….dari kecil, entah kenapa aku suka wanita yang memiliki nama berakhir dengan suku kata ‘ti’. Luar biasa indah di telingaku. “ Ia terus berbicara dengan antusias.
“ Dan tahukah kau sayang, saat kau jabat tanganku, aku mendengar bunyi ‘ti’di akhir kata engkau mengucapkan namamu…hatiku bergetar…aku tersihir…terpana…aku berpikir, engkau wanita ‘ti’yang kucari selama ini….”
“Kau tahu…”katanya memegang wajahku dengan kedua belah tangannya..matanya berbinar-binar.
”Namamu, Astuti Arty Widiarti….bayangkan, sayang…diusiaku yang matang ini, dan setelah pencarian yang begitu panjang dan melelahkan jiwa, cinta tak saja memberiku 1 kebahagiaan, bukan juga double, tapi sekaligus triple…ini luar biasa…kalau kau memperpanjang waktu ketidakpedulianmu padaku pun, aku dengan rela akan terus menanti…berjuang hingga titik darah penghabisan”

Haaaaaahhhh?????? Mendengar itu aku terbelalak.  Diam, melongo....hanya melongo.....



Monday, October 25, 2010

Eksekusi.....


Aku tak akan pernah tahu. Bila tak mencoba. Tapi untuk sesuatu yang pastinya disebut kegilaan yang bodoh, bahkan orang paling idiotpun tak akan sudi  melakukannya.            
            Katakan saja aku bodoh. Atau mungkin idiot plus. Tapi kupikir aku hanya membantu. Membantu pekerjaan Tuhan, agar tak repot-repot menamatkan hidupku, karena aku sudah lebih dahulu melakukannya.Secepat kilat, 5 menit kurang beberapa detik. Variannya beberapa. Tapi aku lebih suka tali yang menggantung. Sepertinya tidak terlalu menyakitkan tapi dijamin benar-benar berhasil. Tidak setengah mati, atau seperempat mati.
            Dalam sekejap aku memang benar-benar telah berpindah tempat tinggal. Meninggalkan rumah ku yang nyaman dengan pohon mangga yang buahnya hampir ranum seluruhnya. Meninggalkan kamarku yang mungil dan hangat. Meninggalkan ayah, ibu, Ragil anjingku dan Emon sahabatku. Dunia yang membesarkanku dengan matahari, bulan, bintang-bintang dan begitu banyak keindahan, kebaikan. Juga kegetiran. Dunia yang memperkenalkan aku kepada rasa cinta dan juga mengambilnya dengan sedikit memaksa. Dunia itu ..sekarang begitu jauh dari jangkauanku.
            Aku melihat. Polisi datang. Orang berkerumun. Ibu menjerit tak kuasa menyaksikan tubuh kematianku yang kaku diturunkan. Ayah hanya berdiri di pintu kamar …matanya bergetar. Tapi berusaha tegar. Emon, sahabatku tercinta….jatuh pingsan, dan tetangga berusaha memapah dan mendudukannya di kursi tamu. Suasana begitu hingar, bahkan setiap orang berbicara dengan volume tinggi, hampir berteriak tapi justru semakin tidak jelas apa yang mereka katakan. Rumah kami menjadi lautan manusia, didalam dan diluar rumah, penuh kerumunan. Ah, belum pernah aku menjadi pusat perhatian seheboh ini.
                                                         ***
            Hidupku biasa saja. Tidak sedang tertekan atau menderita. Tidak sedang putus cinta, putus asa atau juga terlilit hutang. Otakku waras dan tidak sedikitpun berpikir atau merancang perbuatan pembunuhan berencana atas tubuh sendiri. Tapi kematian itu sendiri selalu menjadi misteri bagiku.  Aku pernah melihat seseorang memotong  ayam. Pisau yang diletakkan tepat diujung urat leher itu mengiris perlahan. Lalu saat yakin telah putus, ia melemparkan sang ayam malang ke tanah. Menggelepar, ke kiri dan kenan, membanting tubuhnya sendiri hingga diam tak bernyawa. Itu binatang. Yang hanya punya tubuh dan jiwa. Tanpa Roh. Saat Jiwanya tak lagi mendiami tubuh jasmani, kemana ia pergi? Lalu Bagaimana dengan mahluk manusia? Bagaimana dengan aku? Kemana perginya ruh saat tak lagi lekat pada tubuh? Aku teringat saat berusia 6 tahun, tanteku meniggal. Aku menyaksikan saat-saat terakhir itu dengan sangat dekat dan jelas. Nafasnya yang berusaha ditarik dalam seolah tertahan didada. Tenggorokannya bersuara, persis seperti ayam yang disembelih, dan mata itu…melihat kearah tertentu, membesar, entah takut atau terkejut. Apakah ada yang dilihatnya? Setan atau malaikat? Lalu seluruh keluarga berkumpul dan mulai berdoa penyerahan. Menyerahkan seluruh jiwa raga dan rohnya agar dapat segera  pergi tanpa tersiksa. Dan benar, tak berapa lama, tanteku meninggal. Seluruh keluarga meraung tak kuasa melihat dia menutup mata. Tapi yang jadi pertanyaanku, kemana dia pergi? Mengapa semua seperti orang tak kuasa menahan diri kalau memang dia tak hendak kemana-mana? Tapi memang sejak saat itu aku tak pernah melihatnya lagi muncul dirumah apalagi bercerita bersama orangtuaku. Dia benar-benar menghilang dari dunia ini. Dan karena pengalaman  itulah, dalam otakku ini, tak pernah jeda sedikitpun untuk  aku selalu berpikir tentangnya. Tentang Kematian.
            Sejalan dengan waktu, akupun  tahu, kematian bukan hanya sebuah takdir  yang tak bisa dihindari, tetapi juga sebuah pilihan yang dengan sadar dijalani. Dulu, saat aku kecil pikirku, hanya Tuhanlah yang memiliki hak untuk mengambil kehidupan manusia. Dan manusia dengan pasrah menerima kondisi itu tanpa dapat berbuat banyak. Tapi ternyata, manusia pun dapat bertindak sebagai tuhan atas diri sendiri maupun bagi orang lain. Mengambil wewenang Tuhan menghabisi hidup manusia lain dan juga menghabisi diri sendiri
Tuhan sudah mengatur alam sedemikian harmoninya, sehingga di dunia ini segala sesuatu tampil berpasangan dan pula  bertolak belakang, satu melengkapi yang lain. Satu melawan yang lain, untuk menyempurnakan keseimbangan. Langit dan bumi, panas dan dingin, gunung dan laut, terang dan gelap, hidup dan mati. Kehidupan itu indah dan kematian menyempurnakannya. Kehidupan itu hidangan utama dan kematian dessertnya. Tapi kehidupan ada didepan mata. Terlihat jelas dan teraba arahnya. Bernafas, berbicara, bertemu seseorang, makan, minum, tidur, bekerja, bercita-cita,bercinta,  menikah, melahirkan, berbuat ini berbuat itu…..lalu  kematian menghentikan, menyelesaikan, dan menghabisi. Selesai dalam arti yang sebenarnya. Karena tidak ada kelanjutan cerita sesudah itu. Benar-benar tamat. Tapi benarkah demikian? Benarkah suatu saat, dihidupku yang luar biasa penuh kemajemukan   ini, tak bisa kulanjutkan setelah aku mati? Atau adakah sebuah kehidupan yang berbeda setelah maut datang menjemput seseorang? Kehidupan yang mungkin jauh lebih menarik lagi. Bagaimana aku dapat mengetahuinya? Bagaimana aku menguak jati diri kematian yang sebenar-benarnya?
            Tapi aku menduga, banyak orangpun senang dengan rahasianya, kematian maksudku. Lihat saja, angka pembunuhan semakin meningkat. Tindakan bunuh diri, data akuratnya bukan menurun dari tahun ke tahun. Orang mulai bermain-main dengan takdir,hidup  dan misteri kematian itu sendiri. Dan kematian semakin terkesan menarik. tepatnya menarik-narik perhatianku. Pastilah ia punya lengan yang sanggup menggerakkan pikiran manusia dan mendorongnya untuk berbuat nekat menghabisi tubuhnya sendiri. Atau orang lain. Kemarin , orang dikejutkan dengan penemuan mayat yang dimutilasi. 14 bagian tubuhnya dibuang ke sejumlah tempat terpisah. Dan pastilah kita tak sangka, bahwa pelakunya seorang ibu tua yang tubuhnya jauh lebih kecil dari korbannya. Juga peristiwa beberapa tahun silam, 2 remaja ditemukan tewas bunuh diri dengan cara melompat bebas dari lantai tertinggi sebuah pusat perbelanjaan. Terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan, di tempat yang juga sama. Aneh dan sangat nyata. Ini kalau bukan karena kematian itu indah dan luar biasa menarik, adakah orang-orang waras rela melakukannya? Lihat saja kasus-kasus serupa di internet. Alamaaak…ada videonya pula. Layaknya seorang pramugari pesawat yang sedang memperagakan cara menggunakan life jacket. detail dan sistematis. Slow motion pula, sehingga detik demi detik rekaman kejadian bunuh diri itu benar-benar dapat di nikmati, dicermati dan mungkin pula akhirnya menjadi inspirasi bagi setiap yang ingin mencoba, ïni loh the best performance. Cara  yang paling banyak ditiru..”begitulah kira-kira pikiranku saat melihat satu persatu  rekaman video itu di you tube. Dilihat dari peminatnya, maksudku pelaku bunuh diri itu, Bukan saja  dari kalangan anak muda, yang pikirannya hanya berjalan satu langkah kedepan atau bahkan diam ditempat, tapi hampir terwakili dari semua kalangan. Orang kaya, miskin, anak-anak yang baru melek huruf sampai orang yang karena usia akan menutup mata alias tua renta, juga kalangan berpendidikan tinggi yang otaknya sudah dijejali, dipenuhsesaki ajaran-ajaran sehat dan masuk akal serta bagaimana mengendalikan diri dengan baik dan meresponi segala kejadian dengan positif.
Bisa kubayangkan daya tariknya. Godaannya. Aku berpikir, Apakah sebenarnya yang terjadi saat detik-detik terakhir, saat nafas masih dapat ditarik sedalam-dalamnya? Bagaimana rasanya melihat tangan kematian itu mengulur dan kemudian menyentuh lalu menarikmu kuat-kuat dari kehidupan? Bagaimana rasanya berpindah dari sebuah alam yang nyata terlihat dan teraba kepada sebuah ruang alam raya asing yang hanya berisi roh-roh beterbangan. Persis serupa di film-film horror Indonesiakah?
            Aku, pada akhirnya, melalui  pemikiran yang panjang, menimbang, dan  setelah sedemikian matangnya dikepalaku,  menetapkan - aku mungkin tak akan pernah tahu, bila tak mencoba. Meskipun orang paling gila pasti mengira dia jauh lebih waras daripada aku- aku akan melakukannya. Aku sudah siap melakukannya. Menguak rahasia dibalik kematian. Dengan sadar menjadi sukarelawan. Lalu,  Apa ya yang pertama-tama harus kupersiapkan? Oh ya, surat wasiat. Agar mereka, terutama orang terdekat dan terkasihku, tidak perlu saling menuduh siapa dan apa penyebab aku nekat melakukan perbuatan, yang hingga detik terakhirku buat keputusan ini, aku tetap saja merasa ini sangat salah. Tapi, seumur-umur aku akan hidup penasaran dengan pertanyaan dan pemikiran anehku terhadap kematian, yang sudah membawaku ke ujung paling bingung dalam hidup. Mencari tapi tak pernah menemukan. Mengorek-ngorek seperti anjing mencari tulang, tapi saat tanah sudah sangat dalam tergali, tetap saja yang ada hanya bebatuan. Kebingungan. Ketidaktahuan.
            Lalu malam itu, setelah semuanya rapi tersiapkan, kusampirkan tali  tambang (yang aku sangat yakin kuat dan cukup liat) melalui 2 cabang batang mangga yang kokoh. Aku tarik-tarik untuk meyakinkan posisi yang tepat. Aku mengambil sebuah bangku yang akan kugunakan untuk naik dan berdiri sebelum tali yang melilit sempurna menjerat leherku.hmmm…persis seperti peragaan di video yang ada di internet. Hmm.. adakah yang kurang lagi?
            Aku telah siap. Diatas bangku. Leherku terlilit tali. Tinggal selangkah lagi, yakni bangku di tendang,  tali melilit leher dan tubuhku akan tergantung. Namun, aku sempat terpekur lebih kurang beberapa detik. Benarkah tindakanku ini? Aku bukan seorang yang sedang patah arang. Putus harapan atau dihajar kegagalan hidup. Satu-satunya kegagalan adalah, aku gagal menyingkap pertanyaan dan misteri yang selama ini kucari dari kematian. Tapi di detik terakhir perbuatan nekat itu, aku sempat berpikir, apakah aku harus melakukan ini? Tidakkah aku menyerah saja dan meninggalkan itu semua tetap sebagai sebuah misteri dan bagian dari kehidupan, dan bukannya berdiri sendiri sebagai kematian? Bukankah hidupku sangat majemuk? Diijinkan melalui pasang naik dan pasang surut agar aku dapat terus belajar daripadanya, dan juga belajar bahwa ada bagian dalam kehidupan yang tidak boleh aku langgar karena bukan wewenangku,  walaupun aku hampir mati penasaran karenanya…aku sedang berpikir keras…sangat keras….sampai tak sadar, sepasang kucing betina dan jantan terlibat asmara saling berkejar-kejaran, sedemikian kencang lari mereka, dan akhirnya menabrak bangku yang kugunakan untuk menyangga kedua kakiku. Bangku itu jatuh terguling, tali tambang otomatis menjerat dan  melilit leherku, erat sekali, nafasku tercekik tak lagi bisa kutarik. Terkejut aku karena  beberapa detik yang telah lewat, aku masih berpikir untuk membatalkan kegilaan ini.Tak menyangka bahwa pada akhirnya aku menemui wajah kematian, disaat kesadaranku untuk tidak lagi bertanya dan mencari tahu tentangnya telah tiba. Sungguh, ini baru namanya mati konyol. Konyol bukan kepalang.

Wednesday, October 13, 2010

Hukum Rimba

Rumah Jompo, Panti wredha, atau apapun sebutan halus atau kerennya, tetaplah sebuah bangunan yang menggambarkan manifestasi keteransingan bagi sebagian orang yang sudah berumur. Walaupun anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.Mungkin karena kebanyakan dari mereka bernasib serupa. Dijauhkan dari kehangatan sebuah keluarga. Dan tidak punya pilihan.

Memilih atau karena mungkin juga dipaksa memilih, untuk menghabiskan sisa usia pada sebuah tempat yang seluruh penghuninya kecuali pengurusnya tentu saja, adalah para manusia yang telah renta termakan jaman. Umur mereka rata-rata 60 tahun keatas, dengan ciri fisik  secara umum adalah: tulang belakang yang mulai melengkung, kulit penuh lipatan, gigi yang tak lengkap, rambut memutih rata, mata yang lamur dan ada beberapa yang malah sudah pikun.

Begitulah...ironis memang. Saat usia tak lagi gagah, seolah orang tak memiliki wewenang atas kepemilikan tubuhnya sendiri. Tak bisa lagi bisa memilih apa yang mau dan tidak dimaui, apa yang disuka dan tidak disukai. Ada orang-orang yang jauh lebih bersemangat, lebih berenergi, penuh potensi, berumur jauh lebih muda, yang melakukan sesuatu untuk mereka. Dan mereka harus menerima, entah dengan senang hati atau gundah gulana.Sungguh perasaan mereka tak lagi diperhitungkan.

Yayasan Panti Wredha Kasih Insani....tidaklah sulit menemukannya. Berlokasi di jalan utama tak jauh dari pusat kota. Gedungnya besar dan beraksitektur kolonial Belanda. Pintu dan jendelanya besar dan lebar-lebar.Gedung tua itu benar-benar mewakili image penghuninya yang juga sudah  dirajam usia.

Tapi sungguh! letak dan arsitektur rumah panti itu jauh dari kesan keterasingan. Pusat kota, rindang, teduh, hijau dan nyaman, begitulah tergambar sempurna saat  langkah kaki memasuki lahan yang luasnya hampir 1200m2.Dipagari oleh pohon akasia dan halaman yang dipenuhi berbagai tanaman buah rindang. Rumput jepang dan batu koral yang menghiasi tanah dengan rapi justru membuat keberadaan panti jompo itu lebih mirip villa atau tempat peristirahatan yang sangat menentramkan jiwa.Samasekali tidak ada kesan asing dan terabaikan.

Ini kali ke-3. Laki-laki tegap berkacamata itu berkunjung. Dia mulai terbiasa dan beradaptasi dengan lingkungan panti. Tidak canggung dia menyapa tukang kebun yang sedang merapikan rumput, dan kemudian meneruskan langkah menuju ruang tamu.Sebuah tas plastik hitam berisi buah-buahan sebagai oleh-oleh tergenggam ditangan kanan dan semua itu segera diserahkan dengan senyum mengembang pada pengurus panti. Pengurus pantipun dengan senang hati mengantarnya ke sebuah kamar yang terletak di paling ujung dan belakang menghadap ke taman belakang yang rindang.

Kamar itu selalu sunyi. Sesunyi penghuninya yang sepertinya sudah tidak peduli lagi akan hidup atau harus bertahan. Hidup bagi wanita  kurang dari 70 tahun itu adalah kurungan penuh  sepi, sejak 3 anak lelakinya memutuskan melemparnya ke rumah bagi para manusia tak berguna (begitu ia beranggapan terhadap panti jompo). Walaupun di panti ini semua penghuni bersikap ramah dan bersahabat, juga pengurusnya begitu sabar melayaninya, tapi kehangatan rumah dan perhatian anak-anak kandungnya,  tak mungkin bisa tergantikan dengan semua itu. Dan itu yang membuatnya sakit dan tercampakkan.

Anak-anak adalah hidupnya. Seperti oksigen segar bagi paru-paru dan aliran darahnya. Alasannya untuk hidup dan layak disebut sebagai ibu. Kekuatannya saat segalanya tak mampu menopangnya untuk terus percaya pada hidup. mata ketiga arjunanyalah yang membuat api semangatnya terus berkobar.Lalu,  bagaimana mungkin, saat dirinya telah tua renta tak berguna, ia dipaksa harus menghitung sisa umur di penjara mewah bernama panti wredha? Dipisah jauh dengan sengaja dari anak-anak dan cucu-cucu yang adalah alasan terpenting dia masih ada di dunia ini? Ini Pembunuhan berencana!!Ini pelecehan terdahsyat atas Kasih agung yang pernah diberikankan tanpa pamrih dari sosok manusia bernama ibu. Dan Ibu Tinah begitulah ia disapa, tak pernah habis mencerna pikirannya, "inikah balasan atas cinta kasih ku selama ini????" Hatinya hancur.

Kehidupan terberat bukan saat Bu Tinah harus bekerja keras memeras keringat demi menghidupi ke3 buah hatinya, saat sang suami pergi meninggalkannya karena perempuan lain. Kehidupan terpahit bukan saat Bu Tinah menghadapi cobaan demi cobaan seorang diri, hanya agar anak-anak mendapat pendidikan yang terbaik yang bisa diberikannya. Bukan!Semua itu mampu ditanggungnya. Tapi sungguh hancur hatinya melihat anak-anak itu memutuskan menaruhnya di pembuangan bagi orang-orang tua tak berguna ini. Terpuruk bersama rekan jompo lainnya. Teringat ketika tangannya menggapai memanggil nama si bungsu, memohon belas kasihannya untuk tidak meninggalkannya disana....tapi mereka, ke3 anaknya, tetap melangkahkan kaki dan pergi. Pahit......sakit.....rasa itu sepertinya tak bisa hilang dari hatinya.

Pintu kamar dibuka dengan hati-hati,"Siang bu Tinah...ada tamu spesial buat ibu" petugas panti masuk dan menyapa. "Mas Rimba datang ni bu....bawa oleh-oleh lagi, khusus dibawa untuk makan siang berdua dengan ibu"
Orang yang dipanggil Rimba, langsung menghampiri dan mencium tangan  bu Tinah yang segera tersenyum senang menerima kedatangannya. Sejak menjadi penghuni panti selama 1 tahun, kedatangan Rimba adalah saat yang sangat menghibur dan dinanti-nanti.

Rimba bukan siapa-siapa. Tidak ada pertalian keluarga. Bu Tinah tidak mengenal nya sama sekali. Tapi ini sudah kali ke-3 dia datang berkunjung selama sebulan terakhir .Dia menemukan Panti ini dengan tidak sengaja sebulan lalu karena nyasar tidak menemukan alamat yang sedang dicari. Dan pertemuannya dengan Rimba dianggapnya sebagai kado termanis dari Tuhan. Saatnya mencicipi rasa lain selain kepahitan.

Rimba  sangat baik. Sopan dan hangat. Setiap kali berkunjung, yang dicarinya adalah Bu Tinah. Selalu Bu Tinah. Walaupun semua penghuni panti pastilah senang menyambut kedatangan Rimba, karena pemuda itu selalu datang dengan membawa oleh-oleh bagi pengurus dan semua penghuni panti. Tapi mereka semua tahu, Rimba datang special untuk bu Tinah.

 Bu Tinah pun tak pernah mempertanyakan asal usul anak itu.Siapa orangtuanya, darimana asalnya, bagaimana keluarganya?, mengapa belum menikah di usia 35thn? .Mengapa selalu datang sendiri?dll.Baginya cukup tahu bahwa Rimba bekerja di sebuah  Harian Umum lokal,   entah divisi apa, atau bagian apa....itu tidak penting! Pada diri Rimba, Bu Tinah melihat  sosok anak-anaknya. Jadi, kalau Rimba mau meluangkan waktu untuk menjenguk saja itu sudah sangat disyukurinya.

Kunjungan ke-4, ke-5, ke-6 dan seterusnya dan seterusnya. Bu Tinah tak perlu menghitungnya. Hampir setiap minggu. Kadang 2 kali seminggu. Tidak ada yang keberatan. Bahkan kalau bisa dan boleh, dia ingin Rimba selalu disampingnya. Bu Tinah selalu penuh perhatian  mendengar laki-laki itu curhat, memperhatikannya bicara, atau hanya duduk berjam-jam menikmati udara malam yang dingin. Bicara atau diam saja bagi bu Tinah sama asyiknya. Diam baginya  adalah bicara tanpa kata-kata, tetap indah, tetap bermakna. Ikatan antara mereka semakin dalam. Semakin kuat...setidaknya itulah yang dirasakan Ibu Tinah.

Suatu senja, ditempat yang sama seperti kemarin-kemarin. Tempat keduanya biasa, berbincang. Rimba mengajukan sebuah pertanyaan yang tak biasa.

"Didunia ini, apakah yang paling ibu takutkan?"

Bu Tinah tertegun,memandang wajah Rimba dalam-dalam. Tak langsung menjawab. Matanya menerawang jauh, teringat tangannya yang menggapai saat bungsunya meninggalkan dia di panti jompo ini. Jerit tangisnya mirip anak balita ditinggal ibunya saat pertama kali masuk sekolah Taman kanak-kanak, tapi tetap tak digubris ke-3 anaknya. Masih lekat dikepala adegan dramatis itu. Dan jujur saja hatinya masih sakit.

"Ibu  takut ditinggal sendirian,nak. ibu masih trauma dengan kejadian 1 tahun yang lalu. Kehilangan orang-orang yang kita sayangi adalah hal paling menakutkan dalam kehidupan ibu. Rasanya dunia berubah gelap. Tidak berarti lagi. Mungkin kematian jauh lebih melegakan daripada harus menempuh kehidupan dalam kesendirian seperti ini" 

"Tenang Bu Tinah,...."Rimba menggenggam tangan bu Tinah erat. "Masih ada Rimba"
suaranya berusaha menenangkan bu Tinah.

                                                           ----
Hari ini ulang tahun Bu Tinah yang ke 70 tahun. Dua hari yang lalu Rimba menelepon dan memberi tahu bahwa ia akan menjemput Bu Tinah dan memberinya sebuah kejutan.Dia menunggu anak itu sudah sedari siang. Tidak sabar, kira-kira kejutan apa yang akan diberikan kepadanya?

Tepat jam 5 sore, Rimba datang dengan mobil  Toyota  Avansa produksi 10 tahun lalu. Tanpa membuang waktu, ia menggandeng bu Tinah menuju kendaraan dan segera meluncur perlahan menuju sebuah tempat tujuan. Sebuah tempat penuh kejutan.

Mereka sudah berkendara selama 25 menit dalam diam. Bu Tinah melirik Rimba. laki-laki itu hanya diam saja. Sorot matanya tajam menatap lurus ke arah jalanan. Bu Tinah memperhatikan perlahan penampilan lelaki disampingnya itu. Ini bukan penampilan Rimba yang biasa. Kurang rapi, sepertinya belum mandi. Ada bulu-bulu kasar yang baru saja tumbuh disekitar dagu dan diatas bibirnya. "Lupakah ia bercukur?Apakah ia belum mandi? Bukankah hari ini sudah ada kesepakatan untuk merayakan ulangtahunku, seperti janjinya 2 hari lalu?" gumam bu Tinah pelan. Tapi ia sungkan menanyakannya.

Hampir 1 jam berkendara. Tujuan belum jelas juga. Mau kemana ini? Ia memberanikan diri bertanya.
"Nak Rimba......kita akan kemana? Lama sekali perjalanannya....kok ga sampai-sampai ya?"
Tapi pertanyaan itu tidak mendapat respon apa-apa. Rimba hanya menoleh dan menatapnya selama 5 detik. Lalu kembali berkonsentrasi pada perjalanan. Aneh sekali. Ini benar-benar bukan pribadi Rimba yang dia tau selama ini. Matanya yang tajam lekat menatapnya, seperti menyembunyikan sesuatu.

Langit sudah gelap. Jalanan sepi. Bu Tinah merasa matanya mulai berat.Beberapa saat kemudian, ia mulai pulas terlelap. Saat terbangun ia sudah berada di sebuah ruangan berdinding putih, berukuran 4x4m. Terang sekali dan  luas karena tak ada satupun perabot kecuali sebuah kursi dan meja. Didinding dibelakang meja, tampak sebuah pigura besar, tapi tak jelas apa gambarnya karena mata bu Tinah sudah tak jelas melihat tanpa menggunakan kacamata.Dan sebuah jam dinding bulat, yang bunyi jarum detiknya bisa terdengar jelas. Pukul 9 malam. Ia sendirian. Dimana Rimba? Mengapa ia bisa sampai di ruangan ini? Mengapa tiba-tiba jantungnya berdegup begitu kencang. Bu Tinah mulai takut. Dengan hati-hati ia menuju pintu, dan mulai membukanya. Tidak bisa. Terkunci dari luar. Ini tidak beres.....Ia mulai berteriak memanggil "Rimbaaaaa......."................."Rimba.................!! Tolong buka pintunya, Nak."

Tidak ada jawaban selain kesunyian. Ia benar-benar khawatir. Jelas-jelas ini bukan kejutan yang ia harapkan. Sekuat tenaga dipukulnya pintu kayu itu berkali-kali. Tetap tidak ada respon. Ia bisa merasakan bunyi jantungnya berdegup. Badannya lemas. Buru-buru ia menuju tempat duduk yang hanya satu diruangan itu. Mengambil nafas dalam dan berusaha tenang. "Rimba ....dimana kamu, nak? mengapa ibu kau tinggal sendirian? " Bu Tinah membathin...atau apakah Rimba sedang pergi membeli makan malam? ahh tidak mungkin.  Ini sudah lewat waktu makan malam. Kemana anak itu sebenarnya?

 Bu Tinah memandang pigura didinding belakang meja. Tergantung tak begitu tinggi. Dengan berjalan perlahan didekatinya bingkai kaca itu. Ukurannya cukup besar. Dari jauh tak begitu jelas gambar apa yang terpampang didalamnya. Tetapi setelah didekati dan memasang kacamatanya, Bu Tinah bisa melihat dengan sangat jelas. Itu bukan gambar. Itu kumpulan berita, yang digunting dari koran. Dan diatasnya ada sebuah tulisan tangan hitam tebal dan rapi. Semua Ibu Harus Bertanggung-Jawab!!!Didalam pigura itu tertempel potongan berita dari beberapa  harian lokal tentang seorang bayi laki-laki yang dibuang di sebuah selokan yang tidak berair. Diletakkan dalam kardus mie instan dengan hanya dibungkus kain gendongan. Tubuh bayi masih penuh darah dengan tali pusar yang menempel. Diperkirakan umurnya baru 2jam. Beruntung seorang pemulung menemukannya dan segera memberitahukan warga setempat.Dugaan penyelidikan sementara, bayi itu merupakan hasil hubungan gelap. Tertulis, tanggal terbitnya: Rabu, 13 September 1975.Kejadian 35 tahun silam!

Dibawah kliping koran tentang bayi malang itu. Tertempel beberapa wajah tua. Semua nya wanita. Satu, dua, tiga,.......sembilan. Semua beritanya sama. Berita tentang kehilangan. Kejadian terakhir, disebutkan 10 Oktober 2009. Tepat hari ini, satu tahun yang lalu.

Bu Tinah menahan nafas. Tapi sejujurnya ia tak sanggup bernafas. Tubuhnya gemetar dan limbung sehingga ia harus memegang erat ujung meja. Apakah ini suatu kebetulan? Hari lahir Rimba juga 13 September. Umurnya genap 35 tahun. Dia tidak pernah bercerita tentang orangtua, keluarga dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pribadinya kecuali pekerjaan.
"Mungkinkah bayi itu Rimba? Apakah semua perempuan yang hilang itu berhubungan dengan nya?"Bulu kuduk bu Tinah berdiri.

Tiba-tiba suara kunci pintu yang dibuka terdengar  keras dan  mengagetkan bu Tinah. Dengan tergesa ia menghampiri kursi, duduk dengan cepat  dan berusaha menenangkan diri. Rimba masuk. Ia melangkah, didekatinya Bu Tinah. Wajahnya dingin. Beku. Tidak ada senyum dan kehangatan seperti yang selama ini ada. Ditangannya tergenggam sebuah bangku plastik yang diletakkan persis didepan Bu Tinah. Rimba duduk. Mereka berhadap-hadapan. Mereka sama-sama tegang.

"Ada apa dengan semua ini, Rimba?Ibu tidak mengerti. Tolong kembalikan ibu segera ke panti. Mereka semua pasti cemas. "Ibu Tina memohon dengan sangat. Airmatanya menggenang. Tapi Rimba seolah tak mendengar.

"Ibu pasti masih ingat. Suatu sore, saya pernah bertanya. Apa yang paling ibu takutkan didunia ini. Ibu menjawab, bila ibu ditinggalkan sendirian." "masih ingat, bu??!Rimba mempertegas pertanyaannya.

"Tapi ibu tidak pernah  bertanya, apa yang saya takutkan, bukan?" mata Rimba menatap dalam kepada bu Tinah. Perempuan tua itu hanya menunduk putus asa. "Ketakutan kita sama, bu. Tapi apa yang saya alami jauh lebih hina dari pada ibu.! Bukan saja ditinggal sendirian. Saya tak diingini samasekali. Terdepak jauh dari pelukan hangat seorang yang harusnya mengayomi dan memberi saya kasih sayang. Seorang yang disebut  ibu. Seseorang seperti bu Tinah."

"Kau tahu pasti itu bukan aku, Rimba! Aku tak mungkin melakukan perbuatan rendah seperti itu...kau salah...."belum selesai ibu Tinah berbicara, Rimba dengan  kasar berteriak "Aku tidak peduli.....semua ibu harus bertanggung jawab!!!"

"Kalian dianugrahi  rahim bukan untuk berbuat semaunya atas hidup dan nyawa seseorang. Kalau kau menolakku, ibu....mengapa aku tidak bisa menolakmu...kalau kau mencampakkan aku seperti sampah...mengapa aku tidak boleh melakukan hal yang sama?"Rimba mengatakannya dengan sorot mata penuh dendam. Dia tidak peduli wajah tua didepannya itu tampak gemetar ketakutan.

"Kau tahu, ibu....bertahun-tahun aku hidup dalam kesunyian. Bukan seperti dirimu yang sanggup tidur nyenyak diatas kasur empuk dalam kamar yang hangat. Walaupun untuk itu juga kau masih saja mengeluh. Belum lagi, gunjingan dan celaan orang karena aku bayi haram jadah, terbuang seperti sampah, membuat aku sempurna dalam penderitaan. Kau pikir, mengapa aku tidak menikah? Mengapa aku tidak pernah menceritakan tentang orangtuaku? Dengar ya bu...tidak ada seorangpun mau mengadopsi bayi hina sepertiku.. Hasil hubungan gelap. Tidak jelas bapak ibunya. Itu aib besar.Dan kau tahu bu, diusiaku setua ini, tentu saja aku  sangat ingin menikah...tapi wanita baik-baik mana yang bisa menerima keberadaanku dengan masa lalu yang begitu memalukan......??"

"Aku tak pernah meminta hidup kepadamu,ibu!! Tapi kau...kau akan memohon itu dari padaku"hahaha ...hahahaha....Rimba tertawa dengan keras.Dia melampiaskan kemarahan dan kegilaannya kepada Bu Tinah seolah-olah dia adalah ibu kandung yang telah membuangnya.

Ibu Tinah mulai menangis...."Tolong kembalikan aku, nak.....aku bukan ibumu, aku bukan ibumu"
Tapi Rimba tak ambil pusing....."Semua ibu harus membayar penderitaanku....Kau dengar?????semua ibu harus bertanggung jawab karena sudah membuangku. Semuaaaannnyaaa...termasuk dirimu!!!Kalian tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari hukumku! hukum Rimba!" dia berteriak sambil tertawa-tawa. Tangisan bu Tinah semakin keras. Tapi semakin ia menangis dan berteriak, Rimba semakin senang dan lebih keras tertawa. sakit Jiwa!!

Lalu dipaksanya bu Tinah duduk dan mengikat tangannya dengan seutas tali tambang. Tak sanggup ia meronta, tubuh tuanya tak bertenaga. Akhirnya bu Tinah hanya bisa pasrah.

Jam di dinding menunjuk pada pukul 3.00 dini hari. Bu Tinah sudah terikat lebih dari 3 jam di kursi ini. Ya Tuhan, apa yang akan dilakukan anak ini kepadaku? gumamnya lemah. Terbayang ke-3 anaknya. Terbayang pengurus dan teman-temannya di panti. Seandainya anak-anakku tak memasukkanku di panti itu hanya karena mereka tak mau direpotkan olehku, mungkin kejadian ini tak akan terjadi, mungkin dia tidak pernah akan mengenal lelaki gila dan psyco seperti Rimba. Perlahan airmatanya menetes.

Ada kesamaan antara Bu Tinah dan Rimba. Mereka sama-sama tak diinginkan. Terdepak dari kehidupan tenang dan damai yang seharusnya dijalani. Bedanya, Rimba telah memulai jauh lebih dulu saat nafas hidup pertama kali ditawarkan kepadanya."Dan kalau aku?", bisik hatinya, "kalaupun harus menemui ajal dengan cara demikian, apa bedanya dengan saat di panti?" Toh sebenarnya dia sudah lama mati. Bukankah sejak anak-anak pergi meninggalkannya sendiri di panti jompo itu, dia sudah tak mengingini hidupnya lagi? Lalu apa bedanya bila harus menyelesaikan dengan cara seperti ini??Bu Tinah memejamkan matanya yang basah. Dia berusaha untuk tidak mengingat apa-apa lagi. Tidur...itulah hal yang paling diinginnya saat ini.

                                                               ----

Subuh baru saja menguap saat Rimba melangkah pergi. Pergi menjauh ke arah timur. Matahari hampir terbit saat ia meninggalkan desa itu. Meninggalkan tempat eksekusi yang telah menghilangkan nyawa 9 ibu. Dan ini yang ke-10. Dia bertekad akan kembali lagi tahun depan. Pada tanggal yang sama. Melakukan hal sama. Menegakkan hukumnya: Hukum Rimba!

Sementara dikejauhan suara rintihan Bu Tinah tak lagi terdengar. Dibalik tembok tebal yang mengungkung dan gelap pekat disekelilingnya, Bu Tinah menggumam pelan hampir tak bersuara: "Terimakasih telah mengantarku ke tempat aku dapat menemui kematian" Perlahan ditutupnya matanya...tenang.











Thursday, October 7, 2010

REFLECTION

Aku merasa aneh. Setiap kali bercermin, memandang pantulan diri sendiri: rambut, dahi, mata, wajah, seluruh tubuh. Aku merasakan getaran di dadaku. Getaran yang membuat nafasku memburu naik turun, karena kesulitan mendapat asupan udara. Seperti tercekik. Aku bingung. Bagaimana mungkin. Bereaksi seperti orang sesak nafas saat menyaksikan tubuh sendiri, yang telah kumiliki selama  24 tahun.

Kejadian aneh ini bukan untuk pertama kalinya. Juga bukan yang satu-satunya. Aku ingat betul. Cermin di rumahku  ada 3. Di kamar tidur, di kamar mandi dan yang paling besar kuletakkan persis di bawah lukisan wajahku di ruang tamu. 2 bulan lalu aku sengaja membeli sebuah standing mirror di sebuah pameran interior. Aku meletakkan bersebelahan dengan lemari pakaian, agar memudahkan untuk pengecekan sentuhan akhir saat selesai berdandan.

aku terjaga kira-kira pukul 24 tengah malam... Aku merasa sangat haus. Tidak biasa seperti itu. Aku punya kwalitas tidur yang baik. Jarang bermimpi dan tidak pernah terjaga sebelum jam 5 pagi. Tapi pagi itu, terlalu dini untuk bangun, apalagi dengan alasan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Haus. Kucari  kontak lampu didinding kamar. Klik !!! dan seketika ruang tidurku terang benderang. Aku menuju dapur, mengambil segelas air hangat dari dispenser. Lalu kutegak habis.Tapi aku merasa kurang.Ku tambah segelas lagi, habis....gelas kedua....aneh. Rasa haus itu tak terpuaskan. Aku berdiri tercenung sejenak. Ada apa ini? Gelas ketiga....aku ingin muntah....buru-buru aku menuju toilet didalam kamar tidurku. Aku ingin memuntahkan isi perut, mual, tapi tidak setetespun keluar dari kerongkongan. Apa ini??? Dengan dada sesak dan nafas satu-satu, aku melempar pandang tak sengaja, pada cermin di atas wastafel. Aku mendekat perlahan. Menatap wajahku. Aneh...inikah wajahku? Tidak ada yang berubah, tapi sungguh aku merasa sangat asing dengan tatapan bola mata hitam itu.

Dengan gemetar ku pegang ujung wastafel erat, tangan kananku meraba kulit wajah dari dahi hingga dagu. Aku sungguh tidak mengerti perasaan asing yang merayap dalam sel-sel hati dan kepalaku. Kututup mataku dengan kedua telapak tanganku. Aku menggeleng, menenangkan diri. Tidak!!! ini hanya sebuah impact biasa dari tidur nyenyak yang terganggu. Atau mungkin saja, rasa haus di malam hari mampu berakibat seseorang seperti masih setengah bermimpi saat dia sudah sepenuhnya terjaga. Aku tidak tahu. Seumur hidup aku belum pernah mengalami kejadian yang menurutku sungguh mimpi buruk.

Tapi ternyata, kejadian itu bukan bagian terburuknya. Standing mirror yang kutempatkan disisi lemari pakaian, berhadap-hadapan dengan tempat tidur, ternyata menimbulkan masalah baru. Tinggi cermin itu 1.50cm berukir khas Jepara, disapu warna plitur coklat tua kehitaman. Antik menurutku. Waktu itu, saat aku dalam keadaan siap untuk ke kantor, aku menarik tas jinjing yang tergeletak disamping cermin. Saat kakiku hendak melangkah keluar kamar, tiba-tiba seperti ada keinginan untuk berjalan mundur beberapa langkah dan melihat pantulan tubuhku di cermin berdiri itu.

Aku memandangnya. Tubuhku sendiri. Terus melihat dan memperhatikan. Mengamati dari bagian atas ubun-ubun sampai ke ujung kaki yang berbalut sepatu berhak 7cm.Seolah-olah aku sedang melihat sosok lain yang berdiri disana, disisi cermin. 5 menit kemudian, aku mulai berkeringat dingin. Getaran itu muncul dari kaki, naik mencengkeram perutku hingga terasa keram, lalu dadaku berat. Aku..aku ..merasa tercekik. Seperti ada tali yang melilit dan membuat nafasku tertahan sesak.

Lama-lama..aku merasa gila dan waras tak ada bedanya. Dikantor, di pasar swalayan, di mall, di keramaian, atau di kesunyian kamarku, aku merasa asing. Aku berbeda. Tubuh ini bukan diriku. Aku bukan aku. dirongga dadaku, di kepalaku seperti ada orang lain. Orang lain yang memaksaku untuk bercermin saat aku tidak ingin. Orang lain yang membuat aku terbangun tepat di tengah malam buta dan menegak bergelas-gelas air putih dan tetap merasa haus.Orang lain yang senang sekali dengan air. Air....Aku dipaksa. Aku terpaksa. Berendam berjam-jam di bathtub, memasukkan seluruh tubuh dan kepala kedalam air. Lalu keluar menyembulkan diri dengan nafas terengah-engah layaknya orang hampir  tenggelam. Orang didalam tubuhku sepertinya senang dengan air. Senang dengan cermin.

Karena itu, kututup semua cermin, kaca atau permukaan yang dapat memantulkan bayangan. Kupanggil tukang untuk memutuskan aliran air menuju bathtub, dan aku memilih mandi di kamar mandi belakang yang hanya dilengkapi ember kecil dan gayung. Aku mencabut kabel dispenser, berhenti membeli galon air minum, dan membiarkannya kosong. Mengganti kebutuhan minumku dengan hanya beberapa gelas air mineral kemasan yang kubeli hampir setiap hari.Aku memutuskan tidak ikut gathering kantor ke sebuah resto pinggir pantai. Karena pantai berhubungan dengan air...aku memutuskan menjauhkan diri dari semua yang dipaksa tubuh asingku untuk menyukai, mengingini.


Aku nelangsa, aku capek, dan sungguh menderita dengan apa yang kulakukan pada diriku sendiri. Aku menangis sesunggukan, Tapi tak bersuara. Tak ingin sesuatu didalamku mengetahui apa yang telah dilakukannya dan menyaksikan betapa aku lemah dan hampir saja kalah.Tapi aku sungguh benar-benar ingin menyerah. Ingin mengibarkan bendera putih atas perang yang kunyalakan sendiri.

Tidak!!Aku tidak mau kalah. Aku tidak mau dikalahkan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa atau siapa itu sesungguhnya. Dan keinginan besarku untuk menang atas 'diri asingku' telah membawaku 5 jam berkendara tanpa henti. Aku harus segera menghakhiri semua ini. Entah dengan kemenangan atau mungkin kekalahan telak. Tapi aku sudah bosan dan ingin mendapatkan hidupku yang dulu. Bayangkan!!!! 2 bulan aku sudah tidak pernah lagi merasakan nikmatnya tidur nyenyak. hampir selalu terbangun di tengah malam menjelang pagi dan kemudian susah untuk memejamkan mata. Phobia kepada cermin, seolah benda itu adalah media untuk mahluk asing menampakkan diri dan mengejar hendak meleburku menjadi serpihan halus. Benci kepada air dan berusaha menghindarinya. Sungguh mengerikan. Dan aku tidak mau ini terus membelenggu, memenjara, menjauhkan aku  dari ketenangan hidup yang dulu merupakan bagianku dan kini seperti hal paling mewah yang pernah terlintas di akalku.Aku ingin merebutnya kembali. Sesekali kuintip kaca spion. Bukan untuk melihat posisi kendaraan lain. Tetapi, ketakutan bahwa aku sedang tidak sendiri dalam perjalanan menegangkan ini.

Rumah tua eyangku, masih beberapa puluh meter ke depan, melewati sebuah jalan petak yang hanya bisa dilalui sebuah kendaraan. Aku berhenti tergesa. Segera turun dan membanting pintu mobil lalu lari tanpa menguncinya. Aku sudah tidak peduli. Eyang...itu harapanku satu-satunya untuk membuka tabir misteri yang selama ini merongrong dan membuatku menderita tak habis-habis.

Tubuh tuanya memelukku erat. Menatap  mataku yang cekung dan kembali memelukku. Sepertinya dia mulai  tahu apa yang terjadi. "Tolong aku eyang...."kataku tersendat. Airmata yang selama ini kutahan, tertumpah lepas. Aku menangis, tak ingin berhenti. Berhenti sejenak, mengambil nafas, memeras ingus dan menangis kembali.

Eyang mengambil sebuah kotak kayu kecil tua. Sedemikian tuanya, hingga saat kubuka, terdengar bunyi engselnya berderit kecil. Disitu ada foto almarhumah ibu. dan disitu juga ada foto bayi. Terbungkus kain putih, terbaring dalam sebuah peti kayu. Aku memandang eyang dengan heran. Eyang mengangguk sambil mengusap rambutku dengan lembut.

"Dia adikmu.Kembaranmu. Meninggal 24 menit setelah kau berhasil keluar. Ibumu mengalami kesulitan mengeluarkan kalian berdua. Kau berhasil diselamatkan....adikmu tidak"
" Tapi kenapa eyang???Apa yang membuat dia tidak berhasil?" tanyaku hati-hati.
"Terlalu lama...terminum air ketuban ibumu. Keracunan. Dia lahir dengan leher terlilit tali pusar.... tepat  jam 24... tengah malam"

"24 tahun lalu...eyang"aku bergumam sedih.

Memandang foto mungil adik kembarku. Apakah  ini caramu untuk menyadarkanku bahwa kau pernah ada?Aku mengusap lembut pigura kaca yang membungkus foto bayi adikku. Sebuah bayangan terpantul jelas dipermukaan beningnya........aku mengamati dengan lekat, untuk pertama kalinya aku kehilangan rasa takut. Aku tersenyum memandangnya.