Monday, October 25, 2010

Eksekusi.....


Aku tak akan pernah tahu. Bila tak mencoba. Tapi untuk sesuatu yang pastinya disebut kegilaan yang bodoh, bahkan orang paling idiotpun tak akan sudi  melakukannya.            
            Katakan saja aku bodoh. Atau mungkin idiot plus. Tapi kupikir aku hanya membantu. Membantu pekerjaan Tuhan, agar tak repot-repot menamatkan hidupku, karena aku sudah lebih dahulu melakukannya.Secepat kilat, 5 menit kurang beberapa detik. Variannya beberapa. Tapi aku lebih suka tali yang menggantung. Sepertinya tidak terlalu menyakitkan tapi dijamin benar-benar berhasil. Tidak setengah mati, atau seperempat mati.
            Dalam sekejap aku memang benar-benar telah berpindah tempat tinggal. Meninggalkan rumah ku yang nyaman dengan pohon mangga yang buahnya hampir ranum seluruhnya. Meninggalkan kamarku yang mungil dan hangat. Meninggalkan ayah, ibu, Ragil anjingku dan Emon sahabatku. Dunia yang membesarkanku dengan matahari, bulan, bintang-bintang dan begitu banyak keindahan, kebaikan. Juga kegetiran. Dunia yang memperkenalkan aku kepada rasa cinta dan juga mengambilnya dengan sedikit memaksa. Dunia itu ..sekarang begitu jauh dari jangkauanku.
            Aku melihat. Polisi datang. Orang berkerumun. Ibu menjerit tak kuasa menyaksikan tubuh kematianku yang kaku diturunkan. Ayah hanya berdiri di pintu kamar …matanya bergetar. Tapi berusaha tegar. Emon, sahabatku tercinta….jatuh pingsan, dan tetangga berusaha memapah dan mendudukannya di kursi tamu. Suasana begitu hingar, bahkan setiap orang berbicara dengan volume tinggi, hampir berteriak tapi justru semakin tidak jelas apa yang mereka katakan. Rumah kami menjadi lautan manusia, didalam dan diluar rumah, penuh kerumunan. Ah, belum pernah aku menjadi pusat perhatian seheboh ini.
                                                         ***
            Hidupku biasa saja. Tidak sedang tertekan atau menderita. Tidak sedang putus cinta, putus asa atau juga terlilit hutang. Otakku waras dan tidak sedikitpun berpikir atau merancang perbuatan pembunuhan berencana atas tubuh sendiri. Tapi kematian itu sendiri selalu menjadi misteri bagiku.  Aku pernah melihat seseorang memotong  ayam. Pisau yang diletakkan tepat diujung urat leher itu mengiris perlahan. Lalu saat yakin telah putus, ia melemparkan sang ayam malang ke tanah. Menggelepar, ke kiri dan kenan, membanting tubuhnya sendiri hingga diam tak bernyawa. Itu binatang. Yang hanya punya tubuh dan jiwa. Tanpa Roh. Saat Jiwanya tak lagi mendiami tubuh jasmani, kemana ia pergi? Lalu Bagaimana dengan mahluk manusia? Bagaimana dengan aku? Kemana perginya ruh saat tak lagi lekat pada tubuh? Aku teringat saat berusia 6 tahun, tanteku meniggal. Aku menyaksikan saat-saat terakhir itu dengan sangat dekat dan jelas. Nafasnya yang berusaha ditarik dalam seolah tertahan didada. Tenggorokannya bersuara, persis seperti ayam yang disembelih, dan mata itu…melihat kearah tertentu, membesar, entah takut atau terkejut. Apakah ada yang dilihatnya? Setan atau malaikat? Lalu seluruh keluarga berkumpul dan mulai berdoa penyerahan. Menyerahkan seluruh jiwa raga dan rohnya agar dapat segera  pergi tanpa tersiksa. Dan benar, tak berapa lama, tanteku meninggal. Seluruh keluarga meraung tak kuasa melihat dia menutup mata. Tapi yang jadi pertanyaanku, kemana dia pergi? Mengapa semua seperti orang tak kuasa menahan diri kalau memang dia tak hendak kemana-mana? Tapi memang sejak saat itu aku tak pernah melihatnya lagi muncul dirumah apalagi bercerita bersama orangtuaku. Dia benar-benar menghilang dari dunia ini. Dan karena pengalaman  itulah, dalam otakku ini, tak pernah jeda sedikitpun untuk  aku selalu berpikir tentangnya. Tentang Kematian.
            Sejalan dengan waktu, akupun  tahu, kematian bukan hanya sebuah takdir  yang tak bisa dihindari, tetapi juga sebuah pilihan yang dengan sadar dijalani. Dulu, saat aku kecil pikirku, hanya Tuhanlah yang memiliki hak untuk mengambil kehidupan manusia. Dan manusia dengan pasrah menerima kondisi itu tanpa dapat berbuat banyak. Tapi ternyata, manusia pun dapat bertindak sebagai tuhan atas diri sendiri maupun bagi orang lain. Mengambil wewenang Tuhan menghabisi hidup manusia lain dan juga menghabisi diri sendiri
Tuhan sudah mengatur alam sedemikian harmoninya, sehingga di dunia ini segala sesuatu tampil berpasangan dan pula  bertolak belakang, satu melengkapi yang lain. Satu melawan yang lain, untuk menyempurnakan keseimbangan. Langit dan bumi, panas dan dingin, gunung dan laut, terang dan gelap, hidup dan mati. Kehidupan itu indah dan kematian menyempurnakannya. Kehidupan itu hidangan utama dan kematian dessertnya. Tapi kehidupan ada didepan mata. Terlihat jelas dan teraba arahnya. Bernafas, berbicara, bertemu seseorang, makan, minum, tidur, bekerja, bercita-cita,bercinta,  menikah, melahirkan, berbuat ini berbuat itu…..lalu  kematian menghentikan, menyelesaikan, dan menghabisi. Selesai dalam arti yang sebenarnya. Karena tidak ada kelanjutan cerita sesudah itu. Benar-benar tamat. Tapi benarkah demikian? Benarkah suatu saat, dihidupku yang luar biasa penuh kemajemukan   ini, tak bisa kulanjutkan setelah aku mati? Atau adakah sebuah kehidupan yang berbeda setelah maut datang menjemput seseorang? Kehidupan yang mungkin jauh lebih menarik lagi. Bagaimana aku dapat mengetahuinya? Bagaimana aku menguak jati diri kematian yang sebenar-benarnya?
            Tapi aku menduga, banyak orangpun senang dengan rahasianya, kematian maksudku. Lihat saja, angka pembunuhan semakin meningkat. Tindakan bunuh diri, data akuratnya bukan menurun dari tahun ke tahun. Orang mulai bermain-main dengan takdir,hidup  dan misteri kematian itu sendiri. Dan kematian semakin terkesan menarik. tepatnya menarik-narik perhatianku. Pastilah ia punya lengan yang sanggup menggerakkan pikiran manusia dan mendorongnya untuk berbuat nekat menghabisi tubuhnya sendiri. Atau orang lain. Kemarin , orang dikejutkan dengan penemuan mayat yang dimutilasi. 14 bagian tubuhnya dibuang ke sejumlah tempat terpisah. Dan pastilah kita tak sangka, bahwa pelakunya seorang ibu tua yang tubuhnya jauh lebih kecil dari korbannya. Juga peristiwa beberapa tahun silam, 2 remaja ditemukan tewas bunuh diri dengan cara melompat bebas dari lantai tertinggi sebuah pusat perbelanjaan. Terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan, di tempat yang juga sama. Aneh dan sangat nyata. Ini kalau bukan karena kematian itu indah dan luar biasa menarik, adakah orang-orang waras rela melakukannya? Lihat saja kasus-kasus serupa di internet. Alamaaak…ada videonya pula. Layaknya seorang pramugari pesawat yang sedang memperagakan cara menggunakan life jacket. detail dan sistematis. Slow motion pula, sehingga detik demi detik rekaman kejadian bunuh diri itu benar-benar dapat di nikmati, dicermati dan mungkin pula akhirnya menjadi inspirasi bagi setiap yang ingin mencoba, ïni loh the best performance. Cara  yang paling banyak ditiru..”begitulah kira-kira pikiranku saat melihat satu persatu  rekaman video itu di you tube. Dilihat dari peminatnya, maksudku pelaku bunuh diri itu, Bukan saja  dari kalangan anak muda, yang pikirannya hanya berjalan satu langkah kedepan atau bahkan diam ditempat, tapi hampir terwakili dari semua kalangan. Orang kaya, miskin, anak-anak yang baru melek huruf sampai orang yang karena usia akan menutup mata alias tua renta, juga kalangan berpendidikan tinggi yang otaknya sudah dijejali, dipenuhsesaki ajaran-ajaran sehat dan masuk akal serta bagaimana mengendalikan diri dengan baik dan meresponi segala kejadian dengan positif.
Bisa kubayangkan daya tariknya. Godaannya. Aku berpikir, Apakah sebenarnya yang terjadi saat detik-detik terakhir, saat nafas masih dapat ditarik sedalam-dalamnya? Bagaimana rasanya melihat tangan kematian itu mengulur dan kemudian menyentuh lalu menarikmu kuat-kuat dari kehidupan? Bagaimana rasanya berpindah dari sebuah alam yang nyata terlihat dan teraba kepada sebuah ruang alam raya asing yang hanya berisi roh-roh beterbangan. Persis serupa di film-film horror Indonesiakah?
            Aku, pada akhirnya, melalui  pemikiran yang panjang, menimbang, dan  setelah sedemikian matangnya dikepalaku,  menetapkan - aku mungkin tak akan pernah tahu, bila tak mencoba. Meskipun orang paling gila pasti mengira dia jauh lebih waras daripada aku- aku akan melakukannya. Aku sudah siap melakukannya. Menguak rahasia dibalik kematian. Dengan sadar menjadi sukarelawan. Lalu,  Apa ya yang pertama-tama harus kupersiapkan? Oh ya, surat wasiat. Agar mereka, terutama orang terdekat dan terkasihku, tidak perlu saling menuduh siapa dan apa penyebab aku nekat melakukan perbuatan, yang hingga detik terakhirku buat keputusan ini, aku tetap saja merasa ini sangat salah. Tapi, seumur-umur aku akan hidup penasaran dengan pertanyaan dan pemikiran anehku terhadap kematian, yang sudah membawaku ke ujung paling bingung dalam hidup. Mencari tapi tak pernah menemukan. Mengorek-ngorek seperti anjing mencari tulang, tapi saat tanah sudah sangat dalam tergali, tetap saja yang ada hanya bebatuan. Kebingungan. Ketidaktahuan.
            Lalu malam itu, setelah semuanya rapi tersiapkan, kusampirkan tali  tambang (yang aku sangat yakin kuat dan cukup liat) melalui 2 cabang batang mangga yang kokoh. Aku tarik-tarik untuk meyakinkan posisi yang tepat. Aku mengambil sebuah bangku yang akan kugunakan untuk naik dan berdiri sebelum tali yang melilit sempurna menjerat leherku.hmmm…persis seperti peragaan di video yang ada di internet. Hmm.. adakah yang kurang lagi?
            Aku telah siap. Diatas bangku. Leherku terlilit tali. Tinggal selangkah lagi, yakni bangku di tendang,  tali melilit leher dan tubuhku akan tergantung. Namun, aku sempat terpekur lebih kurang beberapa detik. Benarkah tindakanku ini? Aku bukan seorang yang sedang patah arang. Putus harapan atau dihajar kegagalan hidup. Satu-satunya kegagalan adalah, aku gagal menyingkap pertanyaan dan misteri yang selama ini kucari dari kematian. Tapi di detik terakhir perbuatan nekat itu, aku sempat berpikir, apakah aku harus melakukan ini? Tidakkah aku menyerah saja dan meninggalkan itu semua tetap sebagai sebuah misteri dan bagian dari kehidupan, dan bukannya berdiri sendiri sebagai kematian? Bukankah hidupku sangat majemuk? Diijinkan melalui pasang naik dan pasang surut agar aku dapat terus belajar daripadanya, dan juga belajar bahwa ada bagian dalam kehidupan yang tidak boleh aku langgar karena bukan wewenangku,  walaupun aku hampir mati penasaran karenanya…aku sedang berpikir keras…sangat keras….sampai tak sadar, sepasang kucing betina dan jantan terlibat asmara saling berkejar-kejaran, sedemikian kencang lari mereka, dan akhirnya menabrak bangku yang kugunakan untuk menyangga kedua kakiku. Bangku itu jatuh terguling, tali tambang otomatis menjerat dan  melilit leherku, erat sekali, nafasku tercekik tak lagi bisa kutarik. Terkejut aku karena  beberapa detik yang telah lewat, aku masih berpikir untuk membatalkan kegilaan ini.Tak menyangka bahwa pada akhirnya aku menemui wajah kematian, disaat kesadaranku untuk tidak lagi bertanya dan mencari tahu tentangnya telah tiba. Sungguh, ini baru namanya mati konyol. Konyol bukan kepalang.

1 comment: