Aku tak akan pernah tahu. Bila tak mencoba. Tapi
untuk sesuatu yang pastinya disebut kegilaan yang bodoh, bahkan orang paling
idiotpun tak akan sudi melakukannya.
Katakan saja aku
bodoh. Atau mungkin idiot plus. Tapi kupikir aku hanya membantu. Membantu
pekerjaan Tuhan, agar tak repot-repot menamatkan hidupku, karena aku sudah
lebih dahulu melakukannya.Secepat kilat, 5 menit kurang beberapa detik. Variannya
beberapa. Tapi aku lebih suka tali yang menggantung. Sepertinya tidak terlalu
menyakitkan tapi dijamin benar-benar berhasil. Tidak setengah mati, atau
seperempat mati. Dalam sekejap aku memang benar-benar telah berpindah tempat tinggal. Meninggalkan rumah ku yang nyaman dengan pohon mangga yang buahnya hampir ranum seluruhnya. Meninggalkan kamarku yang mungil dan hangat. Meninggalkan ayah, ibu, Ragil anjingku dan Emon sahabatku. Dunia yang membesarkanku dengan matahari, bulan, bintang-bintang dan begitu banyak keindahan, kebaikan. Juga kegetiran. Dunia yang memperkenalkan aku kepada rasa cinta dan juga mengambilnya dengan sedikit memaksa. Dunia itu ..sekarang begitu jauh dari jangkauanku.
Aku melihat. Polisi datang. Orang berkerumun. Ibu menjerit tak kuasa menyaksikan tubuh kematianku yang kaku diturunkan. Ayah hanya berdiri di pintu kamar …matanya bergetar. Tapi berusaha tegar. Emon, sahabatku tercinta….jatuh pingsan, dan tetangga berusaha memapah dan mendudukannya di kursi tamu. Suasana begitu hingar, bahkan setiap orang berbicara dengan volume tinggi, hampir berteriak tapi justru semakin tidak jelas apa yang mereka katakan. Rumah kami menjadi lautan manusia, didalam dan diluar rumah, penuh kerumunan. Ah, belum pernah aku menjadi pusat perhatian seheboh ini.
***
Hidupku biasa saja. Tidak
sedang tertekan atau menderita. Tidak sedang putus cinta, putus asa atau juga
terlilit hutang. Otakku waras dan tidak sedikitpun berpikir atau merancang
perbuatan pembunuhan berencana atas tubuh sendiri. Tapi kematian itu sendiri selalu
menjadi misteri bagiku. Aku pernah
melihat seseorang memotong ayam. Pisau
yang diletakkan tepat diujung urat leher itu mengiris perlahan. Lalu saat yakin
telah putus, ia melemparkan sang ayam malang ke tanah. Menggelepar, ke kiri dan
kenan, membanting tubuhnya sendiri hingga diam tak bernyawa. Itu binatang. Yang
hanya punya tubuh dan jiwa. Tanpa Roh. Saat Jiwanya tak lagi mendiami tubuh
jasmani, kemana ia pergi? Lalu Bagaimana dengan mahluk manusia? Bagaimana
dengan aku? Kemana perginya ruh saat tak lagi lekat pada tubuh? Aku teringat
saat berusia 6 tahun, tanteku meniggal. Aku menyaksikan saat-saat terakhir itu
dengan sangat dekat dan jelas. Nafasnya yang berusaha ditarik dalam seolah
tertahan didada. Tenggorokannya bersuara, persis seperti ayam yang disembelih,
dan mata itu…melihat kearah tertentu, membesar, entah takut atau terkejut.
Apakah ada yang dilihatnya? Setan atau malaikat? Lalu seluruh keluarga
berkumpul dan mulai berdoa penyerahan. Menyerahkan seluruh jiwa raga dan rohnya
agar dapat segera pergi tanpa tersiksa.
Dan benar, tak berapa lama, tanteku meninggal. Seluruh keluarga meraung tak
kuasa melihat dia menutup mata. Tapi yang jadi pertanyaanku, kemana dia pergi?
Mengapa semua seperti orang tak kuasa menahan diri kalau memang dia tak hendak
kemana-mana? Tapi memang sejak saat itu aku tak pernah melihatnya lagi muncul
dirumah apalagi bercerita bersama orangtuaku. Dia benar-benar menghilang dari
dunia ini. Dan karena pengalaman itulah,
dalam otakku ini, tak pernah jeda sedikitpun untuk aku selalu berpikir tentangnya. Tentang
Kematian.Sejalan dengan waktu, akupun tahu, kematian bukan hanya sebuah takdir yang tak bisa dihindari, tetapi juga sebuah pilihan yang dengan sadar dijalani. Dulu, saat aku kecil pikirku, hanya Tuhanlah yang memiliki hak untuk mengambil kehidupan manusia. Dan manusia dengan pasrah menerima kondisi itu tanpa dapat berbuat banyak. Tapi ternyata, manusia pun dapat bertindak sebagai tuhan atas diri sendiri maupun bagi orang lain. Mengambil wewenang Tuhan menghabisi hidup manusia lain dan juga menghabisi diri sendiri
Tuhan sudah mengatur alam sedemikian harmoninya,
sehingga di dunia ini segala sesuatu tampil berpasangan dan pula bertolak belakang, satu melengkapi yang lain.
Satu melawan yang lain, untuk menyempurnakan keseimbangan. Langit dan bumi,
panas dan dingin, gunung dan laut, terang dan gelap, hidup dan mati. Kehidupan
itu indah dan kematian menyempurnakannya. Kehidupan itu hidangan utama dan
kematian dessertnya. Tapi kehidupan
ada didepan mata. Terlihat jelas dan teraba arahnya. Bernafas, berbicara,
bertemu seseorang, makan, minum, tidur, bekerja, bercita-cita,bercinta, menikah, melahirkan, berbuat ini berbuat
itu…..lalu kematian menghentikan,
menyelesaikan, dan menghabisi. Selesai dalam arti yang sebenarnya. Karena tidak
ada kelanjutan cerita sesudah itu. Benar-benar tamat. Tapi benarkah demikian?
Benarkah suatu saat, dihidupku yang luar biasa penuh kemajemukan ini,
tak bisa kulanjutkan setelah aku mati? Atau adakah sebuah kehidupan yang
berbeda setelah maut datang menjemput seseorang? Kehidupan yang mungkin jauh
lebih menarik lagi. Bagaimana aku dapat mengetahuinya? Bagaimana aku menguak
jati diri kematian yang sebenar-benarnya?
Tapi
aku menduga, banyak orangpun senang dengan rahasianya, kematian maksudku. Lihat
saja, angka pembunuhan semakin meningkat. Tindakan bunuh diri, data akuratnya
bukan menurun dari tahun ke tahun. Orang mulai bermain-main dengan
takdir,hidup dan misteri kematian itu
sendiri. Dan kematian semakin terkesan menarik. tepatnya menarik-narik
perhatianku. Pastilah ia punya lengan yang sanggup menggerakkan pikiran manusia
dan mendorongnya untuk berbuat nekat menghabisi tubuhnya sendiri. Atau orang
lain. Kemarin , orang dikejutkan dengan penemuan mayat yang dimutilasi. 14
bagian tubuhnya dibuang ke sejumlah tempat terpisah. Dan pastilah kita tak
sangka, bahwa pelakunya seorang ibu tua yang tubuhnya jauh lebih kecil dari
korbannya. Juga peristiwa beberapa tahun silam, 2 remaja ditemukan tewas bunuh
diri dengan cara melompat bebas dari lantai tertinggi sebuah pusat perbelanjaan.
Terjadi dalam waktu yang hampir bersamaan, di tempat yang juga sama. Aneh dan
sangat nyata. Ini kalau bukan karena kematian itu indah dan luar biasa menarik,
adakah orang-orang waras rela melakukannya? Lihat saja kasus-kasus serupa di
internet. Alamaaak…ada videonya pula. Layaknya seorang pramugari pesawat yang
sedang memperagakan cara menggunakan life
jacket. detail dan sistematis. Slow motion pula, sehingga detik demi detik
rekaman kejadian bunuh diri itu benar-benar dapat di nikmati, dicermati dan
mungkin pula akhirnya menjadi inspirasi bagi setiap yang ingin mencoba, ïni loh
the best performance. Cara yang paling
banyak ditiru..”begitulah kira-kira pikiranku saat melihat satu persatu rekaman video itu di you tube. Dilihat dari
peminatnya, maksudku pelaku bunuh diri itu, Bukan saja dari kalangan anak muda, yang pikirannya
hanya berjalan satu langkah kedepan atau bahkan diam ditempat, tapi hampir
terwakili dari semua kalangan. Orang kaya, miskin, anak-anak yang baru melek
huruf sampai orang yang karena usia akan menutup mata alias tua renta, juga
kalangan berpendidikan tinggi yang otaknya sudah dijejali, dipenuhsesaki
ajaran-ajaran sehat dan masuk akal serta bagaimana mengendalikan diri dengan
baik dan meresponi segala kejadian dengan positif.
Bisa kubayangkan daya tariknya. Godaannya. Aku
berpikir, Apakah sebenarnya yang terjadi saat detik-detik terakhir, saat nafas
masih dapat ditarik sedalam-dalamnya? Bagaimana rasanya melihat tangan kematian
itu mengulur dan kemudian menyentuh lalu menarikmu kuat-kuat dari kehidupan? Bagaimana
rasanya berpindah dari sebuah alam yang nyata terlihat dan teraba kepada sebuah
ruang alam raya asing yang hanya berisi roh-roh beterbangan. Persis serupa di
film-film horror Indonesiakah?
Aku, pada akhirnya, melalui
pemikiran yang panjang, menimbang,
dan setelah sedemikian matangnya
dikepalaku, menetapkan - aku mungkin tak
akan pernah tahu, bila tak mencoba. Meskipun orang paling gila pasti mengira
dia jauh lebih waras daripada aku- aku akan melakukannya. Aku sudah siap
melakukannya. Menguak rahasia dibalik kematian. Dengan sadar menjadi
sukarelawan. Lalu, Apa ya yang
pertama-tama harus kupersiapkan? Oh ya, surat wasiat. Agar mereka, terutama
orang terdekat dan terkasihku, tidak perlu saling menuduh siapa dan apa
penyebab aku nekat melakukan perbuatan, yang hingga detik terakhirku buat keputusan
ini, aku tetap saja merasa ini sangat salah. Tapi, seumur-umur aku akan hidup
penasaran dengan pertanyaan dan pemikiran anehku terhadap kematian, yang sudah
membawaku ke ujung paling bingung dalam hidup. Mencari tapi tak pernah
menemukan. Mengorek-ngorek seperti anjing mencari tulang, tapi saat tanah sudah
sangat dalam tergali, tetap saja yang ada hanya bebatuan. Kebingungan.
Ketidaktahuan. Lalu malam itu, setelah semuanya rapi tersiapkan, kusampirkan tali tambang (yang aku sangat yakin kuat dan cukup liat) melalui 2 cabang batang mangga yang kokoh. Aku tarik-tarik untuk meyakinkan posisi yang tepat. Aku mengambil sebuah bangku yang akan kugunakan untuk naik dan berdiri sebelum tali yang melilit sempurna menjerat leherku.hmmm…persis seperti peragaan di video yang ada di internet. Hmm.. adakah yang kurang lagi?
Aku telah siap. Diatas bangku. Leherku terlilit tali. Tinggal selangkah lagi, yakni bangku di tendang, tali melilit leher dan tubuhku akan tergantung. Namun, aku sempat terpekur lebih kurang beberapa detik. Benarkah tindakanku ini? Aku bukan seorang yang sedang patah arang. Putus harapan atau dihajar kegagalan hidup. Satu-satunya kegagalan adalah, aku gagal menyingkap pertanyaan dan misteri yang selama ini kucari dari kematian. Tapi di detik terakhir perbuatan nekat itu, aku sempat berpikir, apakah aku harus melakukan ini? Tidakkah aku menyerah saja dan meninggalkan itu semua tetap sebagai sebuah misteri dan bagian dari kehidupan, dan bukannya berdiri sendiri sebagai kematian? Bukankah hidupku sangat majemuk? Diijinkan melalui pasang naik dan pasang surut agar aku dapat terus belajar daripadanya, dan juga belajar bahwa ada bagian dalam kehidupan yang tidak boleh aku langgar karena bukan wewenangku, walaupun aku hampir mati penasaran karenanya…aku sedang berpikir keras…sangat keras….sampai tak sadar, sepasang kucing betina dan jantan terlibat asmara saling berkejar-kejaran, sedemikian kencang lari mereka, dan akhirnya menabrak bangku yang kugunakan untuk menyangga kedua kakiku. Bangku itu jatuh terguling, tali tambang otomatis menjerat dan melilit leherku, erat sekali, nafasku tercekik tak lagi bisa kutarik. Terkejut aku karena beberapa detik yang telah lewat, aku masih berpikir untuk membatalkan kegilaan ini.Tak menyangka bahwa pada akhirnya aku menemui wajah kematian, disaat kesadaranku untuk tidak lagi bertanya dan mencari tahu tentangnya telah tiba. Sungguh, ini baru namanya mati konyol. Konyol bukan kepalang.
foolish end....
ReplyDelete