Thursday, October 7, 2010

REFLECTION

Aku merasa aneh. Setiap kali bercermin, memandang pantulan diri sendiri: rambut, dahi, mata, wajah, seluruh tubuh. Aku merasakan getaran di dadaku. Getaran yang membuat nafasku memburu naik turun, karena kesulitan mendapat asupan udara. Seperti tercekik. Aku bingung. Bagaimana mungkin. Bereaksi seperti orang sesak nafas saat menyaksikan tubuh sendiri, yang telah kumiliki selama  24 tahun.

Kejadian aneh ini bukan untuk pertama kalinya. Juga bukan yang satu-satunya. Aku ingat betul. Cermin di rumahku  ada 3. Di kamar tidur, di kamar mandi dan yang paling besar kuletakkan persis di bawah lukisan wajahku di ruang tamu. 2 bulan lalu aku sengaja membeli sebuah standing mirror di sebuah pameran interior. Aku meletakkan bersebelahan dengan lemari pakaian, agar memudahkan untuk pengecekan sentuhan akhir saat selesai berdandan.

aku terjaga kira-kira pukul 24 tengah malam... Aku merasa sangat haus. Tidak biasa seperti itu. Aku punya kwalitas tidur yang baik. Jarang bermimpi dan tidak pernah terjaga sebelum jam 5 pagi. Tapi pagi itu, terlalu dini untuk bangun, apalagi dengan alasan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Haus. Kucari  kontak lampu didinding kamar. Klik !!! dan seketika ruang tidurku terang benderang. Aku menuju dapur, mengambil segelas air hangat dari dispenser. Lalu kutegak habis.Tapi aku merasa kurang.Ku tambah segelas lagi, habis....gelas kedua....aneh. Rasa haus itu tak terpuaskan. Aku berdiri tercenung sejenak. Ada apa ini? Gelas ketiga....aku ingin muntah....buru-buru aku menuju toilet didalam kamar tidurku. Aku ingin memuntahkan isi perut, mual, tapi tidak setetespun keluar dari kerongkongan. Apa ini??? Dengan dada sesak dan nafas satu-satu, aku melempar pandang tak sengaja, pada cermin di atas wastafel. Aku mendekat perlahan. Menatap wajahku. Aneh...inikah wajahku? Tidak ada yang berubah, tapi sungguh aku merasa sangat asing dengan tatapan bola mata hitam itu.

Dengan gemetar ku pegang ujung wastafel erat, tangan kananku meraba kulit wajah dari dahi hingga dagu. Aku sungguh tidak mengerti perasaan asing yang merayap dalam sel-sel hati dan kepalaku. Kututup mataku dengan kedua telapak tanganku. Aku menggeleng, menenangkan diri. Tidak!!! ini hanya sebuah impact biasa dari tidur nyenyak yang terganggu. Atau mungkin saja, rasa haus di malam hari mampu berakibat seseorang seperti masih setengah bermimpi saat dia sudah sepenuhnya terjaga. Aku tidak tahu. Seumur hidup aku belum pernah mengalami kejadian yang menurutku sungguh mimpi buruk.

Tapi ternyata, kejadian itu bukan bagian terburuknya. Standing mirror yang kutempatkan disisi lemari pakaian, berhadap-hadapan dengan tempat tidur, ternyata menimbulkan masalah baru. Tinggi cermin itu 1.50cm berukir khas Jepara, disapu warna plitur coklat tua kehitaman. Antik menurutku. Waktu itu, saat aku dalam keadaan siap untuk ke kantor, aku menarik tas jinjing yang tergeletak disamping cermin. Saat kakiku hendak melangkah keluar kamar, tiba-tiba seperti ada keinginan untuk berjalan mundur beberapa langkah dan melihat pantulan tubuhku di cermin berdiri itu.

Aku memandangnya. Tubuhku sendiri. Terus melihat dan memperhatikan. Mengamati dari bagian atas ubun-ubun sampai ke ujung kaki yang berbalut sepatu berhak 7cm.Seolah-olah aku sedang melihat sosok lain yang berdiri disana, disisi cermin. 5 menit kemudian, aku mulai berkeringat dingin. Getaran itu muncul dari kaki, naik mencengkeram perutku hingga terasa keram, lalu dadaku berat. Aku..aku ..merasa tercekik. Seperti ada tali yang melilit dan membuat nafasku tertahan sesak.

Lama-lama..aku merasa gila dan waras tak ada bedanya. Dikantor, di pasar swalayan, di mall, di keramaian, atau di kesunyian kamarku, aku merasa asing. Aku berbeda. Tubuh ini bukan diriku. Aku bukan aku. dirongga dadaku, di kepalaku seperti ada orang lain. Orang lain yang memaksaku untuk bercermin saat aku tidak ingin. Orang lain yang membuat aku terbangun tepat di tengah malam buta dan menegak bergelas-gelas air putih dan tetap merasa haus.Orang lain yang senang sekali dengan air. Air....Aku dipaksa. Aku terpaksa. Berendam berjam-jam di bathtub, memasukkan seluruh tubuh dan kepala kedalam air. Lalu keluar menyembulkan diri dengan nafas terengah-engah layaknya orang hampir  tenggelam. Orang didalam tubuhku sepertinya senang dengan air. Senang dengan cermin.

Karena itu, kututup semua cermin, kaca atau permukaan yang dapat memantulkan bayangan. Kupanggil tukang untuk memutuskan aliran air menuju bathtub, dan aku memilih mandi di kamar mandi belakang yang hanya dilengkapi ember kecil dan gayung. Aku mencabut kabel dispenser, berhenti membeli galon air minum, dan membiarkannya kosong. Mengganti kebutuhan minumku dengan hanya beberapa gelas air mineral kemasan yang kubeli hampir setiap hari.Aku memutuskan tidak ikut gathering kantor ke sebuah resto pinggir pantai. Karena pantai berhubungan dengan air...aku memutuskan menjauhkan diri dari semua yang dipaksa tubuh asingku untuk menyukai, mengingini.


Aku nelangsa, aku capek, dan sungguh menderita dengan apa yang kulakukan pada diriku sendiri. Aku menangis sesunggukan, Tapi tak bersuara. Tak ingin sesuatu didalamku mengetahui apa yang telah dilakukannya dan menyaksikan betapa aku lemah dan hampir saja kalah.Tapi aku sungguh benar-benar ingin menyerah. Ingin mengibarkan bendera putih atas perang yang kunyalakan sendiri.

Tidak!!Aku tidak mau kalah. Aku tidak mau dikalahkan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa atau siapa itu sesungguhnya. Dan keinginan besarku untuk menang atas 'diri asingku' telah membawaku 5 jam berkendara tanpa henti. Aku harus segera menghakhiri semua ini. Entah dengan kemenangan atau mungkin kekalahan telak. Tapi aku sudah bosan dan ingin mendapatkan hidupku yang dulu. Bayangkan!!!! 2 bulan aku sudah tidak pernah lagi merasakan nikmatnya tidur nyenyak. hampir selalu terbangun di tengah malam menjelang pagi dan kemudian susah untuk memejamkan mata. Phobia kepada cermin, seolah benda itu adalah media untuk mahluk asing menampakkan diri dan mengejar hendak meleburku menjadi serpihan halus. Benci kepada air dan berusaha menghindarinya. Sungguh mengerikan. Dan aku tidak mau ini terus membelenggu, memenjara, menjauhkan aku  dari ketenangan hidup yang dulu merupakan bagianku dan kini seperti hal paling mewah yang pernah terlintas di akalku.Aku ingin merebutnya kembali. Sesekali kuintip kaca spion. Bukan untuk melihat posisi kendaraan lain. Tetapi, ketakutan bahwa aku sedang tidak sendiri dalam perjalanan menegangkan ini.

Rumah tua eyangku, masih beberapa puluh meter ke depan, melewati sebuah jalan petak yang hanya bisa dilalui sebuah kendaraan. Aku berhenti tergesa. Segera turun dan membanting pintu mobil lalu lari tanpa menguncinya. Aku sudah tidak peduli. Eyang...itu harapanku satu-satunya untuk membuka tabir misteri yang selama ini merongrong dan membuatku menderita tak habis-habis.

Tubuh tuanya memelukku erat. Menatap  mataku yang cekung dan kembali memelukku. Sepertinya dia mulai  tahu apa yang terjadi. "Tolong aku eyang...."kataku tersendat. Airmata yang selama ini kutahan, tertumpah lepas. Aku menangis, tak ingin berhenti. Berhenti sejenak, mengambil nafas, memeras ingus dan menangis kembali.

Eyang mengambil sebuah kotak kayu kecil tua. Sedemikian tuanya, hingga saat kubuka, terdengar bunyi engselnya berderit kecil. Disitu ada foto almarhumah ibu. dan disitu juga ada foto bayi. Terbungkus kain putih, terbaring dalam sebuah peti kayu. Aku memandang eyang dengan heran. Eyang mengangguk sambil mengusap rambutku dengan lembut.

"Dia adikmu.Kembaranmu. Meninggal 24 menit setelah kau berhasil keluar. Ibumu mengalami kesulitan mengeluarkan kalian berdua. Kau berhasil diselamatkan....adikmu tidak"
" Tapi kenapa eyang???Apa yang membuat dia tidak berhasil?" tanyaku hati-hati.
"Terlalu lama...terminum air ketuban ibumu. Keracunan. Dia lahir dengan leher terlilit tali pusar.... tepat  jam 24... tengah malam"

"24 tahun lalu...eyang"aku bergumam sedih.

Memandang foto mungil adik kembarku. Apakah  ini caramu untuk menyadarkanku bahwa kau pernah ada?Aku mengusap lembut pigura kaca yang membungkus foto bayi adikku. Sebuah bayangan terpantul jelas dipermukaan beningnya........aku mengamati dengan lekat, untuk pertama kalinya aku kehilangan rasa takut. Aku tersenyum memandangnya.

No comments:

Post a Comment