Friday, August 13, 2010

Langit dan Bumi

Dia Langit. Berjalan dalam gerimis tipis-tipis sore itu.tidak ada yang berubah. Hanya rambutnya mulai bersinar perak digerus usia. Berjanji bertemu Bumi, wanita yang selalu dicintai dalam bayang-bayang. Bumi terlihat kurus dan pasi. Penuh beban yang disimpan dalam sepasang mata yang muram. “apa khabar?” langit membuka suara. “baik” balas bumi pelan. Lalu mereka diam. Sibuk dengan angan-angan? atau sedang berusaha menyembuyikan perasaan?
”sudah makan?” “tidak lapar”bumi menggeleng. Hatinya gusar.pikiranya mulai berputar-putar. Terus terang, pertemuan ini bukan untuk makan siang, bukan untuk bincang-bincang sambil tukar pikiran. Ini lebih penting dari itu.

Bumi :
Aku terkecoh cinta. Mengharap sesuatu yang tak berharga. Ingin lari dari takdir, tapi mimpimu membuat aku mabuk. Di hasratmu aku takluk. Ah !seandainya aku sigap, tak mudah terjebak pada dongengmu yang belakangan menjelma kepedihan, hingga larut pada waktu yang kutempuh sendirian.

Langit:
Maaf, kalau itu yang kau rasa. Tapi aku nggak gombal. Pula bukan pria begundal. Kita hanya sepasang pecinta yang salah menafsir, hidup tenang dipesisir atau nekat menerobos padang pasir. Cinta tak pernah salah diberi arti. Sudahlah jangan kau sesali jejak matahari. Pula waktu yang mengiringi langkah kita, .....semoga Tuhan memberi ampun dan tak menutup jalan pulang saat kita hendak kembali.


Langit mulai gelap. Gerimis berhenti. Lampu-lampu taman mulai menyala. Sudah berapa jam mereka duduk? Duhh! Kalau mengingat dulu, menit- menit yang berlalu adalah ancaman. Mengapa waktu merangkak cepat? Masih ingin berdua, masih ingin bersama.suara jangkrik seperti nyanyian merdu pavaroti. menari di telinga. Setiap sudut tempat seolah memberi warna kenangan. Sebut saja: tempat parkir, pasar swalayan, bangsal rumah sakit, sisi bukit, restorant atau terminal bus kumuh sekalipun....wahai ...dimana benih cinta luput disemai?

Langit:
Aku tak bisa menjanjikan apa-apa. Sebutan apa yang pantas bagi mu: kesalahan terindah atau cinta yang tak boleh kuhidupkan kembali, atau apalah, ...bagiku kau tetaplah keindahan............

Bumi :
Masa bodo! Aku tak mau sekarat di gempur keraguan. Jangan sesumbar soal kekekalan. setiamu mulai dipertanyakan. Aku merasa, ada yang berubah. Sepanjang percakapan sorot matamu tak pernah menatapku.apa yang kau sembunyikan, kekasih? Tangan langitmu tak lagi menggenggam. Inikah waktunya? Saat kau akan bilang : lebih baik kita kembali pada tempat kita berjejak? Aku adalah Bumi dan kau adalah Langit? jangan melangkahi suratan.!!!Begitukah!?

Bumi:
“Kau ingat menara Babel? Jalan yang ditempuh Bumi agar selalu dekat kepada Langit? Bukankah kita juga punya mimpi serupa? Yang dibangun hasrat selama bertahun-tahun? Sanggupkah kau menghapusnya seolah itu adalah parasit yang akan hilang saat air hujan menggenang?”

Bulan meratap. Mata malam senyap.Hati Bumi semakin dingin...meski ingin, tapi dilihatnya Langit mulai menyerah. Sadar betul Bumi, cinta tak boleh dipaksa. Suaranya pelan meminta pada Langit: “ Jangan kau pergi sebelum kau beri aku sebait sajak”

Langitmenggeleng :
Tau kah kau sayang? Dalam diam justru banyak cerita. Sajakku adalah bentangan cakrawala. Mengapa kau terus meragu? Cinta kita tak butuh kata, berapa harga kata?
Pejamkam matamu , nikmati sunyinya, dan biarkan angin mengubah kita menjadi apa saja. saat aku menjelma hujan yang jatuh ke tanahmu, membasahi wajahmu, membasahi hatimu....kau bahkan lebih indah dari puisi....


Bumi mendesah:
Dari dulu memang aku tahu, yang ada padamu hanya kegelapan. Yang kita punya hanya kegelapan. Meski kadang sempat berharap, dalam gelap kita masih bisa menatap.
Tapi sudahlah! Waktu kita sudah habis. Pergilah yang jauh....pergilah kepada awanmu, pergilah kepada bintang atau bulan yang ada di Langitmu.. Jangan kau pedulikan, apakah aku sanggup bangkit atau malah sakit. Biarkan aku tetap disini, menikmati luka dalam sendiri. Tetap mencintaimu...juga mencintai waktu!

Bekasi, Maret 2010

No comments:

Post a Comment