Saat
kau melihat wajah cinta…tersenyumlah
Meski hati berkata
enggan
Karena
orang rela menukar segala, pun harga
dirinya
Demi
sepotong cinta
Jika
kau terluka karena cinta
Bertahanlah….sakitnya
tak akan lama
Saat
kau pulih nanti
Hatimu
belajar menjadi lebih baja
Dari
sebelumnya……..
Tenggelam kau dalam cinta…
Nikmatilah
cinta…
Usia
bukan musuh dari cinta,
Bahkan
kematian tak sanggup menghentikannya
Cinta
itu abadi……….dan
Abadilah
cinta………
I
Reda, Tatas dan Mikael
Mereka bertiga bersaudara. Lahir dari rahim yang sama. Bukan kembar 3.
Reda, wanita, lahir 5 tahun lebih dulu dari Tatas dan 11 tahun lebih tua dari
Mikael. Kedua nama terakhir adalah lelaki yang dipanggilnya dengan sebutan
adik. Terlahir dari garis keturuanan yang sama tidak otomatis membuat semua seragam dan seia sekata.
Ternyata banyak perbedaan. Terutama saat mereka telah dewasa. Saat mereka
masing-masing telah menikah. Dunia tidak lagi sempit dan hanya seputar main
petak umpet dan lompat tali. Atau rebutan main sepeda yang hanya satu dan
dipaksa untuk digilir bertiga. Atau
siapa yang harus bangun lebih dulu dari siapa dipagi hari, mandi lantas sarapan pagi dan pergi sekolah, sementara
kalau mendapat giliran berikutnya, tentu bisa melanjutkan kegiatan melingkar-lingkar
dibawah selimut yang lembut dan hangat.
Reda, temperamental. Manja dan
selalu mau menang sendiri. Diantara mereka bertiga dia selalu merasa, dialah
Golda Meir si tangan besi dari Israel. 5 tahun tanpa kehadiran kompetitor membuat
Reda selalu berhasil memonopoli perhatian ayah dan ibu. Anak kesayangan,
sulung, dan wanita satu-satunya.
Kehadiran bungsu,Mikael yang tak pernah direncanakan.
Wujud kesalahan perhitungan orangtua
yang seharusnya mentaati himbauan pemerintah untuk hanya 2 anak cukup, membuat
ketenangan Reda sangat terganggu. Tak dinyana, roti yang tadi cukuplah dibagi 2
sekarang, masing-masing harus puas dengan sepertiga. Lebih banyak lagi
mempelajari nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan dan sosial. ‘jangan egois, harus berbagi, jangan
bertengkar,banyak mengalah, salinglah kalian tolong menolong, bantu adik,
saling sayang, jangan ini jangan itu, saling ini, saling itu’ Aturan dan nilai yang diterapkan dan
diajarkan semenjak Mikael lahir membuat, bungsu itu terpelihara layaknya anak
raja yang diproteksi habis-habisan. Membuat dia besar kepala dan lebih manja
dari si manja Reda.
Dan di jajaran tengahnya ada Tatas,
lahir diwaktu yang tanggung, sungguh sangat tidak untung. Tak pernah menang
dari kakak perempuannya yang manja, tapi juga cenderung terus mengalah bagi si
bungsu yang lahirnya sama sekali tak di prediksikan. Susah mendapat perhatian
orang tua. Dari kecil, bila ia menginginkan sesuatu yang kebetulan juga
diinginkan Reda, sudah otomatis, dia tak kan
pernah mendapatkannya. Ayah atau ibunya akan memberi pengertian panjang
lebar yang intinya sangat singkat, ‘ngalah aja ya sayang, sama kakakmu’. Kalau
kebetulan yang jadi saingan bermainnya itu si bungsu, nasibnya tidak akan lebih
baik. Sebelas dua belas, sami mawon. Jadi sepanjang hidupnya, dia hanya tahu,
kalau kepentok masalah dengan 2 saudaranya, ujung-ujungnya
dialah yang akan mundur teratur. Mengalah sajalah……
Kini dunia sempit dan kecil yang
mereka lihat dari perspektif mereka yang sederhana telah berubah. Mengalah bagi
Tatas ternyata memiliki batas. Kalau mengalah dulu dianggapnya sebagai sebuah
pembatasan atas hak memiliki sesuatu
karena posisinya yang tak menguntungkan, maka kini dia tak ingin menjadi pihak
yang terus ditindas dan dianggap tak penting. Harusnya diapun adalah anak yang
posisinya sama penting dengan ke-2 saudaranya. Kini saatnya
perubahan.
Reda dan Mikael belajar banyak hal.
Terutama soal mengalah dan saling sayang yang di susupkan di kepala mereka
sejak kecil. Asupan kasih sayang yang berlebihan ternyata tak selamanya
berakibat deviasi perilaku. Hubungan persaudaraan keduanya lebih erat dari simpul. Saling berbagi, saling
mengerti, dan saling mengalah. Tapi, keputusan si Tengah untuk berubah menjadi ‘orang yang layak diperhitungkan’
dalam keluarga menjadi sebuah awal perpecahan. Mungkin perlulah kita belajar
dari buku bijak ‘saat kita melepaskan hak, justru kita akan memperolehnya dan
sebaliknya bila kita menuntut hak, maka kita telah kehilangan banyak hal’
Menjauhkan diri dari keluarga. Tak
pernah lagi peduli dan tak mau tahu apapun yang terjadi. Saat kemalangan dan
juga pertemuan penting, si Tengah itu seperti raib entah kemana. Kalian bukan siapa-siapa
lagi, sepertinya, itu yang hendak disuarakannya. Karena sepanjang masa kecilnya, ia telah lelah dipaksa mengalah
terus-terusan. Itulah konsep ‘berubah’ala Tatas.
Reda mulai menyadari itu. adik
tengahnya itu telah jauh. Tak mampan lagi dikhotbai, dinasehati, apalagi dipahami.
Sementara, si bungsu sadar, saat kecil bermain perang-perangan lalu tertembak,
menyerah dan kalah adalah yang sering terjadi di pihak Tatas. Sekarang, perang
itu memang belum meletus, tapi aura kemarahan dan sakit hati sudah merebak dan
terlihat kasat mata. Hubungan mereka bertiga semakin kusut dan rumit. Bahkan untuk
bersandiwara di depan orang, agar terlihat baik-baik saja, susahnya bukan main. Gengsi. Harga diri. Nilai
‘mengalah’ yang berusaha dulu diwariskan orangtua sebagai tambahan budi
pekerti ,sekarang telah luntur tercuci keegoisan dan arogansi.
Lalu, Reda sakit. Ada kanker di
payudara kirinya. Benjolan yang dipikirnya hanya kelenjar airsusu itu ternyata
benih kanker ganas yang telah bercokol berpuluh tahun. Tak ada jalan keluar
selain operasi. Itupun tidak menggaransi apa-apa. Artinya, di meja operasi,
apapun bisa terjadi. Ini pil pahit bagi seluruh keluarga. Mikael yang memang
anak manja, tak malu-malu menangis berurai airmata dihadapan kakak perempuan
satu-satunya. Takut ia membayangkan kemungkinan terburuknya. Walaupun juga tak
punya nyali untuk berandai-andai ada
mujisat turun dari surga bagi kesembuhan
kakaknya. Kondisi Reda buruk. Mungkin operasi itu jalan satu-satunya untuk
membuat Reda tetap hidup atau justru mengakhirinya. Tak ada yang berani
bertaruh selain mencoba. Dan di hari menjelang
operasi, Reda ingat , adiknya tidak
hanya satu. Tetapi dua. Masih ada Tatas. Walaupun, tak pernah sekalipun sejak
ia di vonis dokter, Tatas datang melihatnya, tapi entah kenapa, ia ingin sekali
bertemu.
“Tolong cari dia….aku ingin
bertemu”pinta Reda memohon dengan sangat.
Akhirnya mereka bertemu. Di menit
terakhir sebelum suster mendorongnya menuju kamar penentuan hidup dan mati, Tatas
datang. Wajahnya kaku. Tegang.Berdiri seperti seorang ajudan presiden yang siap
menerima perintah. Tak ada kata keluar
dari bibirnya yang beku.
Dan Reda tak punya waktu untuk banyak menimbang-nimbang. Siapa
yang seharusnya memulai atau siapa yang harusnya maju lebih dulu. Diraihnya
tangan Tatas. Digenggamnya selama 5 menit, tanpa bicara. Karena memang keduanya tak tahu harus bicara apa. Diam seolah
mewakili berjuta-juta kata yang sempat hilang
bertahun-tahun. Diam yang hanya 5 menit itu bagi keduanya adalah bahasa
hati yang artinya“maafkan aku, aku selalu
sayang padamu”
Dan memang tepatlah Reda memanggil
Tatas untuk bertemu sebelum operasi itu
dilakukan. Karena bila ia tak datang,
bila 5 menit dalam diam itu tak ada, maka berjam-jam sesudahnya,
berhari-hari sesudahnya, bertahun-tahun sesudahnya, walaupun Tatas menyadari
keangkuhannya dan ingin ‘mengalah’..sungguh,
kesadaran itu tak kan banyak berguna. Karena Reda sudah pergi. Ia pergi dalam
kedamaian.
II
Rachma dan Radith
Pasangan cinta yang memiliki nama
dengan huruf depan yang sama, pastilah pasangan yang kompak dan serasi. Sepertinya, itu hanya teori diatas kertas. 4
tahun bersama. Menjalin hubungan yang khusus dan dalam. Mereka berdua bukan
lagi 2 anak muda yang sedang kasmaran. Cinta mereka dewasa. Tapi sayang, usia
tak menjamin apa-apa. 4 tahun !!, Rachma merasa ia sedang mendaki gunung tinggi
yang tak pernah ia jumpai puncaknya. Capek, terengah-engah dan sengsara.
Manisnya hanya di 4 bulan pertama, selebihnya, ia menjadi tahu pribadi lelaki
yang sempat membuat hatinya bergemuruh. Tak lebih dari seorang sakit jiwa yang
bersarang dibalik wajah ganteng dan performance rapi jali.
Berjalan disisi Radith, Rachma
merasa sebagai Jennifer Aniston yang tengah mengandeng Brad Pitt . lelaki itu kelewat ganteng.
Apalagi dengan kaos putih ketat , celana jeans serta kacamata Rayban super gelap. Ck ck ck …Bahkan
nenek-nenek pun akan iri melihatnya.
Tapi kenyamanan suatu hubungan bagi
wanita bukanlah semata karena penampilan
luar. Tapi lebih kepada pancaran hati
yang mampu menciptakan suasana hangat dan damai. Dan Radith tak punya
itu.
Lebam pertama, diterima Rachma
setelah hubungan menginjak bulan ke 4. Persis melingkar di mata kirinya, hasil
jep kanan Radith. Karena ia lupa meminta ijin
untuk tugas luar bersama teman pria kantornya. Hanya karena lupa!
Akibatnya sungguh diluar dugaan. Begitulah sifat jelek Radith terungkap.
Cemburu buta. Lalu selanjutnya, cakaran, tamparan, tendangan, jambakan,
makian….tak henti-hentinya silih berganti , diterima Rachma. Kekerasan fisik
dan verbal bak rutinitas wanita yang pergi kesalon. Hampir terjadi setiap
minggu. Bahkan, untuk hal sepele plus remeh temeh saja, Gunung Merapi di dada Radith bisa memuntahkan lahar panas.Dan itu membuat Rachma malu, sakit dan hancur bukan hanya terasa di hati saja tapi hampir sekujur tubuhnya.
Radithpun tak mengerti, ia sangat
mencintai Rachma. Tapi, sejujurnya antara keinginan dan rasa sakit tertahan, mengapa sulit
membedakannya. Ia sadar, dirinya sakit. Jiwanya terganggu. Hatinya miris
memperlakukan pasangan cintanya seperti orang kesurupan. Memukul tak berhenti
sebelum perempuan itu memohon-mohon ampun dan terhempas tanpa daya di sudut
ruangan. Sejujurnya ia tak ingin. Tapi pun tak bisa menahan diri. Ia sakit
jiwa.
Semua orang bicara, bahwa betapa
tolol Rachma masih tetap mempertahankan
Radith. Masih tetap mencintainya dan berharap lelaki psyco itu kelak menikahinya.
Bagi Rachma, statusnya yang janda dan vonis dokter bahwa ia adalah wanita
mandul, cukup membuat dirinya sadar bahwa tak ada waktu untuk mencari lagi,
bertahan dan menerima adalah bentuk kesabaran yang diharapnya berbuah manis kelak
dikemudian hari.
Dan Radith akan selalu mencintai
wanita yang terus disakitinya itu,
karena Rachmalah satu-satunya
wanita yang mengerti bahwa penyakit jiwa yang dideritanya, hanya bisa disembuhkan dengan kesabaran dan
ketabahan. Sebuah simbiosis mutualisma yang mengerikan.
III
Vicky ….DAN
Pergi dan melupakan ..mungkin itu
jauh lebih realistis daripada menunggu bagai pungguk merindukan bulan. DAN
lelaki pujaan hati dan jiwa itu, memang sejak dulu tak pernah menggubris
perasaannya. Sejak pertama bertemu di bangku SMA Vicky telah mengenal DAN,
mereka berteman baik. Berlanjut di bangku kuliah dan diteruskan hingga
masing-masing sibuk bekerja. DAN tak berubah. Dan perasaan Vicky juga tetap sama.
Tak pernah sedikitpun perempuan
bermata bulat dengan senyum berhias lesung pipit yang manis itu, berhenti
memberikan perhatian. 3x dalam sehari smsnya masuk ke hp DAN: ‘Apakah kau sudah
makan?’. 2 hari sekali ia menelpon untuk menanyakan khabar. Seminggu sekali ia
bertandang ke rumah lelaki pujaan hatinya itu, membawakan seloyang kue kismis
yang dibuatnya sendiri. Sebulan sekali sehabis diterimanya gaji, ia akan
berjalan-jalan di mall menghabiskan
malam sendiri, dan bila matanya terantuk pada sesuatu yang menarik perhatiannya
entah itu : kaos kaki, sapu tangan, jam dinding, dompet, dasi, minyak wangi,
sisir rambut, kemeja, buku…apa saja…yang mengingatnya pada lelaki pujaan hati
dan jiwanya itu, ia akan membeli, membungkusnya dengan kertas kado berwarna
biru, warna kesayangan DAN, dan kemudian meletakkannya dengan manis di depan pintu rumah DAN. Semua itu bagai sebuah ritual kepercayaan pada cinta sejati, yang yang tak pernah bosan
dan tak sedetikpun lupa dilewatkan. Selalu demikian…selama bertahun-tahun.
Bagi DAN, kedatangan Vicky adalah
kunjungan persahabatan sejati yang paling ia nantikan di akhir minggu. Apapun
yang dilakukan wanita manis berlesung pipit itu tak sedikitpun mengganggunya.
Membaca smsnya sehari 3x, kata-kata yang sama, sepertinya ia hanya me-resend pesan sehingga tidak terlalu
merepotkan. Walaupun kadang ia menyempatkan menjawab, tapi lebih sering terlupakan begitu saja. setiap 2 hari sekali,
Rabu dan Kamis jam yang sama 12.30 WIB saat ia tengah makan siang dengan teman kantornya, Vicky akan menelpon, hanya
bertanya sebuah pertanyaan yang sama:’ Apa khabar DAN?kau sehat-sehat saja,
bukan?’ dan setelah ia menjawab ‘Ya, aku baik-baik saja’, maka pembicaraan akan
berhenti, dan ia melanjutkan kembali makan siangnya yang sempat terhenti. Tapi
tak sedikitpun DAN berpikir bahwa itu hanya sebuah perhatian basa-basi. Belum lagi kunjungan Vicky diakhir
minggu dengan senyum penuh dan seloyang kue kismis favorit DAN, lalu
hadiah-hadiah kecil yang tergeletak manis di depan pintu rumah setiap akhir bulan. Begitu rutin. Begitu sama.
Tapi DAN tak pernah bertanya. Atas
nama persahabatan yang ia junjung sangat tinggi sejak SMA dulu, ia tak mungkin
menyakiti hati sahabat manisnya itu dengan pertanyaan-pertanyaan tak penting
hanya untuk mengklarifikasi, adakah
udang yang tersembunyi di bebatuan? Selama Vicky senang melakukannya,
DAN berusaha tidak terganggu samasekali.
Dan Vickypun tak pernah berusaha menjelaskan apa-apa. Baginya,
jaman boleh saja maju, tehnologi bisa saja berkembang, emansipasi telah menyetarakan pria dan wanita pada satu
garis yang sejajar, tapi adat ketimuran tetaplah yang dipegangnya erat-erat. Tabu membuka
mulut dan berkata í love u, terlebih
dahulu. Itu wewenang pria. Karenanya, atas
nama cinta, bagi Vicky…pengorbanan sebesar apapun, pasti akan dilakukannya. Tak
ada kata lelah, jemu, bosan, remuk,pilu bahkan saat DAN akhirnya menemukan ‘seseorang’yang
menjadi pilihan hatinya. Dan seseorang itu bukan dirinya. Seseorang itu adalah
Ve, sahabat karibnya sendiri.
IV
Ardy dan Nancy
Handphone berdering disaat yang
sangat krusial. Jam 3 siang bolong di hari minggu. Saat dan waktu yang nyaman
bagi Ardy untuk tidur siang. Istirahat.
Bisa terbayangkan malasnya tangan mengangkat dan mata terbuka untuk sekedar melihat
dilayar hape, nama siapa yang tertera disana. Ternyata itu Nancy,istrinya.
“Ada apa…?” katanya malas, setengah
mengantuk.
“Aku membangunkanmu? Maaf ya … aku
hanya mau bilang, aku sudah sampai, salam sayang buat anak-anak ya..bye”
“Hmmm…”balasnya. Lalu,
klik…pembicaraan selesai dan ia
melanjutkan kembali tidurnya.
Percakapan suami istri yang telah terikat perkawinan 15
tahun itu , bagai teh pucat tanpa gula, tawar! Memberi kesan bahwa semakin lama usia perkawinan,
pembicaraan akan semakin singkat. kebanyakan ga nyambung, lola alias loadingnya
lama dan bikin emosi jiwa. Isyarat dan bahasa tubuh sepertinya lebih
efektif digunakan , seperti : melotot , semua tahu itu artinya tak suka.
Menggeleng lebih dari 3x disertai bibir yang agak dimiring-miringkan mirip
orang stroke ringan, itu artinya duhh,
kelewatan banget sihh. Dan kalau ditambah berkacak pinggang dan gigi geligi
saling berantukan, arti yang lebih dalam
lagi adalah sebentar lagi pasti ada perang dunia ke-3. Kalaupun ada
bahasa suara yang terdengar, itu tak lebih dari bunyi sengau hasil kerjasama
tenggorokan, mulut dan lidah yang
berusaha menahan bunyi-bunyian yang akan keluar. Terdengar seperti : hmmmmm (
malas berkata : ya) ihhhhhh (tidak suka)
aghhhh (menolak dengan keras, ughhhhh (sedikit jengkel).
Jarang sekali Ardy dan Nancy, 2
manusia dewasa itu duduk berdua layaknya
manusia yang telah terdidik dan dibesarkan dalam peradaban , dapat berbicara
dengan cara yang adab pula, hingga
masalah mereka tuntas dan mencapai kata sepakat untuk kemudian
diimplementasikan dalam hidup rumahtangga. kebanyakan adalah, bila bicara
baik-baik pasti tak lebih dari beberapa
menit saja, selebihnya …nancy akan berlalu cepat sambil membanting pintu kamar
dan ardy akan berteriak “Kita belum selesai bicaraaaaa” Tapi terlambat. Bunyi
braaaakkkk sudah sampai lebih dahulu di telinga.
Apa yang salah? Atau siapa yang
salah? Keduanya merasa berdiri di tempat
yang benar. Emosi dan egois, 2 nama karakter busuk yang adalah musuh utama
hubungan antar manusia, telah menutup
jalan menuju pemahaman nurani. Hati yang harusnya banyak bicara bagi pasangan
suami istri itu, kini lebih berfungsi sebagai
laci , tempat menyimpan segala kesalahan dan uneg-uneg.
Diam dan acuh, bukan jalan keluar.
Jelas itu. Tapi dibutuhkan kerendahan hati untuk memulai membuka diri. Membuka
hati. Bicara dan mencari solusi.
Menurut Ardy:
“Aku ga ngerti nancy, semakin
didiamkan malah semakin menjadi. Dia pikir aku berdiam artinya setuju. Aku diam
dibacanya mendukung. Mana bisa begitu? Kalau aku ga pernah protes, saat dia
terlalu banyak menghabiskan waktu untuk pekerjaan, itu karena aku ingin dia
mikir sendiri. Sebagai perempuan walaupun punya dwifungsi, tapi tugas
utama dirumah samasekali tak boleh
terbengkalai. Apalagi diabaikan. Aku males bicara. Ujung-ujungnya berkelahi.
Hal sepele seperti ini harusnya ga perlu aku buang energy untuk ngasih tahu
dia. Sadar sendirilah. Malahan akhir-akhir ini bisa 3-4 kali dalam seminggu
tugas luar. Kayak lagi ngejar setoran aja. Bisa dia Cuma: titip salam sayang ya
buat si kecil……aggggghhhh capek aku”
Saat masalah terasa bertambah
tajam, Ardy mengambil inisiatif untuk mencari bantuan pihak ke-3. Seorang
psykolog. Dan didepan istrinya ia menumpahkan semua kekesalannya yang menumpuk
selama beberapa tahun belakangan. Sebenarnya yang jadi masalah adalah minimnya
komunikasi. Itu saja. Nancy terlihat
begitu sibuknya sampai tak jua dapat membaca kegelisahan di sikap Ardy. Dan
Ardypun terlalu gengsi untuk sekedar meminta waktu istrinya untuk bicara. karena
itu, lebih baik ia memilih pertolongan sang ahli untuk mencari solusi bagi
masalah mereka.
Dan diatas itu adalah suara kejengkelan Ardy yang ditumpahkan di hadapan
psykolog yang sudah dikunjunginya beberapa kali belakangan ini.Dan demi mendengar itu, kontan Nancy
melotot. Salah satu bahasa tubuh yang
sering digunakanya bila tak suka akan sesuatu.
Menurut Nancy, saat gilirannya tiba
untuk bicara : (nafasnya diatur satu-satu agar terkesan ia dapat mengendalikan
situasi. Agak kesal juga mendengar bicara Ardy.Tadinya dia ingin langsung
membantah tapi dr Rahman Ibrahim, Spsi tersenyum kearahnya dan melakukan isyarat
mata dan tangan yang harusnya dipahami seperti ini: ‘sabar, jeung! Ini bukan sidang paripurna yang marak dengan
intrupsi.tunggu giliran, ya’. Nancypun
urung membuka mulutnya untuk membalas
serangan Ardy, sebaliknya ia menarik nafas panjang-panjang)
“Mas Ardy plin plan, dok. . Dulu,
aku didukung penuh berkarir. Sekarang setelah semuanya settle aku dituntut professional ,dong! Aku kan bukan pegawai biasa
lagi. Aku punya jabatan. Tuntutan tanggungjawabnya juga pasti berbeda dari yang
dulu. Kalau protesnya sekarang, ya telat itu namanya. Dan satu lagi sifatnya
yang aku kurang sreg. Kekanak-kanakan sekali. Minta diperhatikan, manja, ga
pernah mau membantu pekerjaan rumah tangga. Semuanya aku. Aku. Pulang dari
kantor, rumah berantakan, anak-anak belum mandi, aku juga yang harus turun
tangan sendiri. Mau aku tuh, berat sama
dipikul, ringan sama dijinjing. Kalau semua beban harus aku yang pikul, ya
aku juga capekkk. “
Itulah keluhan mereka berdua. Mirip
sebuah acara reality show di TV yang diputar menjelang tengah malam. Masihkah kau Mencintaiku. Itu nama
acaranya. Mencari solusi untuk masalah-masalah seputar rumah tangga. Dimana, Pasangan suami istri
berhak menumpahkan isi hati, bicara unek-unek, menangis sepuasnya.
Gontok-gontokan sepuasnya. Dan terakhir, diarahkan untuk mencari solusi bagi
masalah mereka. Acara yang menarik. Apalagi Mbak Win sang psykolog terkenal dan
juga Mbak Rae Sita sebagai konselor yang berpengalaman soal rumah tangga juga
turut memberi jalan keluar. Tapi pada akhirnya, tentu saja saran dan jalan yang
diberikan tetaplah menjadi sebuah pilihan bagi pasangan. Mau tetap berdiri dan
menyelesaikan masalah, atau pergi….ngeloyor, lari dari masalah.
Ardy yakin sepenuhnya, cinta mereka
masih utuh. Tidak ada WIL atau PIL. Ini hanya masalah mendengar dan didengar.
Mengerti dan dimengerti. Ini hanya perlu
hati yang tulus untuk saling memahami. Tangan yang terbuka menerima pula kasih yang besar untuk memaafkan dan komitmen untuk memulai sesuatu yang
baru…benar benar baru.
Mereka berdua, duduk diam dihamparan
pasir di tepi pantai. matahari sore mulai surut dan warna langit meneduhkan
jiwa. Ardy menggenggam tangan Nancy. Dan wanita itu mempererat genggaman
suaminya. Ia menyandarkan kepala di bahu lelaki tercinta itu. Ada perasaan yang
luas di hatinya. Plong. Lega. Nyaman. Damai.Saran sang psikolog untuk mengambil
waktu dan saling membuka hati untuk bicara, dipraktekkan sore itu. Entah alam
yang mendukung, atau karena keteguhan mereka
untuk mencari solusi, tapi cinta sekali lagi menunjukkan kekuatannya.
Selama cinta yang menjadi landasannya, sesukar apapun jalan pastilah berujung
dengan indah.
V
Roma
Wanita, 32 tahun. Cerdas. Memiliki
segalanya. Pemegang saham terbesar dari
perusahaan iklan. Apartemen berukuran 150m2 di kawasan elit Jakarta
Selatan. Mercy Hitam legam seri E200 keluaran tahun terbaru plus supir yang
siap mengantarnya pergi dan pulang kantor juga ke segala tempat yang dia suka.
Hanya satu yang kurang: ia adalah anggota IJB. Ikatan Jombl o bahagia. Yang
sejujurnya kalau bicara dari hati ke hati ia pasti tak bahagia. Kesepian
menggantung di ujung matanya. Kesedihan mengacak-acak hatinya. Terutama saat
weekend panjang tiba, atau saat suasana
haru yang ditimbulkan oleh mendung di langit dan hujan yang rintik-rintik.
Hatinya bertambah biru. Teringat masa kecilnya yang susah bersama ibu tersayang.
Ah,ibu…baginya dialah pahlawan
hidupnya no satu. Pejuang paling berani dan tak kenal putus asa.
Baginyalah, ibu rela tak menikah lagi, membanting tulang bekerja serabutan
asalkan ia bisa mengambil pendidikan yang lebih tinggi dari sekedar berijazah SMA. Ia ingat, jelas masih tersimpan
di memory pikirannya. Malam itu, ia
mendengar pembicaraan yang seharusnya tak boleh ditangkap telinga
seorang anak berusia 8 tahun. Ayahnya ingin menikah lagi. Tapi ibu tak
mengijinkan. Ayah ngotot, karena
ternyata perempuan calon ibu tirinya itu sudah hamil. Ibupun tetap ngotot untuk
tidak memberikan ijin. Peristiwa dramatis itu, mencapai puncak dengan kepergian
ayah. Bukan untuk sehari dua. Tapi selamanya. Ia tidak pernah lagi melihat ayahnya.
Bahkan hingga usianya mencapai 32 tahun.
Dan bisa dibayangkan. Hidup tanpa
tulang punggung keluarga. Walaupun Roma adalah anak tunggal, tapi bagi ibunya
yang hanya sanggup membaca dan menulis, pekerjaan apa yang bisa dilakukannya
selain menjadi buruh cuci dan pembantu rumah tangga? Tak sedikitpun Roma
melupakan masa-masa sulit itu. Dari subuh hingga ia pulang sekolah pukul 13.00
WIB, Ibunya masuk keluar pintu tetangga
untuk mencuci dan menyetrika. Sore hari, masih sempat ibu menggoreng pisang,
tahu dan bakwan untuk dijual didepan rumah mereka. Saat ia tak tahan, ia pernah
menangis.
“Bu, aku berhenti sekolah saja….aku
ga mau ibu kerja dari pagi sampai malam sementara aku ga ngapa-ngapain, ijinkan
aku juga membantu, bu…”
Tapi apa jawab ibunya?
“belajar saja yang tekun, itu
adalah bantuan yang sangat menolong ibu. Ini semua sudah takdir kita. Ibu tak
mengapa bekerja beginian, karena kerja kantoran ibu ga bisa…..eh, Rom…kalau
suatu saat kamu pake hak tinggi, baju keren, terus kerja kantoran seperti
tetangga-tetangga kita, ibu pasti akan sangat bangga.”
Jawaban ibulah yang membuat Roma melecut semangat
belajarnya sedemikian kencang. Ia tak mengenal hari libur. Tak memperdulikan
waktu bermain, ataupun hangout bersama teman-temannya. Bila teman-temannya
nongkrong di kafe sepulang sekolah, atau cuci mata di lorong-lorong mal, Roma
justru asyik menjejali otaknya dengan buku-buku yang dipinjamnya
dariperpusatakaan sekolah. Atau mencari tambahan uang jajan dengan mengajar
anak-anak SD , adik teman-temannya. Sedapat mungkin ia tak mau menambah susah
ibunya. Sedapat mungkin ia ingin membantu mengambil sedikit beban dipundak
ibunya.
Bertahun-tahun kemudian, Roma bukan sekedar kerja kantoran. Bukan
sekedar, wanita karir yang seperti khayalan sederhana ibunya, memakai sepatu
berhak tinggi, stocking hitam, blazer hitam plus rok mini. Bukan sekedar
bekerja dibelakang meja menghadap computer
dan menunggu perintah dari atasannya. Bertahun-tahun kemudian, Roma
adalah pemilik perusahaan ternama, wanita karir dalam arti yang
sebenar-benarnya, bekerja di belakang meja, menghadap computer dan memberi
perintah. ia adalah bosnya.
Tapi itu tak membuat kebahagiaannya
sempurna. Cintanya yang besar pada ibunyalah yang membuat dia menggapai
setinggi langit cita-citanya,mengorbankan masa bermain, mengorbankan masa
remajanya . belajar, belajar dan bekerja. Dan akhirnya mempersembahkan mimpi ibunya
menjadi realita luarbiasa. Tapi, hidup bukan milik kita. Rencana tak selamanya
berjalan prima sesuai harapan. Ibunya di panggil Sang Khalik. 3 tahun sebelum
ulang tahunnya yang ke-32. 2 tahun sebelum ia membeli sebuah perusahaan
advertising yang hampir bangkrut dan membangunnya kembali.
“Kita hampir di puncak, bu. Sedikit
waktu lagi. Mengapa tak kau biarkan aku mewujudkan mimpimu..” sesalnya selalu.
Kanker serviks. Stadium lanjut. Kuman
Human
Papilloma Virus yang 'dibawa'
ayahnya berpuluh-puluh tahun yang lalu itu, akibat kegemarannya berganti-ganti
pasangan, telah membunuh ibunya. Semua ini karena ayahnya. Ibunya telah pergi. Tanpa
pernah tahu, bahwa mimpi dan harapannya telah terwujud. Kerja banting tulangnya
demi Roma sekian puluh tahun lampau telah terbayar.
Roma membenci dalam-dalam ayahnya.
Sampai mati. Bahkan kelak bila bertemu di alam mautpun tak juga rela ia
memaafkan ayahnya. Dan bentuk kebencian itu terejawantahkan secara nyata dalam
kehidupan cintanya. Ia menjauhi laki-laki dan menganggap semua pria adalah
jahanam seperti ayahnya. Katakan Tidak Kepada Pria….tulisan itu tertempel jelas
di atas meja kerjanya. Dan juga terukir di relung paling dalam hatinya...entah sampai kapan...
***
Pada akhirnya, harus bilang apa tentang cinta? Ia ada
dimana-mana. Terlihat dan teraba juga bercita rasa. Pada senyum, sentuhan,
kata-kata , airmata,dan juga pahit luka.bagaimana
kita bisa lari dan sembunyi dari cinta? Bahkan alampun tak pernah usai menceritakannya. Kau melihatnya
turun bagai hujan yang tertumpah. Nyata pada sinar matahari pagi, tercium di
udara dan bergelantungan bagai embun di pucuk daun. Semakin ingin kau berpaling
dari cinta, semakin kau terkejar
olehnya. Memang ia buta, tapi kakinya
tahu persis kea rah mana melangkah.
Jangan pernah takut memulai cinta. Ia dihadirkan
bukan untuk menyakiti. Kalaupun kau terluka, darinya kau mengenal rasa bahagia.
Dan cinta tak pernah memaksa. Tak pernah
memenjara. Ia membebaskan. Ia melepaskan. Bagi cinta, kebahagiaan adalah
tujuan, tak perduli apakah ia ikut luka….karena sejatinya cinta adalah hanya
memberi…memberi...dan memberi.
No comments:
Post a Comment