Ini perjalanan kata dari sebuah kota bernama Sihanouk Ville
di dataran rendah Cambodia dan berakhir
di celah hati
Menghitung berapa
pagi dan berapa malam dan berapa kali matahari dimatanya sudi mengaram. Barangkali sehabis sarapan, ia memutuskan
beristirahat diruang tunggu sebuah gedung pertunjukan yang baru saja menggelar
pentas drama kolosal:Mahabrata. Kemudian, ia
menarik nafas panjang untuk meredakan gelisah hatinya sendiri karena
ternyata yang baru saja berlakon diatas panggung ini tak lain adalah jiwanya
yang sepi
Betapa kata-kata terlalu panjang berjejal
dalam kepala.
(sampai di sini kayak ga nyambung. ada yang kata yang hilang
terputus dari rangkaian kalimat sehingga
terasa diam, kosong. mungkin
karena kata juga bisa berontak memaksa untuk mendirikan negeri dari kamusnya sendiri-tapi sungguh ia tak peduli ) Terlalu
sunyi karena ia pandai sembunyi, terlalu ragu karena ia suka ungu ,terlalu mantra karena membilang nama-nama, terlalu putih hingga tubuh kata mengira ini
sarang laba-laba? Ataukah daun
hijau tua? atau mimpi yang patah
sayapnya? Atau anak lelaki yang lupa pada silsilah? walau akhirnya dirinya menyadari , ia hanya sekumpulan kata yang mencoba
mengelabui mataku yang hanya percaya bahwa dirimu adalah penyair
buta, yang tak jua mengerti mengapa mantra dan doa berbeda karena harus
di lafalkan dengan terbata?
Lalu aku memberanikan diri bertanya: “ ini kata siapa
punya?mengapa malam sekali kau datang?”
Ia menjawabku: “ aku bebas bertualang, karena ayahku bernama
mbang”
No comments:
Post a Comment