Tuesday, May 24, 2011

M a n t r a



Ini perjalanan kata dari sebuah kota bernama Sihanouk Ville di dataran rendah  Cambodia dan berakhir di celah hati 


Menghitung  berapa pagi dan berapa malam dan berapa kali matahari dimatanya sudi  mengaram. Barangkali sehabis sarapan, ia memutuskan beristirahat diruang tunggu sebuah gedung pertunjukan yang baru saja menggelar pentas drama kolosal:Mahabrata. Kemudian, ia  menarik nafas panjang untuk meredakan gelisah hatinya sendiri karena ternyata yang baru saja berlakon diatas panggung ini tak lain adalah jiwanya yang sepi


Betapa kata-kata terlalu panjang  berjejal  dalam kepala. 

(sampai di sini  kayak ga nyambung. ada yang kata yang hilang terputus dari rangkaian kalimat sehingga  terasa diam, kosong.  mungkin karena kata juga bisa berontak memaksa untuk mendirikan negeri dari  kamusnya sendiri-tapi sungguh ia tak peduli ) Terlalu sunyi karena ia pandai sembunyi, terlalu ragu karena ia suka ungu ,terlalu  mantra karena membilang nama-nama,  terlalu putih hingga tubuh kata  mengira ini  sarang laba-laba? Ataukah  daun hijau tua? atau mimpi  yang patah sayapnya? Atau anak  lelaki  yang lupa pada silsilah? walau  akhirnya dirinya menyadari , ia   hanya sekumpulan kata yang mencoba mengelabui mataku yang hanya percaya bahwa dirimu adalah  penyair  buta, yang tak jua mengerti mengapa mantra dan doa berbeda karena harus di lafalkan  dengan terbata?


Lalu aku memberanikan diri bertanya: “ ini kata siapa punya?mengapa malam sekali kau datang?”
Ia menjawabku: “ aku bebas bertualang, karena ayahku bernama mbang”




                                                       

No comments:

Post a Comment