Sayang, Desember hampir mencapai ujung, dan
Hujan semakin gencar berkunjung
Membasuh letih kalbu, hingga lumpuh oleh rindu
Sayang, irama hujan yang kau sangka nyanyian perang itu
adalah debar debur jantung yang riuh bersenandung
aku terayun limbung, oleh mata hujan, tangan hujan, kaki
hujan
yang berulang-ulang singgah di genangan
bermain teka-teki, yang salah kuberi arti
aku melayang…… berputaran digugus bintang. Menggelombang,
membentang, terayun oleh perasaan, yang nyatanya hanya bayangan. Menamparku,
mendamparku….hingga lupa jalan pulang
sayang...kau, rinai hujan pagi
hari
Mengalir menghilir ke ujung bening mata
Mencairkan gairah
Yang tak pernah puas kuserap, kuresap
Aku, kabut Januari
Terbang sendiri
Meradang sendiri
Menginginkan hujanmu mengguyur aku, agar aku lentur oleh
waktu!
No comments:
Post a Comment