Bagaimana sebuah chocolate mouse taart ala resto ternama bisa tersaji di pinggan putih ini?
Aku mengira kau telah mencuri resepnya mengendap di malam buta dan mengolahnya saat purnama.
membuat
ku kian gugup dan berkeringat saat garpu dan pisau beradu
bersentuhan, memasukkan potongan demi potongan untuk mencecap manis
kenangan.
‘Aroma yang tajam! ‘ ujarmu menghirup
wangi rum yang jatuh di ujung helai gaunku,kau sesap begitu
nikmat.Langit berubah ungu, matahari biru, membalur kilau di segala
penjuru.
Kau mulai lihai mencampur bahan dan
bumbu.Aku terpikat oleh tekstur kental coklat. Pekat layaknya asap yang
membumbung, mengepung aku. Meneteskan manis di ujung-ujung lidah
sehingga saat terhidang di pinggan, aku tak lagi sanggup memilih antara
pahit serbuk kopi atau menghulu menghilir mengikuti alur air.
Terkadang,
Aku berharap kau adalah serdadu yang selalu patuh dan bukan
kekasih yang pakar menakar seberapa asam dan seberapa tajam pula
seberapa panjang perjalanan ke masa silam? Karena lidahku perih
berseteru dengan sisa getah, manis gula, kapulaga dan cemburu yang
melekat di bebilah pisaumu.
Di ujung lidah api,
di pintu maut sepi, dipinggan putih ini kupersembahkan suatu menu baru.
sebuah chocolate mouse taart ala resto ternama. Bahan dasar coklat
pekat. Pekat layaknya asap yang membumbung, mengepung aku. Manis
serupa manggis. Merah sewarna darah. Darah jantung hatiku.
No comments:
Post a Comment