Wednesday, October 13, 2010

Hukum Rimba

Rumah Jompo, Panti wredha, atau apapun sebutan halus atau kerennya, tetaplah sebuah bangunan yang menggambarkan manifestasi keteransingan bagi sebagian orang yang sudah berumur. Walaupun anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar.Mungkin karena kebanyakan dari mereka bernasib serupa. Dijauhkan dari kehangatan sebuah keluarga. Dan tidak punya pilihan.

Memilih atau karena mungkin juga dipaksa memilih, untuk menghabiskan sisa usia pada sebuah tempat yang seluruh penghuninya kecuali pengurusnya tentu saja, adalah para manusia yang telah renta termakan jaman. Umur mereka rata-rata 60 tahun keatas, dengan ciri fisik  secara umum adalah: tulang belakang yang mulai melengkung, kulit penuh lipatan, gigi yang tak lengkap, rambut memutih rata, mata yang lamur dan ada beberapa yang malah sudah pikun.

Begitulah...ironis memang. Saat usia tak lagi gagah, seolah orang tak memiliki wewenang atas kepemilikan tubuhnya sendiri. Tak bisa lagi bisa memilih apa yang mau dan tidak dimaui, apa yang disuka dan tidak disukai. Ada orang-orang yang jauh lebih bersemangat, lebih berenergi, penuh potensi, berumur jauh lebih muda, yang melakukan sesuatu untuk mereka. Dan mereka harus menerima, entah dengan senang hati atau gundah gulana.Sungguh perasaan mereka tak lagi diperhitungkan.

Yayasan Panti Wredha Kasih Insani....tidaklah sulit menemukannya. Berlokasi di jalan utama tak jauh dari pusat kota. Gedungnya besar dan beraksitektur kolonial Belanda. Pintu dan jendelanya besar dan lebar-lebar.Gedung tua itu benar-benar mewakili image penghuninya yang juga sudah  dirajam usia.

Tapi sungguh! letak dan arsitektur rumah panti itu jauh dari kesan keterasingan. Pusat kota, rindang, teduh, hijau dan nyaman, begitulah tergambar sempurna saat  langkah kaki memasuki lahan yang luasnya hampir 1200m2.Dipagari oleh pohon akasia dan halaman yang dipenuhi berbagai tanaman buah rindang. Rumput jepang dan batu koral yang menghiasi tanah dengan rapi justru membuat keberadaan panti jompo itu lebih mirip villa atau tempat peristirahatan yang sangat menentramkan jiwa.Samasekali tidak ada kesan asing dan terabaikan.

Ini kali ke-3. Laki-laki tegap berkacamata itu berkunjung. Dia mulai terbiasa dan beradaptasi dengan lingkungan panti. Tidak canggung dia menyapa tukang kebun yang sedang merapikan rumput, dan kemudian meneruskan langkah menuju ruang tamu.Sebuah tas plastik hitam berisi buah-buahan sebagai oleh-oleh tergenggam ditangan kanan dan semua itu segera diserahkan dengan senyum mengembang pada pengurus panti. Pengurus pantipun dengan senang hati mengantarnya ke sebuah kamar yang terletak di paling ujung dan belakang menghadap ke taman belakang yang rindang.

Kamar itu selalu sunyi. Sesunyi penghuninya yang sepertinya sudah tidak peduli lagi akan hidup atau harus bertahan. Hidup bagi wanita  kurang dari 70 tahun itu adalah kurungan penuh  sepi, sejak 3 anak lelakinya memutuskan melemparnya ke rumah bagi para manusia tak berguna (begitu ia beranggapan terhadap panti jompo). Walaupun di panti ini semua penghuni bersikap ramah dan bersahabat, juga pengurusnya begitu sabar melayaninya, tapi kehangatan rumah dan perhatian anak-anak kandungnya,  tak mungkin bisa tergantikan dengan semua itu. Dan itu yang membuatnya sakit dan tercampakkan.

Anak-anak adalah hidupnya. Seperti oksigen segar bagi paru-paru dan aliran darahnya. Alasannya untuk hidup dan layak disebut sebagai ibu. Kekuatannya saat segalanya tak mampu menopangnya untuk terus percaya pada hidup. mata ketiga arjunanyalah yang membuat api semangatnya terus berkobar.Lalu,  bagaimana mungkin, saat dirinya telah tua renta tak berguna, ia dipaksa harus menghitung sisa umur di penjara mewah bernama panti wredha? Dipisah jauh dengan sengaja dari anak-anak dan cucu-cucu yang adalah alasan terpenting dia masih ada di dunia ini? Ini Pembunuhan berencana!!Ini pelecehan terdahsyat atas Kasih agung yang pernah diberikankan tanpa pamrih dari sosok manusia bernama ibu. Dan Ibu Tinah begitulah ia disapa, tak pernah habis mencerna pikirannya, "inikah balasan atas cinta kasih ku selama ini????" Hatinya hancur.

Kehidupan terberat bukan saat Bu Tinah harus bekerja keras memeras keringat demi menghidupi ke3 buah hatinya, saat sang suami pergi meninggalkannya karena perempuan lain. Kehidupan terpahit bukan saat Bu Tinah menghadapi cobaan demi cobaan seorang diri, hanya agar anak-anak mendapat pendidikan yang terbaik yang bisa diberikannya. Bukan!Semua itu mampu ditanggungnya. Tapi sungguh hancur hatinya melihat anak-anak itu memutuskan menaruhnya di pembuangan bagi orang-orang tua tak berguna ini. Terpuruk bersama rekan jompo lainnya. Teringat ketika tangannya menggapai memanggil nama si bungsu, memohon belas kasihannya untuk tidak meninggalkannya disana....tapi mereka, ke3 anaknya, tetap melangkahkan kaki dan pergi. Pahit......sakit.....rasa itu sepertinya tak bisa hilang dari hatinya.

Pintu kamar dibuka dengan hati-hati,"Siang bu Tinah...ada tamu spesial buat ibu" petugas panti masuk dan menyapa. "Mas Rimba datang ni bu....bawa oleh-oleh lagi, khusus dibawa untuk makan siang berdua dengan ibu"
Orang yang dipanggil Rimba, langsung menghampiri dan mencium tangan  bu Tinah yang segera tersenyum senang menerima kedatangannya. Sejak menjadi penghuni panti selama 1 tahun, kedatangan Rimba adalah saat yang sangat menghibur dan dinanti-nanti.

Rimba bukan siapa-siapa. Tidak ada pertalian keluarga. Bu Tinah tidak mengenal nya sama sekali. Tapi ini sudah kali ke-3 dia datang berkunjung selama sebulan terakhir .Dia menemukan Panti ini dengan tidak sengaja sebulan lalu karena nyasar tidak menemukan alamat yang sedang dicari. Dan pertemuannya dengan Rimba dianggapnya sebagai kado termanis dari Tuhan. Saatnya mencicipi rasa lain selain kepahitan.

Rimba  sangat baik. Sopan dan hangat. Setiap kali berkunjung, yang dicarinya adalah Bu Tinah. Selalu Bu Tinah. Walaupun semua penghuni panti pastilah senang menyambut kedatangan Rimba, karena pemuda itu selalu datang dengan membawa oleh-oleh bagi pengurus dan semua penghuni panti. Tapi mereka semua tahu, Rimba datang special untuk bu Tinah.

 Bu Tinah pun tak pernah mempertanyakan asal usul anak itu.Siapa orangtuanya, darimana asalnya, bagaimana keluarganya?, mengapa belum menikah di usia 35thn? .Mengapa selalu datang sendiri?dll.Baginya cukup tahu bahwa Rimba bekerja di sebuah  Harian Umum lokal,   entah divisi apa, atau bagian apa....itu tidak penting! Pada diri Rimba, Bu Tinah melihat  sosok anak-anaknya. Jadi, kalau Rimba mau meluangkan waktu untuk menjenguk saja itu sudah sangat disyukurinya.

Kunjungan ke-4, ke-5, ke-6 dan seterusnya dan seterusnya. Bu Tinah tak perlu menghitungnya. Hampir setiap minggu. Kadang 2 kali seminggu. Tidak ada yang keberatan. Bahkan kalau bisa dan boleh, dia ingin Rimba selalu disampingnya. Bu Tinah selalu penuh perhatian  mendengar laki-laki itu curhat, memperhatikannya bicara, atau hanya duduk berjam-jam menikmati udara malam yang dingin. Bicara atau diam saja bagi bu Tinah sama asyiknya. Diam baginya  adalah bicara tanpa kata-kata, tetap indah, tetap bermakna. Ikatan antara mereka semakin dalam. Semakin kuat...setidaknya itulah yang dirasakan Ibu Tinah.

Suatu senja, ditempat yang sama seperti kemarin-kemarin. Tempat keduanya biasa, berbincang. Rimba mengajukan sebuah pertanyaan yang tak biasa.

"Didunia ini, apakah yang paling ibu takutkan?"

Bu Tinah tertegun,memandang wajah Rimba dalam-dalam. Tak langsung menjawab. Matanya menerawang jauh, teringat tangannya yang menggapai saat bungsunya meninggalkan dia di panti jompo ini. Jerit tangisnya mirip anak balita ditinggal ibunya saat pertama kali masuk sekolah Taman kanak-kanak, tapi tetap tak digubris ke-3 anaknya. Masih lekat dikepala adegan dramatis itu. Dan jujur saja hatinya masih sakit.

"Ibu  takut ditinggal sendirian,nak. ibu masih trauma dengan kejadian 1 tahun yang lalu. Kehilangan orang-orang yang kita sayangi adalah hal paling menakutkan dalam kehidupan ibu. Rasanya dunia berubah gelap. Tidak berarti lagi. Mungkin kematian jauh lebih melegakan daripada harus menempuh kehidupan dalam kesendirian seperti ini" 

"Tenang Bu Tinah,...."Rimba menggenggam tangan bu Tinah erat. "Masih ada Rimba"
suaranya berusaha menenangkan bu Tinah.

                                                           ----
Hari ini ulang tahun Bu Tinah yang ke 70 tahun. Dua hari yang lalu Rimba menelepon dan memberi tahu bahwa ia akan menjemput Bu Tinah dan memberinya sebuah kejutan.Dia menunggu anak itu sudah sedari siang. Tidak sabar, kira-kira kejutan apa yang akan diberikan kepadanya?

Tepat jam 5 sore, Rimba datang dengan mobil  Toyota  Avansa produksi 10 tahun lalu. Tanpa membuang waktu, ia menggandeng bu Tinah menuju kendaraan dan segera meluncur perlahan menuju sebuah tempat tujuan. Sebuah tempat penuh kejutan.

Mereka sudah berkendara selama 25 menit dalam diam. Bu Tinah melirik Rimba. laki-laki itu hanya diam saja. Sorot matanya tajam menatap lurus ke arah jalanan. Bu Tinah memperhatikan perlahan penampilan lelaki disampingnya itu. Ini bukan penampilan Rimba yang biasa. Kurang rapi, sepertinya belum mandi. Ada bulu-bulu kasar yang baru saja tumbuh disekitar dagu dan diatas bibirnya. "Lupakah ia bercukur?Apakah ia belum mandi? Bukankah hari ini sudah ada kesepakatan untuk merayakan ulangtahunku, seperti janjinya 2 hari lalu?" gumam bu Tinah pelan. Tapi ia sungkan menanyakannya.

Hampir 1 jam berkendara. Tujuan belum jelas juga. Mau kemana ini? Ia memberanikan diri bertanya.
"Nak Rimba......kita akan kemana? Lama sekali perjalanannya....kok ga sampai-sampai ya?"
Tapi pertanyaan itu tidak mendapat respon apa-apa. Rimba hanya menoleh dan menatapnya selama 5 detik. Lalu kembali berkonsentrasi pada perjalanan. Aneh sekali. Ini benar-benar bukan pribadi Rimba yang dia tau selama ini. Matanya yang tajam lekat menatapnya, seperti menyembunyikan sesuatu.

Langit sudah gelap. Jalanan sepi. Bu Tinah merasa matanya mulai berat.Beberapa saat kemudian, ia mulai pulas terlelap. Saat terbangun ia sudah berada di sebuah ruangan berdinding putih, berukuran 4x4m. Terang sekali dan  luas karena tak ada satupun perabot kecuali sebuah kursi dan meja. Didinding dibelakang meja, tampak sebuah pigura besar, tapi tak jelas apa gambarnya karena mata bu Tinah sudah tak jelas melihat tanpa menggunakan kacamata.Dan sebuah jam dinding bulat, yang bunyi jarum detiknya bisa terdengar jelas. Pukul 9 malam. Ia sendirian. Dimana Rimba? Mengapa ia bisa sampai di ruangan ini? Mengapa tiba-tiba jantungnya berdegup begitu kencang. Bu Tinah mulai takut. Dengan hati-hati ia menuju pintu, dan mulai membukanya. Tidak bisa. Terkunci dari luar. Ini tidak beres.....Ia mulai berteriak memanggil "Rimbaaaaa......."................."Rimba.................!! Tolong buka pintunya, Nak."

Tidak ada jawaban selain kesunyian. Ia benar-benar khawatir. Jelas-jelas ini bukan kejutan yang ia harapkan. Sekuat tenaga dipukulnya pintu kayu itu berkali-kali. Tetap tidak ada respon. Ia bisa merasakan bunyi jantungnya berdegup. Badannya lemas. Buru-buru ia menuju tempat duduk yang hanya satu diruangan itu. Mengambil nafas dalam dan berusaha tenang. "Rimba ....dimana kamu, nak? mengapa ibu kau tinggal sendirian? " Bu Tinah membathin...atau apakah Rimba sedang pergi membeli makan malam? ahh tidak mungkin.  Ini sudah lewat waktu makan malam. Kemana anak itu sebenarnya?

 Bu Tinah memandang pigura didinding belakang meja. Tergantung tak begitu tinggi. Dengan berjalan perlahan didekatinya bingkai kaca itu. Ukurannya cukup besar. Dari jauh tak begitu jelas gambar apa yang terpampang didalamnya. Tetapi setelah didekati dan memasang kacamatanya, Bu Tinah bisa melihat dengan sangat jelas. Itu bukan gambar. Itu kumpulan berita, yang digunting dari koran. Dan diatasnya ada sebuah tulisan tangan hitam tebal dan rapi. Semua Ibu Harus Bertanggung-Jawab!!!Didalam pigura itu tertempel potongan berita dari beberapa  harian lokal tentang seorang bayi laki-laki yang dibuang di sebuah selokan yang tidak berair. Diletakkan dalam kardus mie instan dengan hanya dibungkus kain gendongan. Tubuh bayi masih penuh darah dengan tali pusar yang menempel. Diperkirakan umurnya baru 2jam. Beruntung seorang pemulung menemukannya dan segera memberitahukan warga setempat.Dugaan penyelidikan sementara, bayi itu merupakan hasil hubungan gelap. Tertulis, tanggal terbitnya: Rabu, 13 September 1975.Kejadian 35 tahun silam!

Dibawah kliping koran tentang bayi malang itu. Tertempel beberapa wajah tua. Semua nya wanita. Satu, dua, tiga,.......sembilan. Semua beritanya sama. Berita tentang kehilangan. Kejadian terakhir, disebutkan 10 Oktober 2009. Tepat hari ini, satu tahun yang lalu.

Bu Tinah menahan nafas. Tapi sejujurnya ia tak sanggup bernafas. Tubuhnya gemetar dan limbung sehingga ia harus memegang erat ujung meja. Apakah ini suatu kebetulan? Hari lahir Rimba juga 13 September. Umurnya genap 35 tahun. Dia tidak pernah bercerita tentang orangtua, keluarga dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pribadinya kecuali pekerjaan.
"Mungkinkah bayi itu Rimba? Apakah semua perempuan yang hilang itu berhubungan dengan nya?"Bulu kuduk bu Tinah berdiri.

Tiba-tiba suara kunci pintu yang dibuka terdengar  keras dan  mengagetkan bu Tinah. Dengan tergesa ia menghampiri kursi, duduk dengan cepat  dan berusaha menenangkan diri. Rimba masuk. Ia melangkah, didekatinya Bu Tinah. Wajahnya dingin. Beku. Tidak ada senyum dan kehangatan seperti yang selama ini ada. Ditangannya tergenggam sebuah bangku plastik yang diletakkan persis didepan Bu Tinah. Rimba duduk. Mereka berhadap-hadapan. Mereka sama-sama tegang.

"Ada apa dengan semua ini, Rimba?Ibu tidak mengerti. Tolong kembalikan ibu segera ke panti. Mereka semua pasti cemas. "Ibu Tina memohon dengan sangat. Airmatanya menggenang. Tapi Rimba seolah tak mendengar.

"Ibu pasti masih ingat. Suatu sore, saya pernah bertanya. Apa yang paling ibu takutkan didunia ini. Ibu menjawab, bila ibu ditinggalkan sendirian." "masih ingat, bu??!Rimba mempertegas pertanyaannya.

"Tapi ibu tidak pernah  bertanya, apa yang saya takutkan, bukan?" mata Rimba menatap dalam kepada bu Tinah. Perempuan tua itu hanya menunduk putus asa. "Ketakutan kita sama, bu. Tapi apa yang saya alami jauh lebih hina dari pada ibu.! Bukan saja ditinggal sendirian. Saya tak diingini samasekali. Terdepak jauh dari pelukan hangat seorang yang harusnya mengayomi dan memberi saya kasih sayang. Seorang yang disebut  ibu. Seseorang seperti bu Tinah."

"Kau tahu pasti itu bukan aku, Rimba! Aku tak mungkin melakukan perbuatan rendah seperti itu...kau salah...."belum selesai ibu Tinah berbicara, Rimba dengan  kasar berteriak "Aku tidak peduli.....semua ibu harus bertanggung jawab!!!"

"Kalian dianugrahi  rahim bukan untuk berbuat semaunya atas hidup dan nyawa seseorang. Kalau kau menolakku, ibu....mengapa aku tidak bisa menolakmu...kalau kau mencampakkan aku seperti sampah...mengapa aku tidak boleh melakukan hal yang sama?"Rimba mengatakannya dengan sorot mata penuh dendam. Dia tidak peduli wajah tua didepannya itu tampak gemetar ketakutan.

"Kau tahu, ibu....bertahun-tahun aku hidup dalam kesunyian. Bukan seperti dirimu yang sanggup tidur nyenyak diatas kasur empuk dalam kamar yang hangat. Walaupun untuk itu juga kau masih saja mengeluh. Belum lagi, gunjingan dan celaan orang karena aku bayi haram jadah, terbuang seperti sampah, membuat aku sempurna dalam penderitaan. Kau pikir, mengapa aku tidak menikah? Mengapa aku tidak pernah menceritakan tentang orangtuaku? Dengar ya bu...tidak ada seorangpun mau mengadopsi bayi hina sepertiku.. Hasil hubungan gelap. Tidak jelas bapak ibunya. Itu aib besar.Dan kau tahu bu, diusiaku setua ini, tentu saja aku  sangat ingin menikah...tapi wanita baik-baik mana yang bisa menerima keberadaanku dengan masa lalu yang begitu memalukan......??"

"Aku tak pernah meminta hidup kepadamu,ibu!! Tapi kau...kau akan memohon itu dari padaku"hahaha ...hahahaha....Rimba tertawa dengan keras.Dia melampiaskan kemarahan dan kegilaannya kepada Bu Tinah seolah-olah dia adalah ibu kandung yang telah membuangnya.

Ibu Tinah mulai menangis...."Tolong kembalikan aku, nak.....aku bukan ibumu, aku bukan ibumu"
Tapi Rimba tak ambil pusing....."Semua ibu harus membayar penderitaanku....Kau dengar?????semua ibu harus bertanggung jawab karena sudah membuangku. Semuaaaannnyaaa...termasuk dirimu!!!Kalian tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari hukumku! hukum Rimba!" dia berteriak sambil tertawa-tawa. Tangisan bu Tinah semakin keras. Tapi semakin ia menangis dan berteriak, Rimba semakin senang dan lebih keras tertawa. sakit Jiwa!!

Lalu dipaksanya bu Tinah duduk dan mengikat tangannya dengan seutas tali tambang. Tak sanggup ia meronta, tubuh tuanya tak bertenaga. Akhirnya bu Tinah hanya bisa pasrah.

Jam di dinding menunjuk pada pukul 3.00 dini hari. Bu Tinah sudah terikat lebih dari 3 jam di kursi ini. Ya Tuhan, apa yang akan dilakukan anak ini kepadaku? gumamnya lemah. Terbayang ke-3 anaknya. Terbayang pengurus dan teman-temannya di panti. Seandainya anak-anakku tak memasukkanku di panti itu hanya karena mereka tak mau direpotkan olehku, mungkin kejadian ini tak akan terjadi, mungkin dia tidak pernah akan mengenal lelaki gila dan psyco seperti Rimba. Perlahan airmatanya menetes.

Ada kesamaan antara Bu Tinah dan Rimba. Mereka sama-sama tak diinginkan. Terdepak dari kehidupan tenang dan damai yang seharusnya dijalani. Bedanya, Rimba telah memulai jauh lebih dulu saat nafas hidup pertama kali ditawarkan kepadanya."Dan kalau aku?", bisik hatinya, "kalaupun harus menemui ajal dengan cara demikian, apa bedanya dengan saat di panti?" Toh sebenarnya dia sudah lama mati. Bukankah sejak anak-anak pergi meninggalkannya sendiri di panti jompo itu, dia sudah tak mengingini hidupnya lagi? Lalu apa bedanya bila harus menyelesaikan dengan cara seperti ini??Bu Tinah memejamkan matanya yang basah. Dia berusaha untuk tidak mengingat apa-apa lagi. Tidur...itulah hal yang paling diinginnya saat ini.

                                                               ----

Subuh baru saja menguap saat Rimba melangkah pergi. Pergi menjauh ke arah timur. Matahari hampir terbit saat ia meninggalkan desa itu. Meninggalkan tempat eksekusi yang telah menghilangkan nyawa 9 ibu. Dan ini yang ke-10. Dia bertekad akan kembali lagi tahun depan. Pada tanggal yang sama. Melakukan hal sama. Menegakkan hukumnya: Hukum Rimba!

Sementara dikejauhan suara rintihan Bu Tinah tak lagi terdengar. Dibalik tembok tebal yang mengungkung dan gelap pekat disekelilingnya, Bu Tinah menggumam pelan hampir tak bersuara: "Terimakasih telah mengantarku ke tempat aku dapat menemui kematian" Perlahan ditutupnya matanya...tenang.











1 comment:

  1. dr crita diatas yg aku dpt selain rasa sakit hati yg dialami rimba,atas apa yg dia alami,1 yg ingin ku bagikan bt mba yg nulis...ternyata bynk juga y anak2 yg mulai melupakan apa yg Orangtuax sdh lakukan baginya,khususx IBU, mengandung,merawat,membesarkan,sungguh pengorbanan yg tanpa pamrih dr kasih seorang ibu..hnya anak2 yg tidak tau trimaksih aja yg tega melakukan semua itu...:(,aq berharap aku khusus bs lebih mencintai ortuku,apalagi mama...btw kl bs critax bersambung dong,setidakx si RIMBA di hukum jg ya mba..hehehe,saya bs blajar bynk dr crita ini,dan thx 4 the word...GBU maju trs mba..Tuhan ks talenta yg luar biasa bt mba Vicda..

    ReplyDelete