Tuesday, October 26, 2010

Nama 'Dee'


Entah mengapa aku suka sekali nama  pria yang berakhir dengan suku kata ‘dee’ (baca: di). Dedi, Shandy, Baldi, Wandee, Dandy,  Di…Di…Di… Bersyukurnya, aku selalu dikelilingi oleh nama-nama itu. Guru Bahasa Inggrisku  saat SMA Pak Suhardi. Teman dekat  semasa kuliah, Lourdy. Dan saat ini kepala bagianku yang  gantengnya bikin setiap wanita di kantor meneteskan liurnya, Jourdy!
Apa sih istimewanya sebuah nama yang berakhir dengan suku kata ‘di’ itu?  Aku tak menemukan jawaban pasti. Tapi bagiku, saat seseorang memperkenalkan diri, menyebutkan namanya dan artikulasi ‘di’ itu terdengar ditelingaku, hatiku langsung bergetar. Wajahku sumringah.  Bling..bling bintang-bintang bertaburan dikepalaku….hmmm kuanggap bunyi ‘di’itu laksana  nyanyian merdu yang mampu memesona hatiku. Bukan…lebih dari itu, menyihirku.
Kesukaanku pada pemilik nama berakhiran ‘di’, layaknya sudah harus dilampu merahi, melampaui batas kewajaran, masuk penilaian: memprihatinkan. Bayangkan, aku pernah berlari sekencang-kencangnya mengejar seseorang yang sempat kudengar beberapa menit lalu  memperkenalkan dirinya kepada orang disampingku yang juga sama-sama tidak kukenal, telingaku berdiri bagai radar saat menangkap bunyi ‘di’ diucapkan…..aku mendengarnya sebagai “Waldy……”. Benar, aku mengejarnya….untuk memastikan pendengaranku dalam kondisi yang prima saat kuserap bunyi itu dan ingin sekali aku juga berkenalan. Menambah koleksi teman, kolega, sahabat, relasi atau entah apa sajalah, predikatnya asalkan dia lelaki yang memiliki nama dengan suku kata istimewa ‘di’.
“Hei…Dy…..tunggu….tunggu….”teriakku pada orang yang kuyakin namanya adalah Waldy. Orang itu berhenti berjalan. Menoleh ke arahku. Dan tentu saja berdiri bingung. Aku terengah-engah…berhenti persis di hadapannya. Tersenyum lebar. Sangat senang.
“Hallo Dy..kamu Waldy, bukan? Aku mendengarmu bersalaman dengan seseorang di lorong  dekat lift…”kataku antusias sambil menyorongkan tangan hendak menjabat tangannya. Tapi sepemilik nama yang kuklaim sebagai Waldy itu, memandangku masih dengan pandangan bingungnya.
“Kamu salah dengar, namaku Tobbie……”  katanya tanpa basa-basi, lalu berbalik pergi. Bi…bukannya Di seperti yang tertangkap radar intai telingaku.  Tapi Aku  tak menyesalkan peristiwa itu. Bagiku ‘di’ tetaplah tujuanku berlari-lari, dan kalau pun ternyata bukan, ya sudahlah…walaupun,  tak kusangkal,  wajahnya ganteng bukan main.
Suatu kali, telepon bordering-dering. Dengan sigap kuangkat, karena ternyata semua staff juga sedang dalam kondisi on line.
“Swaradika Advertising, selamat siang”sapa ku ramah kepada siapapun  di seberang sana.
“Selamat siang, tolong pak Jourdy Setiadi….”katanya buru-buru.
“Dari siapa pak?”
“Katakan saja Suhardi ingin bicara” suaranya tegas dan berwibawa. Pasti bukan hendak   menawarkan makan siang. Atau hanya  sekedar menanyakan khabar baik dan bagaimana keadaan keluarga. Tapi tunggu dulu…dia menyebutkan namanya tadi. Suhardi! Tak asing di telinga dan hatiku, bunyi ‘di’ . benar-benar ‘di’..bukan bi, ti, atau si, atau li.
“Tunggu sebentar pak! Bisakah bapak mengulangi nama bapak tadi?”
“Suhardi” ia mengulanginya agak keras.
“Su Har Di….pakai ‘di’ kan, Pak? D I ..’di’, wah nama bapak bagus sekali. Saya paling senang mendengar seseorang menyebutkan ‘di’ sebagai suku kata terakhir namanya. Dan nama itu……...”
Aku tidak bisa melanjutkan kata-kataku  karena,    braaaaakkk! Gagang telepon diseberang sana dibanting dengan sangat kasar. Aku melongo. 15 menit kemudian, aku dipanggil Pak Jourdy. Tak perlu detail nya kuceritakan,  karena 30 menit sesudah itu, aku keluar dari ruangannya dengan muka merah padam. Surat peringatan pertama. Pak Suhardi, lelaki yang nama ‘di’nya kukagumi itu, ternyata Vice President  Swaradika Advertising, dan kurang lebih sejam yang lalu ia sedang dalam kondisi  sangat sangat serius, tidak mau diganggu, tidak ingin basa-basi dan sangat tidak ingin bercanda. Ck ck ck…matilah aku.
                                                  ***

“Mungkin ini karma, nak”begitu kata ibu. Ia bercerita saat dulu masih muda, ia pernah menolak sesorang lelaki yang mati-matian jatuh bangun mencintainya. Laki-laki itu botak, pendek hitam dan satu lagi, saat ia tersenyum, kumisnya yang lebat itu tertarik keatas hingga memperlihatkan barisan gigi geligi yang…..rasanya kurang pantas bila aku menuliskannya. Sudahlah! Intinya ibuku menolaknya mentah-mentah. Mungkin jiwa muda ibu merasa sedikit terusik…karena si bapak gemuk pendek dan hitam itu berani-beraninya tanpa sedikitpun pertimbangan malu dan minder, mencintai ibuku, si kembang desa yang saat itu sedang mekar berkembang.  Dan disinilah  letak karmanya, lelaki yang ditolaknya itu bernama : Ruhadi. Sekali lagi….terdengar ibuku melafalkan ‘di’dengan cukup  terang dan jelas.
Tapi itu masih sebuah kemungkinan. Perekaan, yang belum teruji pasti kebenarannya. Yang jelas, aku tergila-gila pada akhiran ‘di’yang melekat pada sebuah nama lelaki. Aku bukan seperti ibu. Mungkin bila saat itu aku jadi ibu, aku pasti akan senang sekali menyadari ada seorang ‘di’yang mencintaiku, walaupun fisik dan penampilannya pastilah akan membuatku mengejang, mirip orang hendak bersalin. Sengsara…itu maksudku.
Jadi , fisik bukanlah hal utama aku menerima seorang  lelaki untuk berada disekitar kehidupanku. Menjadi teman dekatku, teman ngobrolku, teman curhatku, teman belanjaku, teman cafeku, kakak angkatku, paman angkatku, atau kekasih dan bisa jadi suamiku. Yang penting bagiku adalah dia, si lelaki itu harus memiliki ‘di’sebagai suku kata terakhir dalam namanya. Hanya itu syaratnya. Hanya sesimpel itu.
                                                  ***

Dia, lelaki itu,  mengejarku. Persis seperti aku mengejar seorang yang kukira bernama Waldy. Dia, berlari kencang, sekencang-kencangnya. Jatuh tersungkur, bangun dan berlari kembali. Jatuh bangun ..tapi tak pernah berhenti berlari. Sementara aku, hanya beku.Acuh. bukan sama sekali tak menarik. Justru sama sekali tak jelek. Beberapa temanku malah menyetarakannya dengan salah satu bintang film korea. So Ji Seob, ufhht…susah betul mengejanya. Wajahnya yang oriental, penampilannya yang menarik, kehadirannya terasa sekali karena wangi tubuhnya yang semerbak saat dia datang , aku menduga setiap hari dia berendam di bathtub yang penuh dengan segala macam bunga dan rempah. Juga yang semakin membuat teman-temanku hampir pingsan  adalah, 2009 Alfa Romeo 8C .Merah membelalak! persis mata teman-temanku, adalah ‘tumpangannya’yang sengaja diparkir tepat didepan pintu masuk ruang tunggu kantorku. Lelaki ini sungguh serius pamer kesuksesan.
Pertanyaannya , adakah yang kurang dari si So Ji Seob ini? Tentu saja hampir tidak ada. Hanya, …yaaaa itu dia, ibu dan ayahku, teman-teman dekatku tahu betul, dia tidak punya nama belakang berakhiran ‘di’. Namanya sangat amerika. Berbau merk sepatu ternama. Keith Charles Aryawinata. Dia bukan ‘di’ku. Bahkan seujung bunyipun tak ada unsur ‘di’. Dan itu yang membuatnya sangat kurang dimataku. Ditelingaku.
                                                                              
                                                    ***

Akhirnya aku bersanding juga.Menikah.  Dengan seseorang. Bukan dengan Keith. Si tampan bintang Korea itu, lama-lama kecapean dengan sikapku yang tak lumer-lumer. Akhirnya dia mundur dan memilih salah seorang temanku yang memang sudah lama mengincarnya. Cintaku akhirnya meleleh di hati seorang lelaki matang segala. Umurnya matang, demikian juga dengan karir dan wajahnya. Kalau So Ji ehh Keith maksudku, mengejarku jatuh bangun hanya 3 bulan, si pria matang segala ini mengejarku 3 tahun 3 bulan  lebih 3 hari, tanpa lelah dan sangat tekun. Aku benar-benar meleleh dan melebur dibuatnya. Akhirnya aku menyerah, pada prinsip yang hampir seumur hidupku kupegang erat. Aku melepaskannya demi sebuah ketekunan dan perjuangan cinta yang tak kenal putus asa. Aku berdamai dengan hati dan telingaku terhadap sebuah kenyataan bahwa pria yang kupilih menjadi orang nomer satu di hidupku ini ternyata bukanlah lelaki yang memiliki nama dengan akhiran kesayanganku ‘di’. Itu artinya aku harus sudah siap untuk tidak lagi mengagungkan pria bersuku kata akhir ‘di’lagi. Dan memang itulah keputusanku. Semua itu karena dia. Namanya Amaluddin. Memang agak sedikit bernuansa pedesaan. Tapi tak apalah, mengingat usahanya yang tak pantang menyerah untuk mendapatkanku, lagipula…seandainya huruf ‘N’tak ada, pastilah dia masuk kualifikasi.
Malam itu, dibawah terang purnama, kami duduk berpelukan.   Angin bertiup semilir, sayup sekali. Langit bagaikan kanvas maha luas yang dilukisi jutaan cahaya bintang. Suasana puitis yang menghanyutkan aku untuk bertanya satu pertanyaan penting yang selama ini mengganjal di hatiku.
“Mas….”bisikku manja.
“Ya sayang?”…tangannya semakin erat dirangkulkan ke pinggangku.
“Katakan jujur padaku, apa yang membuatmu tak pernah menyerah untuk mendapatkan  cintaku, aku menghitungnya. 3 tahun, 3 bulan dan 3 hari, bukanlah waktu yang singkat untuk terus bertahan, tanpa sedikitpun respon baik dariku…”
Suamiku tersenyum. Lama sekali dia memandangku.
“Aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita berkenalan. Sejak kita bertemu 3 tahun yang lalu. Dan sejak itu aku bertekad sungguh untuk mendapatkanmu. Berjuang dengan segala cara untuk menaklukkan hatimu. Aku tak pusing dan tak ambil peduli dengan sikapmu yang dingin, cuek, berlagak tidak membutuhkan cinta.”
“Ia mas…itulah yang aku kagum darimu…tapi boleh kah aku tahu mengapa  bisa demikian? Apakah itu yang namanya kekuatan cinta?” Tanya ku terus mendesaknya.
“Sayang….dari kecil, entah kenapa aku suka wanita yang memiliki nama berakhir dengan suku kata ‘ti’. Luar biasa indah di telingaku. “ Ia terus berbicara dengan antusias.
“ Dan tahukah kau sayang, saat kau jabat tanganku, aku mendengar bunyi ‘ti’di akhir kata engkau mengucapkan namamu…hatiku bergetar…aku tersihir…terpana…aku berpikir, engkau wanita ‘ti’yang kucari selama ini….”
“Kau tahu…”katanya memegang wajahku dengan kedua belah tangannya..matanya berbinar-binar.
”Namamu, Astuti Arty Widiarti….bayangkan, sayang…diusiaku yang matang ini, dan setelah pencarian yang begitu panjang dan melelahkan jiwa, cinta tak saja memberiku 1 kebahagiaan, bukan juga double, tapi sekaligus triple…ini luar biasa…kalau kau memperpanjang waktu ketidakpedulianmu padaku pun, aku dengan rela akan terus menanti…berjuang hingga titik darah penghabisan”

Haaaaaahhhh?????? Mendengar itu aku terbelalak.  Diam, melongo....hanya melongo.....



1 comment: